Pertukaran Mahasiswa, Shandi Akhirnya ke Jepang

Rabu, 18 September 2013 lalu mahasiswa Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) yang p...



Rabu, 18 September 2013 lalu mahasiswa Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) yang pergi ke Jepang dalam rangka pertukaran mahasiswa di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) telah kembali ke Indonesia tepatnya ke Kampus Hijau Unila. 

Dian Shandi Utama, itulah nama lengkapnya. Pria kelahiran Poncowati, 10 September 1988 ini merupakan anak pertama dari pasangan Dedi Yanasurya dan Sariyah. Ia tinggal di Pakuan Ratu, Way Kanan.

Berawal dari keisengannya belajar bahasa Jepang dengan temannya ketika sekolah menengah saat itu akhirnya membuahkan hasil positif. Mahasiswa yang penuh dengan rasa ingin tahu ini secara otodidak belajar huruf hiragana dan katakana dengan temannya hingga timbul satu mimpi untuk pergi ke Jepang. Dan siapa yang menyangka bahwa 2012 lalu, tepatnya Juli, merupakan tahun realisasi mimpi seorang Shandi mewujudkan mimpinya, “Go to Japan”.

Pemuda yang pernah menjabat sebagai Pimpinan Litbangkes Natural tahun 2010/2011 ini sempat meredam keinginannya untuk pergi ke negara matahari terbit itu. Namun, di akhir tahun 2010, Shandi merasakan ada hal lama yang kembali ia rasakan. Keinginan Go to Japan-nya itu seolah muncul ke permukaan setelah beberapa tahun tenggelam. 

Dari obrolan ringan dengan teman-temannya, Shandi mendapat info bimbingan belajar gratis bahasa Jepang. Hal itu membuat Shandi memutuskan bergabung awal tahun 2011. Sejak itu, Shandi mulai mengembangkan ilmu berbahasa Jepang-nya dalam komunitas les gratis bahasa Jepang di Bukit Kemiling Permai (BKP) di kediaman dosen Fakultas Pertanian Dr. Bainah Sari Dewi, S. Hut., M.P. yang piawai berbahasa Jepang karena pernah menempuh Strata 3 (S3) di Jepang. 

Berbekal ilmu hasil belajarnya dengan Bainah, Shandi akhirnya mendaftarkan diri dalam program pertukaran mahasiswa ketika mengetahui Unila mendapatkan surat undangan delegasi dari Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) pada Februari 2011. Unila sendiri telah memiliki Memorandum of Understanding (MoU) dengan Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) Jepang.
Di tengah proses pengumpulan berkas persyaratan, lelaki yang tidak suka melanggar janji ini sempat putus asa dikarenakan kusutnnya mengurus persyaratan yang ada. Belum lagi, beberapa persyaratannya perlu dikirim lewat pos dengan biaya pengiriman yang tidak murah sehingga dia mulai mempertimbangkan biaya tersebut. Namun, Ayahnya dapat membangkitkan kembali keputusasaannya tersebut. “Lanjutkan, jangan tanggung-tanggung. Ibaratnya kalo udah kejebur ya basahin semua jangan setengah-setengah,” ujar Shandi meniru ucapan ayahnya.
Dengan semangat dari keluarga, Shandi akhirnya kukuh melanjutkan perjuangannya. Menurutnya, setiap pencapaian atau mimpi selalu dibarengi dengan konsekuensi tertentu. Ketika ia diharuskan mengorbankan sesuatu asalkan dengan niat yang baik maka akan tetap ia lanjutkan.
Sembari menunggu pengumuman dari Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT) Jepang, Shandi menyelesaikan skripsinya dan mengorbankan salah satu kegiatan bela dirinya yaitu tapak suci. Hingga akhirnya pengumuman dari TUAT Jepang menyatakan bahwa Dian Shandi Utama diterima untuk belajar di sana. Dengan penuh syukur, Shandi merasa lega karena salah satu impiannya terwujud. Ditambah lagi, sebelum keberangkatannya pada 31 September 2012, Shandi telah menyelesaikan skripsi hingga ujian komprehensif.
“Saya berani untuk memilih mimpi ini, karena orang tua memberikan kebebasan dan kepercayaan kepada anak-anaknya dalam memilih apapun, asal baik dan sesuai,” ujarnya.
Dalam pertukaran mahasiswa ke TUAT Jepang, Indonesia mengirimkan 4 mahasiswa dari 20 mahasiswa yang berasal dari 10 negara di Dunia. Indonesia mengirimkan paling banyak dari negara lainnya. Kamboja, Filipina, Vietnam dan Thailand hanya mengirimkan masing-masing 1 mahasiswa. Polandia, Swedia, dan Ghana 2 mahasiswa. China dan Rusia 3 mahasiswa.
Prestasi yang diraih Shandi di TUAT Jepang sangat baik, dari mata kuliah yang diambil semuanya mendapat A, kecuali 1 mata kuliah mendapat S (Excellent).
Dengan pulang membawa ilmu dan guru terbaik yaitu pengalaman, sesampai di Lampung, dia merampungkan perbaikan skripsinya untuk proses cetak skripsi dan menyelesaikan persyaratan wisuda. Dengan penuh rasa syukur dan tidak ingin seperti peribahasa kacang lupa kulitnya, mahasiswa yang murah senyum dan ramah ini ingin menularkan ilmunya mengenai bahasa Jepang kepada adik-adik atau orang yang berminat belajar bahasa Jepang dengan mengajar di tempat lesnya dahulu.
“Saya senang, setelah kurang lebih dari sepuluh tahun bisa diberi kesempatan ke Jepang,” ujar Shandi mengungkapkan kegembiraannya yang juga dapat jalan-jalan menikmati lingkungan di Jepang.
Hal yang paling membuat Shandi terkesan ketika tinggal di Jepang adalah lalu lintas. Keadaan lalu lintas disana teratur, pejalan kaki lebih mendominasi, lalu sepeda, mobil, dan paling sedikit adalah motor. “Kalau di Jepang bisa dihitung yang melanggar aturan. Tapi di Indonesia dapat dihitung berapa orang yang menaati aturan,” tambahnya. Shandi juga berharap lalu lintas atau hukum lainnya di Indonesia bisa seperti itu. Jika dari segi pendidikan, aturannya juga ketat dan dituntut harus tepat waktu dalam hal apapun.
“Teruslah semangat dan jangan menyerah meraih mimpi. Yakinlah, perjuangan yang diniati baik tidak akan sia-sia,” pesan Shandi.

Related

Berita Kampus 5864191085622755637

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item