PKSDA XXII Bantu Sadarkan Masyarakat akan Konservasi Badak Sumatra

Himpunan Mahasiswa Biologi (Himbio) FMIPA Unila menyelenggarakan PKSDA ke XXII yang merupakan acara tahunan yang selalu digelar dalam rangka...

Himpunan Mahasiswa Biologi (Himbio) FMIPA Unila menyelenggarakan PKSDA ke XXII yang merupakan acara tahunan yang selalu digelar dalam rangka memperingati hari jadi Jurusan Biologi FMIPA Unila. Adapun tema tahun ini adalah “Satukan Aksi , Selamatkan Badak Sumatera”. Salah satu rangkaian acara terbesar di Jurusan Biologi ini adalah Aksi Lingkungan yang digelar di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) pada Sabtu,(05/05).

Acara ini dihadiri oleh 30 peserta dan beberapa panitia. Bentuk kegiatan Aksi Lingkungan ini adalah wisata Badak Sumatra dan diskusi terbuka tentang “Peran Badak dalam Keseimbangan Lingkungan”. Diskusi tersebut membahas tentang keberadaan Suaka Rhino Sumatra (SRS) selain sebagai tempat konservasi, juga mendorong perkembangbiakkan badak serta melakukan penelitian lanjutan yang merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan Badak Sumatera yang hampir punah, mengingat perburuan liar dan hilangnya ekosistem menjadi penyebab menurunnya populasi Badak Sumatera yang hanya memiliki usia maksimum 35-40 tahun.

Taman Nasional Way Kambas sebagai ASEAN Heritage Park ke-36 memiliki luas 125.621,30 hektar, merupakan habitat dari lima mamalia besar di Sumatera yaitu Gajah Sumatra, Badak Sumatra, Harimau Sumatra, Beruang Madu, dan Tapir. Taman Nasional Way Kambas memiliki 21-27 ekor badak liar yang belum terdata secara spesifik. Pada taman nasional ini juga terdapat Suaka Rhino Sumatera (SRS) yang merupakan tempat konservasi Badak Sumatra. Salah satu badak yang menjadi tujuan objek wisata pada kegiatan Aksi Lingkungan ini adalah Badak Sumatra jantan yang bernama Harapan.

Zulfi Arsan selaku dokter hewan di SRS menyatakan bahwa keberhasilan konservasi di SRS adalah dapat menambah jumlah Badak Sumatera yakni melalui perkawinan dari Badak Harapan dan Badak Ratu. Anak pertama yang lahir di suaka ini bernama Andatu yang lahir pada 23 Juni 2012. “Kelahiran badak pertama ini, menambah optimis kami dalam upaya pelestarian Badak Sumatera. Kelahiran Andatu juga memnjadi bukti bahwa SRS mampu untuk mengupayakan pelestarian Badak Sumatra” , ujarnya.

Subakir selaku Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas berharap SRS selain menjadi tempat konservasi, juga dapat menjadi tempat penelitian bagi mahasiswa, “Harapannya dengan diadakan acara ini SRS dapat dijadikan tempat penelitian skripsi yang di prioritaskan untuk Universitas Lampung, khususnya jurusan Biologi dan Jurusan Kehutanan, karena masih banyak lagi yang perlu di-explore terutama di Taman Nasional Way Kambas”, tutupnya (Fifi).

Related

Berita Kampus 801642480328184237

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item