Matematika Digunakan Untuk Menangani Wabah Penyakit, Bisakah?

Menangani Wabah Penyakit Dalam Ilmu Matematika  Mungkin kita mengira bahwa matematika hanyalah ilmu menghitung saja. Kita anggap hanya...

Menangani Wabah Penyakit Dalam Ilmu Matematika 

Mungkin kita mengira bahwa matematika hanyalah ilmu menghitung saja. Kita anggap hanya sedikit ilmu matematika yang bisa di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja anggapan itu salah. Faktanya, matematika memiliki banyak manfaat untuk kehidupan. Bahkan, di bidang kesehatan, matematika dapat digunakan untuk mempelajari penyebaran suatu wabah penyakit berbahaya.

Dilansir dari Kompas.com,  kajian mengenai hal tersebut dikenal dengan "matematika epidemiologi". Matematika epidemiologi adalah model matematika yang mempelajari tentang pencarian sumber, penyebaran, pola, dan strategi penanganan dari sebuah wabah. Fungsi dari kajian tersebut adalah untuk menganalisis suatu wabah selama fenomenanya memiliki sumber dan cabang-cabang atau biasa disebut node.

Metodenya pun bisa dijelaskan secara sederhana. Ilmu ini memanfaatkan metode SIR (Susceptible, Infectious, Recovered) sebagai alat analisanya. Metode ini membagi kelompok dalam populasi sebagai potensi terinfeksi (S), terinfeksi (I), dan di luar dari kedua kategori tersebut (R), baik sembuh maupun meninggal.

Menurut Nuning Nuraini, Lektor kepala dari FMIPA ITB, ilmu ini sangat bermanfaat dan memiliki dampak besar, terutama dalam penanganan wabah penyakit.

“Kita bisa lihat sekarang, masyarakat Indonesia kembali dihantui kasus demam berdarah, ITB tentu tidak diam saja, tim yang mewadahi keilmuan ini turut bekerja dan ikut memberikan saran dan solusi pencegahan,” ungkap Nuning. 

Berdasarkan hasil kalkulasi yang dilakukan saat menganalisis tingkat pertumbuhan populasi nyamuk Aedes aegypti, diperoleh hasil ada selang 2 bulan antara puncak musim hujan dan tingkat puncak pertumbuhan nyamuk.

“Ini tentu akan sangat membantu untuk pelaksanaan fogging yang efektif dan efisien serta tepat sasaran.” tambahnya.

Penulis : Andra
Sumber : Kompas.com

Related

Berita Sains 5289942779687987725

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item