Resensi Buku : Kumpulan Cerpen Sains Natural

Buku Kumpulan Cerpen Sains Identitas buku Judul buku : Di Makam Ayah, Pohon itu Tumbuh Kembali Tema buku : Perkembangan Teknologi dan Ilmu P...

Buku Kumpulan Cerpen Sains
Identitas buku

Judul buku : Di Makam Ayah, Pohon itu Tumbuh Kembali

Tema buku : Perkembangan Teknologi dan Ilmu Pengetahuan

Penulis buku : Faisal Oddang, Hawa Ratna Dewi, Lidya Prawesti aAyuningtyas, Aji Munawar Rizkiansyah, Niki Cahyani, Suasticha Mahardika, Siti Ratnawati, Malisa Ladini, Yosef Infan Chandra, Sannae Ozora, Sharbini NH, Elnina Zee, Zahr Qomara, Wulan Bachsin, Devi afriani.

Editor : Redaksi UKMF Natural

Layout : Mas Dafri Maulana &  Umi Fadilah

Desain Cover : Sigit Sopandi

Cetakan 1 : Juli 2014

Penerbit : Indepth Publishing Dan  UKMF Natural FMIPA Unila

Tempat Penerbit : Jl. Ahmad Yani, Gg. Pioneer, Bandar Lampung Dan Jl. Soemantri brojonegoro

Jenis Buku : Fiksi Sains

Tebal Buku : 129 Halaman

Harga Buku : Rp. 35.000

Pembukaan

Sains adalah ilmu pengetahuan yang dipakai sebagai kata kolektif untuk menunjukkan bermacam-macam pengetahuan yang sistematik dan obyektif serta dapat diteliti kebenarannya. Di era globalisasi sudah banyak penemuan baru yang termodifikasi dengan adanya pengetahuan dari berbagai eksperimen. Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.Tidak hanya dalam teknologi gadget, kehidupan manusia pun dapat diatur dengan adanya sains.

15 karya fiksi sains ini merupakan wujud kumpulan cerpen yang tak hanya bercerita, melainkan memberikan informasi bahwa puluhan tahun mendatang ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus bermetamorfosis dan mengubah banyak hal. Entah akan lebih baik ataupun malah sebaliknya.

Synopsis

Kehidupan yang terdapat pada cerita yang berjenis fiksi sains ini berjudul "Di Makam Ayah, Pohon itu Tumbuh Kembali", ditulis oleh penulis tengah menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin. Ia adalah Faisal Oddang, pemuda kelahiran Makassar, 18 September 1993.  Cerita yang ia tulis dikutip dari kehidupan seorang ayah pembuat Lopi (perahu tradisional bugis) dan membaca doa untuk para nelayan yang tak lagi melakukan hal ini setelah adanya Jongsong (perahu bermesin untuk para nelayan). 

Sang ayah sangat mencintai pohon bahkan lebih dari cintanya kepada istrinya dan sebelum cinta pada istrinya. Beliau menyatakan bahwa manusia adalah sebatang pohon dan pohon yang sebenarnya seonggok daging manusia. Setelah beliau meninggal hanya tinggal anaknya seorang diri karena istrinya pun telah meninggal. Pohon yang berada dibelakang rumah telah digusur untuk dibangun pabrik ikan kaleng. Berikut beberapa kutipan katanya. 

"Beberapa tahun setelah dibangun pabrik itu, dan aku yang telah ditinggal pergi oleh ayah aku kembali ke kampung halamanku. Aku berkunjung ke makam ayah. Kampung ini sudah tak seperti yang dulu.Tak lama aku di kampung aku kembali ke kota untuk wawancara, seketika itu aku membaca koran dan mataku meruncing jarum kesebuah judul berita tentang limbah sarden membunuh ribuan ikan dilaut.. tak kulanjutkan membaca judulnya, karena sudah kuduga pasti laut yang berada dik kampungku. Teringat kata-kata ayah tentang pohon, mungkin ikan ikan yang mati akan berubah menjadi pohon-pohon kecil sementara ayah adalah pohon terbesar"

Cerita yang bertema teknologi pun termasuk dalam karya fiksi dalam buku ini. “I live Tutor”  ditulis oleh Lidya Prawesti Ayuningtyas, seorang lulusan D3 program studi penerbitan PNJ yang sedang melanjutkan studinya di S1 sastra inggris Universitas Indonesia. Cerita ini merupakan sebuah program terbaru yang akan ada dimasa datang. Program ini kurang lebih fungsinya seperti kantung ajaib yang dimiliki "Doraemon". 

Aliyah adalah siswa kelas dua SMA lebih tepatnya kelas sebelas. Ia sangat terobsesi akan program ini, sehingga ia ingin memamrkan kepada teman-temannya, apalagi ia telah menabung untuk membeli program ini dengan uang sakunya sendiri. Karena kehabisn stok ia mencoba mencari dipasar gelap, sambil mengotak-atik tabletnya dicafe ia menemukan pasar gelap yang menjual program I live tutor dengan harga lebih murah, dan ia pun menghubungi nomor yang ada pada link yang ia dapati. 

Semalaman suntuk ia tidak tidur karena kesyikan menggunakan program barunya, bahkan tugas untuk sepekan kemudian telah ia kerjakan. Saat istirahat pun masih tabletnya yang ia mainkan. Sehingga lipa jika ada ujian seusai istirahat, namun ia tak khawair walaupun ia belum belajar karena ada I live Tutor yang dapat menjawab semua permasalahannya itu.

Selanjutnya, "Epidemi Kerinduan" ditulis oleh Aji Munawar Rizkiansyah yang sedang menjejalkan  diri dalam perguruan tinggi di kota Parahyangan. Epidemi kerinduan adalah  semacam temuan ilmuan sialan yang teramat bodoh. Steve dan Clarice merupakan pasangan yang sangat saling mencintai, bahkan  Steve sangat mencintai Clarice, jika bumi yang konon berlapis tujuh dan langit yang konon ada tujuh lapisan itu ditumpuk jadi satu bagian, kukira tetap tidak akan bisa menandingi perasaan cinta ini, ungkap steve. Ketika mereka saling merindukan mereka akan berbicara dimanapun tempatnya,  semua itu tanpa perantara. 

Ketahuilah ini semua larena adanya perkembangan teknologi. Dengan menggunakan sebuah cip yang berada dikepala, steve dan clarice dapat melepaskan rindu kapan pun dan dimana pun. Epidemi kerinduan merupakan sebuah penyakit yang sangat menyiksa ketika berada jauh dengan pasangannya. Epidemi kerinduan kesalahan ilmu pengetahuan, namun jadi berkat bagi para manusia yang kehilangan apa itu esensi rindu. Dan penyakit ini menurun kepada anaknya, steve dan clarice pun memiliki penyakit ini karena gen dari orang tua mereka yang saling memiliki penyakit epidemi kerinduan.

Ulasan Singkat

Perkembangan teknologi dan sains dalam kehidupan membutuhkan proses dan harus ada yang dikorbankan tidak hanya sedikit dampak yang muncul setelah adanya perkembangan teknologi. Dampak alam yang diakibatkan dapat merusak kehidupan darat, laut, maupun udara.

Keunggulan cerpen

Cerpen  ini sangat patut ditiru pesan moralnya  bagi remaja dan semua kalangan, karena memiliki pesan  penting tentang adanya dampak positif maupun negatif yang di akibatkan oleh  perkembangan teknologi sains. Karakter tokoh dalam kumpulan cerpen mudah dipahami,, alur, latar, waktu, posisi tokoh mudah untuk dipahami.

Kelemahan cerpen

Cerita dalam cerpen banyak menggunakan bahasa sains, bila dibaca dengan kalangan tertentu mungkin belum mengerti apa maksud yang digunakan bahasa tersebut. Terdapat beberapa susunan kata yang tidak sesuai bacaan.

Rumusan kerangka cerpen

Cerpen  ini terdiri dari 15 bab yang setiap babnya berisi tentang perkembangan sains dan teknologi dalam kehidupan manusia yang akan datang. Dampak positif dan negatif tentang adanya perkembangan sains dan teknologi pun terbesit dalam cerpen.

Penutup

Cerpen ini merupakan bacaan yang baik  bagi semua kalangan usia tua, maupun muda. Melalui cerpen ini pengarang menitikberatkan inti cerita pada perkembangan teknologi sains yang berdampak baik maupun berdampak buruk, bagi lingkungan maupun diri sendiri. Kumpulan cerita sains dalam buku fiksi ini  membuat pembaca tertarik untuk membuat inovasi teknologi terbaru tanpa memberikan efek buruk bagi lingkungan dan manusia. 

Meskipun dalam melakukan suatu eksperimen diperlukan suatu percobaan, melalui kumpulan cerpen ini kita dapat menginovasikan program maupun teknologi terbaru sains tanpa harus mengorbankan kehidupan seluruh alam dunia ini. 


*Ditulis oleh Fahmi Arifta K. (Anggota Bidang Kaderisasi UKMF Natural) Jurusan Matematika 2013

Related

Resensi 3274090997775170587

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item