Melacak Pergerakan Gempa Dengan Teknologi Interferogram

Gempa bumi dengan kekuatan 7,8 SR telah mengguncang Nepal pada Sabtu (25/4/2015). Setidaknya korban yang tewas mencapai sekitar 2.300 orang ...

Gempa bumi dengan kekuatan 7,8 SR telah mengguncang Nepal pada Sabtu (25/4/2015). Setidaknya korban yang tewas mencapai sekitar 2.300 orang dan lebih dari 500 orang luka-luka. Gempa yang juga mengguncang India, Bangladesh, dan Tibetini dinyatakan sebagai gempa terburuk yang pernah terjadi dalam waktu 81 tahun. Gempa ini berpusat di sekitar 34 km (21 mi) dari timur-tenggara Lamjung, Nepal dengan kedalaman 15 kilometer (9 mi) dan berlangsung sekitar 20 detik.

Dengan pusat gempa hanya 15 kilometer dari permukaan tanah, maka gempa nepal ini termasuk gempa dangkal. Goncangan pada gempa Nepal kali ini bisa sangat kuat karena pengaruh karakter tanah yang mengamplifikasi atau memperbesar gelombang gempa. Berpadu dengan ketidaksiapan masyarakat setempat untuk menghadapi goncangan keras akibat gempa, maka gempa kali ini menjadi sangat mematikan. Secara tektonik, Nepal memang salah satu negara yang paling rawan gempa. Nepal dibentuk oleh roses tumbukan lempeng benua India yang masuk dibawah benua Eurasia dengan kecepatan 45mm/tahun.

Akibat  gempa besar ini, daratan Kathmandu (Ibu Kota Nepal) naik hingga mencapai 1 meter. Kenaikan itu terlihat lewat citra satelit Sentinel-1a. Badan Antariksa Eropa, pemilik satelit Sentinel-1a, mendeteksi pergerakan tanah Kathmandu dengan radar sebelum dan sesudah gempa. Data yang dihasilkan diubah menjadi interferogram, citra berwarna yang sangat teknis, menunjukkan pergerakan daratan setelah gempa.

Interferogram itu dihasilkan dengan teknik interferometric synthetic aperture radar (InSAR). Dengan interferogram, ilmuwan mampu melacak pergerakan saat gempa, walaupun sangat sedikit. Hasil analisis interferogram menunjukkan bahwa area seluas 120 x 50 kilometer di sekitar Kathmandu mengalami kenaikan akibat gempa. Kenaikan itu bervariasi, tetapi paling tinggi sebesar 1 meter.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Kathmandu, wilayah yang berada di utara ibu kota Nepal mengalami penurunan. Hal ini merupakan fenomena yang wajar ketika gempa yang terjadi adalah gempa dangkal. Dengan interferogram, ilmuwan juga mampu melihat bagaimana patahan menghancurkan wilayah timur dari pusat gempa, tetapi tidak membuat tanah retak. Itu berarti bahwa masih ada energi yang disimpan setelah gempa besar dan susulannya.

Interferogram dibuat di bawah program ESA yang bernama Insarap. Dengan menganalisis interferogram, ilmuwan mampu menempatkan gempa Nepal dalam konteks sejarah serta menentukan area yang paling berisiko gempa pada masa mendatang. Sentinel-1a adalah satelit pertama yang diluncurkan oleh Uni Eropa untuk memantau Bumi. Tahun depan, ESA akan meluncurkan Sentinel-1b. Pengamatan dampak gempa bumi dengan satelit itu nantinya takkan memakan waktu lebih dari 3 hari. (Okke)

Sumber : kompas.com



Related

Berita Sains 9181186856575688565

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item