Fokus!

Dua, tiga, empat, lima, kucentang satu persatu nomor pada daftar kegiatanku hari ini. Huf t ... Akhirnya selesai. Kuseka keringat yang s...


Dua, tiga, empat, lima, kucentang satu persatu nomor pada daftar kegiatanku hari ini.
Huft... Akhirnya selesai. Kuseka keringat yang sedikit membasahi keningku. Aku lelah akan semua rutinitas yang sudah lama ku jalani. Tapi, Aku menikmatinya.

Dera itu nama panggilanku, mahasiswi cantik dan berbakat. Siapa yang tak mengenalku, secara Aku adalah anak organisasi yang paling aktif di kampus. Sombong memang ketika harus menyebutkan jabatanku di kampus sebagai ketua sanggar tari, wakil ketua badan eksekutif, dan anggota UKM lainnya. Agenda apapun yang berhubungan dengan keahlianku pasti Aku yang mewakili.

"Dera, kamu sibuk ya hari ini?" tanya seorang sahabatku, Salsa.

"Maaf ya Sa, Aku sibuk. Harus ngerjain proposal terus siangnya lanjut rapat," dengan rasa bersalah kujawab pertanyaanya.

"Gitu ya Ra? Padahal Aku pengen ngajak kamu jalan. Udah lama lho Ra kita nggak jalan bareng," jawab Salsa dengan raut muka memelas.

"Oke lain kali ya Aku usahain. Maaf banget Sa, project ini nggak bisa ditinggalin," jelasku pada Salsa. Akhirnya Aku memutuskan untuk pamit dari hadapannya karena harus bergegas ke sekret.
Langkahku terhenti seketika melihat setumpukan kertas yang berada di kotak sampah. Kuambil satu persatu kertas tersebut dan kubaca dari lembar pertama hingga akhir.

"Apa? Gila aja nih orang, ini jelas-jelas kertas proposal yang Aku print kemarin. Kok bisa ada disini sih?!" gumamku kesal. Tanpa pikir panjang Aku masuk kedalam ruangan tersebut dan tak kudapati seorangpun disana.

Masih menjadi misteri, tak ada satupun orang yang mengakui siapa yang telah membuang proposalku kemarin. Tapi Aku curiga pasti ada seseorang yang ingin menjatuhkanku.

"Dera? Dera Deviana?" panggilan itu sayup-sayup terdengar, "Kamu keluar!"

Suara yang paling jelas terdengar setelah namaku disebut. Sontak lamunanku buyar dan kudapati dosen Bahasa Indonesia sedang berkacak pinggang di depan.

"Kok keluar sih, Pak? Saya salah apa?" tanyaku dengan muka sepolos mungkin.

"Dari tadi kamu tidak memperhatikan saya, keluar sekarang juga!" bentak dosen yang memang terkenal killer itu. Oke, kuputuskan untuk keluar kelas. Memang, dari awal pikiranku sudah terbagi antara pelajaran dengan oknum yang membuang proposalku itu. Setelah memutuskan untuk keluar Aku pun mulai berpikir untuk segera mencari tahu siapa yang membuang proposalku.

"Dera, kok nggak masuk kelas?" tanya Ibu Nurma, salah seorang dosen pembimbing.

"Iya Bu, tadi ada masalah, jadi keluar kelas," jawabku singkat.

"Kalau begitu ke sanggar yuk, latihan untuk dies natalis jurusan kita," ajak beliau sembari menggandeng tanganku. Dengan pasrah Aku pun mengikuti langkah kaki Bu Nurma. Sesampainya di ruangan tersebut kulihat banyak piagam yang terpajang di dinding. Salah satunya terdapat namaku Dera Deviana sebagai salah satu pemenang dalam lomba tari tingkat nasional. Kupandangi piagam tersebut dengan seksama, sesekali kuusap untuk membersihkan debu yang menempel. Ya, piagam ini telah usang, kudapatkan empat tahun silam ketika masih menyandang status mahasiswa baru. Sekarang hanya dapat membagikan ilmunya kepada generasi penerus.

 "Kamu tunggu adek tingkat datang ya Der, ibu mau ke kantor. Nanti langsung latihan aja," jelas Bu Nurma sembari berjalan meninggalkanku.

Mana bisa Aku melatih mereka sedangkan Aku masih belum menemukan siapa yang telah membuang proposalku. Kuputuskan untuk pergi ke sekret dan mencari penyebab kegagalan acaraku kemarin. Tanpa pikir panjang kulangkahkan kakiku menuju tempat itu.

"Der, rapat yuk, bahas acara penggalangan dana besok," tiba-tiba suara itu  menghentikan langkahku, ternyata itu suara Aji. Aji adalah kepala bidangku. Sosok yang didambakan banyak wanita, tak lain dan tak bukan karena dia memiliki paras yang tampan serta tingkat kecerdasan diatas rata-rata. Tapi sayang dia adalah adik tingkatku.

"Iya Ji, bentar ya mau ada urusan" jawabku sambil memalingkan muka dan meninggalkan ia sendiri. Mungkin tingkahku yang demikian adalah kali kesekian yang menggambarkan kekesalanku kepada Aji. Bagaimana tidak, ia selalu memintaku untuk rapat disaat tugas atau urusanku sedang banyak.

Hari ini adalah hari tersuram yang pernah kualami. Semua terbengkalai. Tugas-tugasku, acaraku, skripsiku. Ah, semua nampak mengecewakan. Kuputuskan untuk berpikir beberapa saat. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Pertanda bahwa Aku harus segera tertidur. Namun, masalah hari ini tidak bisa dianggap sepele. Skripsiku masih saja berhenti di BAB 1.

 Inget Ra, kamu udah semester sembilan kalo nggak cepet lulus kamu nggak bisa cepet nikah, kalo nggak nikah jadi perawan tua terus kalo jadi perawan tua kecantikanmu mubazir. Ayo dong Ra, semangat ngerjain skripsinya!

Tiba-tiba perkataan Salsa melintas dipikiranku.

"Iya juga, kalo nggak cepet lulus nggak bisa cepet nikah ya?Kalimat konyol itu sontak membuatku semangat mengerjakan skripsi. Tak peduli jam berapa sekarang, yang terpenting skripsiku tidak mentok di BAB 1. Kuketik kata perkata hingga menjadi kalimat yang padu.

"Ra, kamu tau kenapa akhir-akhir ini semua urusanmu tidak berjalan dengan lancar?" Tanya Salsa.

"Entahlah Sa, mungkin Aku kurang waktu aja buat menyelesaikan tugasku," jawabku singkat.

"Bukan Ra, kamu seharusnya fokus pada tujuan kamu, sekarang udah bukan waktumu untuk ikut organisasi. Pun jika memang ingin ikut organisasi, fokus Ra. Pilih salah satu yang kamu inginkan. Jangan pernah berpikir bahwa kamu bisa segalanya. Jika kamu memiliki banyak pilihan maka akan banyak pula tanggungjawab yang harus kamu jalani. Pahami aja pesanku barusan"

Aku terbangun. Ternyata ini hanya sebuah mimpi. Namun, perkataan Salsa di dalam mimpi itu seperti sedang menampar ku berkali-kali hingga Aku tersadar. Kamu benar Sa, Aku harus berubah!


oleh : Fifi Nurhafifah

Related

Cerpen 3450585068211947856

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item