KWI Dahulu, Beasiswa Kemudian

“Seperti lampu merah, wajibnya lampu merah itu kan berhenti. Itu jika mau selamat. Tetapi kalau tidak mau selamat, silakan diterabas saja, b...

“Seperti lampu merah, wajibnya lampu merah itu kan berhenti. Itu jika mau selamat. Tetapi kalau tidak mau selamat, silakan diterabas saja, begitulah KWI. Jika kalian (mahasiswa) ingin mendapatkan beasiswa, maka wajib mengikuti kegiatan KWI. Tetapi jika tidak ingin mendapatkan beasiswa, silakan saja tidak mengikuti kegiatan ini,” ujar Ahmad Sulaiman selaku Gubernur BEM FMIPA, Jumat (1/3).



Mulai tahun 2013 ini, pihak dekanat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) memberlakukan syarat wajib untuk melampirkan sertifikat KWI (Karya Wisata Ilmiah) bagi mahasiswa yang ingin mendapatkan beasiswa. ­Me­­n­­gingat kegiatan ini merupakan salah satu sarana untuk pembentukan karakter mahasiswa, maka terbentuk kerjasama antara pihak BEM dan Dekanat untuk mewajibkan kegiatan ini.

“Semua mahasiswa yang ingin mendapatkan beasiswa wajib mengikuti kegiatan ini. Kalau tidak mengikuti KWI, ya tidak usah mengajukan beasiswa,” ujar Prof. Suharso, Ph.D. selaku Dekan FMIPA Unila saat ditemui diruangannya, Jumat (1/3).

Selain sebagai sarana pembentukan karakter,  kegiatan KWI ini juga dapat mengembangkan potensi jati diri mahasiswa baru dan juga bentuk pengabdian terhadap masyarakat yang merupakan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi.

“Kebanggaan mahasiswa terlalu berlebihan karena sudah diterima di Unila. Untuk itu, diharapkan tidak terlalu lama berada dalam euforia tersebut. Karena mahasiswa baru mempunyai tanggung jawab terhadap masyarakat,” terang Sule sapaan akrab Gubernur BEM.

Ternyata, tidak semua mahasiswa FMIPA menyetujui keputusan ini. “Saya tidak setuju kegiatan KWI ini diwajibkan, karena ada orang tua yang melarang anaknya supaya tidak ikut kegiatan ini. Kalau tidak mengikuti KWI kasihan, jadi tidak bisa mendapatkan beasiswa,” tutur Claudiya Cindy Owen mahasiswi Ilmu Komputer 2012, Jumat (1/3).

Hal ini ditanggapi oleh Suharso, bahwa jika memang orang tua tidak mengijinkan anaknya mengikuti kegiatan ini, sebaiknya mahasiswa yang bersangkutan tersebut menyampaikan alasannya kepada panitia ataupun BEM untuk diberikan solusinya.

Sule kembali menjelaskan bahwa diselenggarakannya kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman dan pemahaman terhadap lingkungan sekitar kepada mahasiswa. “Tidak ada niat dari kami untuk menyusahkan mahasiswa baru,” ujarnya.

Mahasiswa Fisika 2009 ini menambahkan jika ada mahasiswa yang tidak diijinkan oleh orangtua karena terkendala dengan biayanya, BEM siap membantu dengan membebaskan biaya dan memberikan uang saku kepada peserta dengan syarat memberikan surat k­eterangan tidak mampu.

Dengan banyaknya manfaat yang bisa diperoleh dari KWI ini, Gubernur BEM berharap kepada para mahasiswa yang masih ragu-ragu  mengikuti kegiatan ini, untuk lebih mempertimbangkan lagi pilihan mereka. Dan juga mengingatkan kepada mahasiswa untuk tidak terpengaruh dengan isu-isu dari orang-orang yang tidak betanggung jawab, yang hanya akan membuat mereka rugi karena tidak bisa mendapatkan beasiswa.

“Kalian mahasiswa, kalian harus berpikir secara kritis. Jika masalahnya uang atau sakit kami mempunyai solusinya. Tetapi jika yang menjadi masalah itu malas, kami tidak ada solusinya,” tegas mahasiswa semester 8 ini diakhir wawancara. (Nafilata/Umi/Anes)

Related

Berita Kampus 1221380611043301386

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item