Sarana Fakultas MIPA Kurang Memadai

Toilet di dekat Lembaga Kemahasiswaan (LK) belum berfungsi dengan baik “Dulu sewaktu saya tanya sama tukang yang memperbaikinya, katanya toi...

Toilet di dekat Lembaga Kemahasiswaan (LK) belum berfungsi dengan baik

“Dulu sewaktu saya tanya sama tukang yang memperbaikinya, katanya toilet itu masih bagus dan bisa dipakai. Mana tau saya kalau sekarang malah tidak digunakan. Seharusnya mahasiswalah yang memeliharanya karena memang itu untuk mahasiswa. Masa harus saya yang memeliharanya. Saya dan pegawai di sini kan bukan pembantu kalian.”

Begitulah reaksi Dra. Netti Herawati, M.Sc., Ph.D. selaku Pembantu Dekan II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) saat ditanya mengenai kejelasan prasarana toilet di dekat LK FMIPA Universitas Lampung.

Seringkali mahasiswa yang berada di LK mengeluhkan perihal toilet. “Toilet untuk LK itu sangat perlu, karena kalau sudah kebelet, tidak perlu jauh-jauh,” ujar Ahmad Antoni, selaku Ketua Umum Himatika. 

Menanggapi hal itu, Netti mengatakan bahwa dua toilet di dekat LK itu memang untuk mahasiswa yang sering berada di sekret. Toilet tersebut juga sudah pernah diperbaiki. Dosen Matematika itu terkejut jika sekarang toilet itu sudah tidak bisa digunakan lagi. 
Lain halnya dengan PD II, Ahmad Khairudin Syam selaku Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat toilet itu diperbaiki.  “Setahu saya toilet di dekat LK itu belum pernah diperbaiki. Kalau memang sudah diperbaiki tentunya juga sudah bersih dan siap untuk dipakai,” kata Dia.


Pos Satpam tak kunjung difungsikan

Tidak hanya toilet, pos Satuan Keamanan (Satpam) yang telah dibangun di FMIPA pun hingga kini belum juga difungsikan. Ditemui di ruangannya, Kamis (5/5), Netti mengatakan bahwa satpam FMIPA itu hanya ada dua orang. Satu bekerja pagi sampai sore dan yang satunya lagi bekerja dari sore sampai malam. Menurutnya, kekurangan satpam inilah yang menjadi salah satu penyebab pos satpam belum difungsikan sampai saat ini.  

“Dulu pernah ada dua orang satpam baru namun FMIPA tidak mampu membayar karena mereka pegawai  honorer. Nanti kalau SPP kalian sudah naik baru saya bisa bayar satpam honorer. 100 orang satpam pun bisa,” jelas Netti.

Belum juga difungsikannya pos satpam di FMIPA ini juga karena belum tersedianya tempat parkir yang terpusat. Mengenai hal ini, Netti mengatakan bahwa memang dulu rencananya akan dibuat tempat parkir terpusat untuk mahasiswa FMIPA. Namun, kembali hal ini terkendala masalah dana. Ia berharap dengan adanya UKT (Uang Kuliah Tunggal) bagi mahasiswa baru akan menambah pendapatan fakultas.

Hal senada juga disampaikan Drs. Tugiyono, M.Si., Ph.D. selaku Pembantu Dekan III FMIPA yang mengaku bahwa hal tersebut sampai sekarang belum terealisasikan juga. Menurutnya, karena tempat dan satpam FMIPA masih terbatas, untuk sementara ini mahasiswa diharapkan bisa menjaga sendiri kendaraannya. 

Dalam artian, mahasiswa harus selalu waspada dengan menggunakan pengaman tambahan untuk kendaraan masing-masing. Ia juga menganjurkan kepada mahasiswa untuk memarkirkan kendaraan di sekitar dekanat atau di Balai Bahasa Unila agar keamanannya lebih terjaga. 
“Nggak apalah kita jauh berjalan, yang penting hati tenang karena motor kita aman dari segala kejahataan,” tambah dosen biologi ini.


Bangku rusak yang menjadi masalah

Jika hendak berwudhu di belakang gedung MIPA-T FMIPA, maka akan terlihat pemandangan bangku-bangku yang sudah tak terpakai dibiarkan menumpuk begitu saja. Rumput-rumput sudah memanjang serta selokan yang tampak kotor. 

Esti Putri Cindona, Mahasiswi Ilmu Komputer ini seringkali berwudhu di belakang MIPA-T. Ia mengaku sedikit risih dengan pemandangan yang tampak jorok dan kotor itu. “Ketika selesai berwudhu, kaki saya selalu bentol-bentol di gigit nyamuk. Keadaan di belakang MIPA-T itu sangat memprihatinkan. Kalau hendak dibersihkan pun mungkin terkendala dengan banyaknya bangku-bangku yang menumpuk di sana,” keluhnya.

Netti menjelaskan bahwa bangku-bangku di belakang MIPA-T itu merupakan barang milik negara, maka tidak bisa dengan mudah membuang bangku tersebut. Barang milik negara mempunyai prosedur tersendiri. Jika barang sudah tidak terpakai lagi maka harus membuat surat penghapusan barang terlebih dahulu. Ia mengaku sudah membuat surat penghapusan untuk bangku itu sejak setahun yang lalu, namun dikarenakan gudang rektorat sudah penuh, maka bangku itu tak kunjung diambil.

“Bangku-bangku itu tinggal menunggu dijemput pihak rektorat saja. Saya juga nggak tau kapan pihak rektorat akan mengambilnya. Kalau saya buang sembarangan nanti saya dituduh korupsi,” ungkapnya. (Puja/Sri)


Related

Berita Kampus 7154017810070283450

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item