Mahasiswa Baru, Antara Bertahan atau Pindah

Ketua Umum Rois FMIPA Unila, Ali Akbar Hasibuan. Euforia liburan masih sangat terasa, terutama bagi mahasiswa rantauan. Betapa tidak, libura...

Ketua Umum Rois FMIPA Unila, Ali Akbar Hasibuan.

Euforia liburan masih sangat terasa, terutama bagi mahasiswa rantauan. Betapa tidak, liburan semester ini yang lamanya hampir dua bulan setelah sibuk pontang-panting berjuang menghadapi ujian akhir semester (UAS) dijadikan sebagai ajang pembalasan. Banyak hal yang dilakukan selama dalam liburan, ada yang menggunakan waktu liburan sebagai waktu refreshing, karena sejatinya kebutuhan biomachine manusia salah satunya istirahat, seperti mesin pada umumnya. 


Tubuh manusia juga butuh di-tune up agar lebih baik kinerjanya. Refreshing menjadi pilihan utama dan efektifitas dari refreshing lebih terasa. Ada juga yang memanfaatkan waktu liburan dengan mengasah kemampuan diri dan tak jarang sebagian mahasiswa yang berdomisili di sekitar kampus  memilih untuk mengisi liburannya dengan melakukan persiapan kegiatan-kegiatan keorganisasian.

Liburan semester kali ini merupakan liburan pertama yang dilalui oleh mahasiswa baru (Maba) semenjak resmi jadi mahasiswa sekitar 6 bulan yang lalu dan sudah tentu juga merupakan prosesi UAS pertama yang diikuti. Menjadi mahasiswa setidaknya selama satu semester memberikan pandangan baru bagi mahasiswa baru terkait prosesi dan dunia perkuliahan yang tentunya sangat jauh berbeda dengan dunia abu-abu (SMA), tapi disini saya tidak akan mengulas tentang perbedaan dunia perkulian dan masa sekolah.

Nilai atau Indeks Prestasi (IP) yang diperoleh diakhir perkuliahan pada semester pertama kuliah merupakan sebuah tolak ukur atau acuan utama untuk mengarungi dunia perkuliahan selanjutnya. Banyak yang beranggapan bahwa awal yang baik merupakan hasil yang baik, meskipun itu tidak sepenuhnya benar. Sama halnya dengan kuantitas nilai yang diperoleh pada semester pertama ini.

Dilema, mungkin kata inilah yang sedang menghantui sebagian besar mahasiswa baru dalam mengawali perkuliahan di semester kedua ini. Betapa tidak, desas-desus isu lama atau susahnya kuliah di Fakultas MIPA menjadi momok yang sangat menakutkan. Ditambah lagi prospek atau peluang kerja yang minim pasca lulus dengan mengemban gelar Sarjana Sains. Tetap bertahan atau pindah, menjadi sebuah pilihan yang dilematis ketika dihadapkan dengan pilihan tersebut. Banyak mahasiswa baru yang memilih hengkang alias pindah jurusan maupun universitas dari studi yang digeluti sekarang. Hal seperti ini seakan sudah menjadi trend dan lumrah terutama di fakultas atau jurusan yang menurut orang kebanyakan dipandang sebelah mata. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal seperti ini terjadi antara lain:

1. Merasa tidak nyaman dengan program study yang sedang digeluti
Sebagian besar dari mereka yang keluar merasa tidak nyaman dengan jurusan/program studi yang digeluti, sehingga usaha untuk mencari jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat menjadi penunjang utama. Hal ini memang sudah menjadi naluriyah manusia, karna seseorang tidak akan pernah leluasa bergairah ketika melakukan sesuatu hal yang kurang disenangi.

2. Ingin mendapatkan universitas atau program studi yang bonafite
Hak setiap orang memang mendapatkan dan memperoleh sesuatu hal yang lebih dari apa yang dia miliki sekarang. Hal inilah yang menjadi salah satu motivasi terbesar untuk hijrah ke universitas lain. Mendapatkan universitas terbaik di negeri ini adalah impian dari setiap siswa SMA yang baru lulus. Dengan momen diberikannya kesempatan tiga kali boleh mengikuti  seleksi perguruan tinggi negeri, tidak jarang mahasiswa baru menggunakan kesempatan ini baik hanya sekedar coba-coba maupun serius mengikutinya.

3. Memperoleh IP yang buruk semester pertama
Alasan yang sedikit lucu memang, akan tetapi ini sering kali dilemparkan sebagai alasan untuk pindah jurusan atau universitas. Nilai yang diperoleh pada semester pertama menjadi acuan untuk semester-semester berikutnya. Bagi mereka yang memperoleh Indeks Prestasi yang kurang memuaskan hal ini dianggap sebagai aib, menganggap kedepannya akan sama saja dan serasa ini adalah beban berat yang tidak bisa dipikul lagi sehingga pindah menjadi pilihan yang cukup tepat.

4. Ekonomi yang kurang
Untuk alasan terakhir ini sebenarnya cukup sedikit yang menyatakan karena hampir disetiap kampus tersedia beasiswa yang menjamur mulai dari beasiswa berprestasi sampai beasiswa untuk mahasiswa tidak mampu.

Dari beberapa faktor di atas mengindikasi bahwa proses dinamika perkuliahan diawal semester pertama menunjukkan sebuah kematangan dalam hal mengambil sebuah keputusan, termasuk keputusan untuk pindah program studi atau universitas. Hal ini dirasa dilematis ketika mengingat,  flashback terkait dana, tenaga dan pikiran serta waktu yang dikeluarkan dalam kurun waktu satu semester pertama. Bukan hanya kita selaku subjek yang dirugikan akan tetapi instansi pendidikan seperti fakultas maupun jurusan kita juga akan dirugikan berupa menurunnya akreditasi dan mutu dari instansi pendidikan tersebut. Namun bagi mereka yang sudah mantap dengan pilihanya serta tidak terlalu khawatir tentang kedepannya seperti apa maka mereka akan tetap bertahan dan berusaha berpikir positif serta melakukan hal yang terbaik merupakan solusi yang tepat.

Benang merah yang dapat ditarik dari permasalahan di atas yakni setiap orang mempunyai passion-nya masing-masing, mempunyai jalan kesuksesan masing-masing dan mempunyai caranya sendiri untuk sukses. Kalau pindah adalah solusi yang tepat dan merupakan titik awal dari momen passion kita maka hal itu adalah yang terbaik dilakukan. Daripada memaksakan sesuatu yang bukan jiwa kita, yang kita rasa kurang nyaman dengan apa yang kita geluti sekarang karena mungkin awalnya kita hanya ikut-ikutan. Akan tetapi kita perlu banyak merenung, apakah pindahnya kita hanya sekadar ikut-ikutan, atau ingin kelihatan “wah” ketika kita pindah ke universitas yang lebih baik ataupun hanya sekadar mencari sensasi.

Hal yang paling penting adalah ketika kita merasa bahwa yang kita geluti sekarang adalah panggilan jiwa kita masing-masing dan nyaman meski sebagian orang memandangnya sebelah mata. Penting juga diingat bahwa kitalah yang menentukan arah hidup kita dan setiap kita mempunyai jalannya sendiri. Tak perlulah mata silau melihat kawan berada di universitas yang menurut pandangan kita lebih baik, dan merasa kerdil ketika kita berada di jurusan atau universitas kita sekarang. Toh mungkin ini adalah jalan yang terbaik yang boleh jadi kita tidak suka karena gengsi kita yang cukup besar. Tetap lakukan yang terbaik dan berusahalah untuk senantiasa berpikiran positif, Insya Allah the future come’s true.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216).

Related

Berita Kampus 8930336975596889764

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item