Organisasi : Kontribusi atau Eksistensi ?

Oleh M.Syahril Edi Nasution (Kepala Departemen PSDM BEM FMIPA Periode 2011-2012) Adalah reformasi tahun 1998 yang menjadi awal kebangkit...


Oleh M.Syahril Edi Nasution (Kepala Departemen PSDM BEM FMIPA Periode 2011-2012)


Adalah reformasi tahun 1998 yang menjadi awal kebangkitan dunia kampus. Khususnya bagian organisasi kampus. Berkat perjuangan para pahlawan reformasilah sehingga kita para aktivis kampus dengan leluasa mengembangkan bakat dan potensi kita. Beberapa hasil perjuangan di era reformasi yang dapat kita lihat hari ini diantaranya adalah BEM dan DPM yang sebelumnya dikenal dengan sebutan dewan mahasiswa. Kemudian kedua lembaga ini sering diistilahkan dengan student government atau pemerintahan kampus. Sebuah replikasi dari pemerintahan yang sebenarnya. Sejatinya lembaga-lembaga di tingkat universitas didesain untuk menjadikan mahasiswa tidak terkurung lagi dengan aktivitas yang monoton, organisasi didesain untuk mahasiswa mengembangkan potensi diri, sarana memperbanyak teman, dan aktualisasi diri sebagai hasil dari pembelajaran yang ia peroleh di bangku kuliah. Lebih khusus bagi lembaga yang tergabung dalam student government mempunyai peran yang lebih besar lagi yakni, menyambung lidah rakyat dari pemerintah ke masyarakat atau sebaliknya dan sebagai kontrol sosial dalam hal IPOLEKSOSBUDHANKAM.

FMIPA Universitas Lampung, fakultas kita tercinta mempunyai lembaga-lembaga organisasi yang saat ini kita pergunakan sebagai tempat mengembangkan minat dan bakat (bagi yang mau). Sampai hari ini ada setidaknya sepuluh organisasi mahasiswa di tingkat fakultas MIPA. Organisasi mahasiswa itu antara lain, bidang pemerintahan kampus ada BEMF dan DPMF, organisasi bidang kerohanian ada Rois FMIPA, bidang pers mahasiswa kita kenal dengan Natural, kemudian bidang keilmuan kita dapat jumpai pada himpunan mahasiswa di tiap-tiap jurusan. Di Biologi ada Himbio, Matematika punya Himatika, Fisika dengan Himafi nya, Kimia ada Himaki, dan tidak ketinggalan jurusan Ilmu komputer dengan HMJ yang baru dibentuk (tahun 2011) yaitu Himakom. Untuk organisasi bidang minat bisa kita jumpai pada klub selam anemon.

Masing-masing organisasi punya wilayahnya sendiri dan masing-masing organisasi tidak boleh mengambil wilayah organisasi lain. Misalnya saja HMJ tidak boleh mengambil wilayah politik yang sudah dipegang BEM dan DPM, begitu juga sebaliknya. Tujuannya agar tercipta keharmonisan dalam penyelenggaraan organisasi. Masing-masing organisasi juga dilarang menyebarkan faham-faham atau doktrin-doktrin yang merusak, provokasi, membenci segolongan, atau bahkan partai politik. Tujuannya agar tercipta kerukunan dan sinergisitas organisasi yang baik di lingkungan kampus FMIPA tercinta.

Hari ini, peran mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sosial sangat ditunggu. Diharapkan mahasiswa mampu memainkan peran yang strategis sebagai bagian dari agent of change, social control dan iron stock. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, aktivis mahasiswa hari ini harus mengerti dengan baik peran dan fungsinya dalam berorganisasi. Realitas di Lapangan Pasca gerakan reformasi 1998 hingga saat ini terjadi adalah aksi-aksi mahasiswa yang terkesan kehilangan comon enemy (musuh bersama). Solidaritas gerakan mahasiswa semakin mencair ke dalam ke-akuan masing-masing. Kampusku, organisasiku, idiologiku, dan keaku-akuan yang lain. Meskipun tidak bisa dipungkiri masih ada beberapa organisasi yang tetap konsisten menjadi corong kepentingan rakyat dengan tetap melakukan aksi-aksi turun ke jalan, tentunya dengan konsep dan kematangan yang baik.

Ironisnya, mencairnya gerakan mahasiwa ke dalam internal kampus tidak menjadikan organisasi mahasiswa dapat tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan social society dan memiliki bargaining posisioning dalam mensikapi kebijakan-kebijakan biokrasi kampus dan mengakomodir aspirasi dan menjadi juru bicara mahasiswa. Kondisi semacam ini semakin diperparah lagi dengan tingkah pola segelintir mahasiswa yang meng-klaim dirinya sebagai ‘Aktivis Kampus’ yang justru menjurus kepada pembenaran atas kecendrungan analisa negatif sebagai mahasiswa lainnya tersebut. Bahkan, sebagian di antaranya cendrung ‘arogan’, merasa paling intelek dengan tidak menghiraukan keberadaan lingkungan sekitarnya.

‘Aktivis Kampus’ seperti ini kerap berbicara soal demokrasi, tapi di saat itu juga cendrung ‘Otoriter’, memaksakan kehendak dan tidak bisa menerima perbedaan dan pendapat yang lain. Membahas ‘revolusi’, tapi tidak diimbangi dengan revolusi akhlak dalam dirinya yang masih jauh dari nilai-nilai fitri. Berdebat tentang konsep ketuhanan namun tak nampak ‘sifat-sifat’ Tuhan dalam dirinya, seperti sifat rahman atapun rahim. Maka kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka tidaklah heran organisasi mahasiswa mengalami degradasi dan dalam skala aksi maupun substansi. Dan hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan kaderisasi menurun drastis baik kualitas maupun kuantitas.

Lalu bagaimana dengan kondisi organisasi di FMIPA hari ini ?

Related

Opini 2824512993324912688

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item