Idealisme, Permusuhan dan Persaudaraan

Oleh: Tyas Rosawinda. Kh Pimpinan Redaksi Natural 2011-2012 ” Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau dit...

Oleh: Tyas Rosawinda. Kh
Pimpinan Redaksi Natural 2011-2012


Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dll. Setiap tahun datang adik-adik dari sekolah menengah, mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.... Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah : “Who am I?” saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual muda yang tidak mengejar kuasa, tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidakpopuleran, karena ada sesuatu yang lebih besar: Kebenaran.... (Soe Hok Gie).


Kata-kata ‘Paman Gie itu segera menyentak saya ke jurang pendalaman, tentang selaput tipis antara idealisme, Permusuhan, dan Persaudaraan. IDEALISME. Bukankah Nasionalisme tidak hanya lahir dari jargon-jargon membara? humanisme bukan sekedar hipokrasi latah atas dasar ikut-ikutan demi tujuan kekuasaan, seorang yang idealis bukanlah seorang arogant yang menolak semua yang tidak sesuai dengan hidupnya dan membenci segala yang berlawanan dengan hatinya? Sang idealis adalah seorang yang bijak, yang anti tawuran atau berdemonstrasi hanya untuk memuaskan nafsu dan merasa penting untuk sesaat, lalu mulai merusak. 


Gerakan mahasiswa tidak hanya bisa digulirkan dalam bentuk aksi-aksi jalanan, juga bisa diungkapkan dalam bentuk essai, opini atau tulisan di koran-koran mahasiswa bahkan media cetak. Itulah sebabnya nabi muhammad dicintai banyak orang termasuk musuh-musuh beliau, sebab beliau bisa menyelesaikan masalah tanpa menjual idealisme serta pemahamannya pribadi juga tanpa menyakiti orang lain.


Sains telah mengajari kita cara untuk menjelajah angkasa bagai elang dan menyelami lautan bagai lumba-lumba, tapi sains belum bisa mengajari kita cara hidup damai di dunia ini bagai manusia, yang bisa hidup dalam kebersamaan dan saling pengertian yang sejati... Sains telah menciptakan 2-4-D untuk memusnahkan tumbuhan liar, bahkan telah memberikan formula E=MC2 yang dapat menghancurkan dunia,  tapi problema yang dihadapi para ilmuwan sains sekarang adalah penyalahgunaan hasil-hasil penemuannya itu. Tidak adanya pengertian dalam jiwa kita, memposisikan sains sebagai penghancur, bukan sebagai anugerah.

Permusuhan adalah efek dari ketidakmengertian, dan kekeringan yang paling hebat di dunia ini adalah kekeringan pengertian. Mengulas sedikit tentang kasus tawuran antar mahasiswa unila yang sempat booming akhir-akhir ini, pasti tidak akan jauh-jauh dari permasalahan ego dan idealisme sang “intelektual muda” yang merasa terusik. Saya menyebut setiap pertengkaran itu sebagai “dialog para tuli”. Setiap orang hanya ingin dimengerti posisinya, hanya ingin menyampaikan isi hatinya, untuk membela diri sendiri, untuk membuktikan bahwa dirinyalah yang benar dan orang lain yang salah.  Jarang sekali ada kemauan untuk memahami orang lain... Kita sering berdalih semua pertikaian itu disebabkan oleh ketidakserasian emosi, padahal hal ini hanyalah dalil yang diciptakan oleh para hakim untuk mempermudah kasus perceraian. Sebenarnya tidak ada ketidakserasian emosi, yang ada hanyalah kesalahfahaman yang bisa diperbaiki bila ada kemauan untuk itu.

Keinginan untuk rukun dengan orang-orang yang tidak sepaham dengan kita adalah hal yang sangat krusial. Yang diperlukan dalam persaudaraan adalah keinginan/ niat yang kuat untuk saling mengerti, karena kerukunan itu sendiri merupakan suatu proses. Kita bisa saja selalu memaafkan orang lain, tapi kita tidak bisa memaksa orang lain untuk selalu memaafkan kita.

Di perkuliahan, persaudaraan bukan hadir hanya saat kita memerlukan bantuan/sekedar contekan saat ujian. Di organisasi, persaudaraan tidak hanya lahir saat membutuhkan subjek guna memperlancar program kerja, lantas ditinggalkan saat kepungurusan berakhir. Pun dalam kehidupan sehari-hari, persaudaran ialah hubungan erat tanpa syarat. Tak ada istilah ‘mantan dalam kamus persaudaraan, yang tetap mengucapkannya hanyalah sedikit dari sekian ribu orang yang gak punya kamus istilah tata solidaritas.

Begitulah cinta dalam hakikat persaudaraan, cinta yang membuahkan rasa saling pengertian kepada sesama. Cinta adalah bentuk keberartian diri, eksistensi jiwa dalam hati saudaranya, dia hadir lewat kebersamaan, dia ada karena adanya rasa saling mengerti, dan dia subur bersama keinginan untuk memberi. Idealisme yang salah arti hanya akan menimbulkan permusuhan, dan permusuhan akan terus menggerus hubungan persaudaraan yang sejati.

Related

Opini 6652506958517839303

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item