Extensometer, Sang Pendeteksi Tanah Longsor

Kehidupan manusia tak terlepas dari sebuah bencana, salah satunya adalah tanah longsor. Bencana ini sering terjadi di Indonesia seperti di ...



Kehidupan manusia tak terlepas dari sebuah bencana, salah satunya adalah tanah longsor. Bencana ini sering terjadi di Indonesia seperti di daerah pegunungan, lereng-lereng, dan daerah lain yang rawan terjadi tanah longsor. Salah satu penyebab bencana ini adalah kegiatan pembangunan yang kurang berwawasan ­ling­­­­­­­k­ungan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap bencana pasti menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) mengembangkan teknologi pendeteksi tanah longsor.


Teknologi ini dikembangkan oleh tim Fisika Instrumentasi. Anggota tim terdiri dari Dainty A. dan Lisnawati (Mahasiswa Jurusan Fisika), Gurum A.P., Sri Wahyu S., dan Warsito (Dosen Jurusan Fisika).

Pengembangan teknologi ini berawal dari mahasiswa yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Di sanalah terdapat sistem pendeteksi tanah longsor. Tim Fisika mencoba mengembangkan alat pendeteksi tersebut menggunakan teknologi yang sama dengan melakukan beberapa perbaikan se­perti pada sistem perekaman datanya.

Extensometer, begitu alat pendeteksi tanah longsor ini disebut. Alat pendeteksi ini mempunyai sensor yang mampu untuk mengidentifikasi adanya pergerakan tanah dalam orde milimeter secara terus-menerus pada suatu daerah. Sistem sensor ini direalisasikan menggunakan potensiometer multiturm dengan sistem akuisisi (perolehan) data pada komputer.
Selain itu, juga dilengkapi dengan data logger Micro SD yang digunakan untuk m­engantisipasi terjadinya gangguan pada komunikasi serial komputer sehingga data pergeseran tanah tetap terjaga.

Manfaat alat pendeteksi ini adalah untuk me-monitoring permukaan tanah pada daerah rawan longsor. Selain itu, sebagai sistem peringatan dini pada daerah lereng yang padat penduduk. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mampu menyiapkan dan meng­operasikan seperangkat peralatan sederhana ini untuk mengurangi resiko kerugian.

“Kebetulan teknologi ini mendapat juara dua di tingkat provinsi pada perlombaan teknologi tepat guna yang diadakan oleh Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah) provinsi Lampung,” jelas Warsito, DEA. ketika ditemui di ruangannya, Rabu (6/3).

Extensometer memiliki beberapa keunggulan mulai dari biayanya yang murah, presisi (ketepatan) dan akurasi tinggi, pemasangan dan perawatan sederhana, ramah lingkungan, sumber satu daya berasal dari baterai, dan dapat dilengkapi sistem sirine dan WEB.

Selain itu, juga dilengkapi oleh beberapa fitur diantaranya bersifat ringan dan portabel, desain sensor dilengkapi dengan pegas pembalik, dilengkapi dengan sistem perekaman data, serta sistem transmisi (pengiriman) data ke komputer menggunakan komunikasi serial USB.

Teknologi ini masih dipercobakan dalam skala laboratorium, belum diuji coba langsung ke daerah yang rentan tanah longsor.

Menurut Warsito, kendala utamanya adalah kurangnya dana, sedangkan dalam pembuatan teknologi ini membutuhkan dana berkisar 15 juta rupiah. Beruntung proposal terkait dengan teknologi ini sudah diterima di Jakarta dan tinggal menunggu dana turun. Setelah itu, dapat dikembangkan dengan sistem deteksi dini bencana dengan sistem online dan real time berbasis sistem internet sehingga dapat dikembangkan dengan sistem berbasis Short Message Service (SMS) gateway.

Warsito menambahkan bahwa hambatan terbesar dalam penggunaan teknologi ini adalah penggunaan sistem yang sifatnya mekanis. Contohnya, penggunaan tali yang terhubung dengan sensor. Respon akan terganggu ketika tali ini diinstal di lapangan di daerah yang rentan tanah longsor jika ada hewan, batu, atau benda lain yang menggeser tali tersebut. Oleh karena itu, teknologi ini akan dikembangkan dengan menggunakanan sistem gelombang ultrasonik sehingga data yang didapat lebih akurat karena menggunakan g­elombang sinyal. (Estu/Wulan/Aldino).

Related

Berita Kampus 1877248365938621377

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item