Pelitaku Hilang

Pelitaku Hilang By. Sigit Sopandi Ku susuri jalan panjang ini, jauh tak terlihat ujung. Gelap, sepi tanpa ada satu pun orang. Hingar bingar ...


Pelitaku Hilang
By. Sigit Sopandi

Ku susuri jalan panjang ini, jauh tak terlihat ujung. Gelap, sepi tanpa ada satu pun orang. Hingar bingar kota Jakarta sudah lelap tertidur. Kaki ku letih, tak mau lagi berjalan entah sejauh apa aku melangkah tadi , berteman malam aku sendiri. Bintang bahkan bulan pun menutup mulut tak jua menegurku.

Perasaanku berbeda, jauh dari biasanya aku terasing dalam bayanganku sendiri. Senyap datang menambah malam semakin lama berakhir, sunyi dalam kelam. Seharusnya pagi datang, namun justru malam kian larut menjauh tak mengenal pagi. Pagi enggan datang, malam pun tak menemukan hari. Sepertinya semua menjauh dariku dan tak ada yang mau berteman denganku lagi. Hatiku kaku, tanpa rasa, hingga nuansa ini perlahan-lahan menyiksaku. Tubuhku jatuh, memperburuk keadaan, membuatku sekarang tertunduk tak berdaya. Menghela nafas pun sulit. Ada yang menjauh lagi dan aku pun tak paham apa arti semua ini.

Siapa, siapa disana? Seseorang berjalan menghampiriku. Harapanku tumbuh walau tak lebih dari sedikit. Dengan terengah hati kecilku berkata lirih, semoga dia berkenan menolongku. Tapi dia justru menangis, terlihat lebih membutuhkan bantuan daripada kondisiku saat ini. Wajahnya pucat pasi. Ia tak punya sedikitpun semangat, juga harapan. Dia memelukku, lalu tiba-tiba pergi begitu saja, melabuhkan semua kebingungan yang ada tanpa memberi sedikit penjelasan yang ku harap mampu mengartikan keanehan ini. Tapi tunggu, sepertinya aku mengenal pemuda tadi. Ya, aku benar-benar tahu siapa Dia, sangat akrab denganku, bahkan terasa lebih dekat dari seorang sahabat karib, namun ingatanku belum cukup kuat untuk menyebutkan siapa namanya.

Ohh Tuhan.. aku tahu. Itu  aku, orang itu adalah aku, diriku sendiri, dia bayanganku. Ketakutan amat besar berada dihadapanku sekarang. Kini apalagi? apa yang akan terjadi? Kedua mata ku juga mulai tak bersahabat, terasa sangat berat. Ada yang menghalangiku untuk melihat, keringat berbaris ingin keluar lewat pori-pori kulit, aku berjuang melawan mataku sendiri, sakit sekali rasanya. Mereka memberontak tak mau lagi bersabar, seluruh tubuhku terguyur keringat, membuat habis tenagaku. Aku tersentak, tapi mataku terbuka dan terasa ringan perlahan. Dingin udara akhirnya datang, aku terbangun.

Ternyata semua ini mimpi, mimpi yang aneh, mimpi buruk. Kuhirup sekuat-kuatnya sejuk udara ini, menggembalikan tenagaku yang hilang beberapa saat tadi, aku kira ini tidak akan berakhir. aku tidak suka mimpi tadi. Fajar pun datang.

Kubasuh wajahku dengan air, semoga hariku nanti sesegar air ini. Keadaanku jauh lebih tenang sekarang. Aku harap hal semalam tidak pernah terjadi lagi, ku lupakan ingatan tentang mimpi buruk itu, beraktifitas seperti biasa. Riuh kesibukan pagi mulai terlihat meramaikan suasana hari ini. Perasaanku lega, ini benar-benar hari yang biasanya.

Kali ini pagi datang begitu cepat, jam seperti menit dan menit bagaikan detik, sekilas pergi lalu menghilang, dengan percaya dirinya benda bulat bagai penguasa langit beranjak ke atas beralih rotasi dari pagi menjadi siang. Tajam tatapan matanya menyengat kulit yang menjadikan setiap orang malas beraktifitas karena panasnya.

Tanpa aku tahu kenapa, tiba-tiba kepalaku menjadi sangat sakit, berputar-putar, kemudian berhenti, namun menciptakan gelombang hebat di memoriku, sepertinya membuka ingatanku tentang serangkaian kisah yang aku alami malam tadi. Ku percepat langkah kaki menuju tempat teduh di dekat pohon ketapang, di samping jalan yang biasa aku lewati ketika pulang.Pohon ini adalah tempat aku berteduh, menjadi tempatku bercerita dan mengadu kala terik matahari tak bersahabat.

Lalu lalang orang berjalan di sampingku acuh. Ataukah memang mereka tak melihatku? aku terheran. Tubuhku melemah sakit, dari kepala mulai menjalar ke organ tubuh lainnya. Lemas, lalu tak ingat lagi apa yang terjadi, gelap yang ada dihadapanku sekarang. Samar-samar terlihat wanita setengah baya duduk disampingku. Senyumnya lembut, menenteramkan hati. Tapi tak ada seorangpun ketika mataku terbuka, siapa wanita itu?

Lalu emosiku naik tanpa sebab, bahkan sampai meledak-ledak hanya karena seorang anak kecil yang meminta tolong untuk sedikit membagi apa yang aku punya. Pusingku belum pergi setelah pingsan, mungkin itu yang membuat aku emosional.

Sekarang aku melihat ada yang mirip lagi dengan diriku, tapi kali ini berbeda dengan yang aku temui semalam. Dia penuh dengan semangat, berambisi dan juga sangat ramah dengan siapapun yang ada di jalan, senyum manisnya Ia berikan ke setiap orang yang menatap wajahnya, reaksi acuh orang lain padanya tak Ia hiraukan, tetap Ia berikan senyuman kepada orang itu. Memandangnya menyejukkan hati, aku bergegas menghampirinya, ingin menyapanya dan bertatap muka dengannya. Di luar dugaanku, ketika lembut sapa kuberikan padanya justru wajah yang sangat menyeramkan Ia balas kepadaku, terlihat kemarahan yang mendalam Ia tunjukkan kepadaku, tanpa aku tahu apa salah yang telah kuperbuat. Ia menghardik dengan tatapannya yang menakutkan, secepat angin Ia berubah sedemikian jahat, dan itu hanya kepadaku. Aku membisu, dan bertanya pada kebingungan dalam angan, apakah yang sedang terjadi sebenarnya??

Aku pulang ke rumah, namun kali ini seperti orang yang tidak memiliki tujuan. Langkah demi langkah meninggalkan pertanyaan yang tidak bisa ku jawab sendiri, memperbesar kebingungan yang ada.
 Beberapa hari ini sungguh aneh bagiku, hal ini terjadi di luar kendali, bahkan sungguh tak terkendali, Aku dihantui ketakutan dan kegelisahan.
Rumah kecil tempat ku tinggal seperti menarikku tuk cepat mendekatinya. Dan benar, ada yang berbeda dengan apa yang ku lihat dikotak surat, ada selembar amplop yang sudah berdebu lesu tertunduk dan kusam. Februari 2012, sudah satu bulan lebih surat ini datang.
 Alamat pengirimnya sangat aku kenal, Sukabumi. Itu alamat rumahku didesa.
Aku bergegas masuk untuk membaca apa isi dari amplop ini.
Rini, ini dari Rini adikku di rumah. Darimana dia bisa mendapatkan alamat tempat aku tinggal sekarang?
Rasa penasaran menuntunku tuk segera membaca surat ini.

Untuk  kak Dani;
Assalamu’alaikum  Wr. Wb.
Kak  Dani pulanglah,,
Ibu sangat rindu dengan mu, sudah terlalu lama kau pergi dari rumah
Ibu disini kesepian, hanya engkau yang selalu ibu pikirkan setiap malam
Rini sedih melihat kondisi ibu sekarang, tubuhnya semakin kurus, ibu selalu menunggu kakak di ruang makan untuk makan bersama, ,
 Tak mau makan kalau kakak belum pulang.
Kakak pasti tahu ibu hidup sendiri sejak ayah meninggal, dan sekarang ibu sering sakit-sakitan, setiap malam ibu selalu memanggil namamu dalam tidurnya,
Rini bingung harus minta tolong siapa, ibu sudah terlalu tua untuk hidup sendiri, Rini tak bisa berbuat banyak, hanya kakak harapan ibu untuk  menumbuhkan semangat hidup.
Ibu juga sudah melupakan masalah dulu, ibu bilang akan menjual tanah kebun untuk membelikan motor yang kakak mau, dan Rini bulan ini akan menikah dengan kak Roni, teman kakak. Jadi Rini rela bila tidak melanjutkan kuliah asal kakak mau pulang
Kak Dani,
Tak  banyak yang Rini minta darimu, hanya satu saja
Pulanglah  kak,, demi ibu,,

Salam penuh pengharapan dari kami,

Dari ; Ibu dan adikmu, Rini

Tiga hari sudah, sejak surat dari ibu datang, hari-hari yang kujalani tiada ketenangan.

Pikiran-pikiran yang ada malam itu hadir lagi, kegelisan ini mulai menemukan jawaban dari kebingungan yang terjadi. Apakah semua hal yang terjadi itu ada kaitannya dengan sikapku selama ini terhadap Ibu dan Rini ? Sebenarnya aku pun tak ingin pergi meninggalkan mereka ke Jakarta, lingkungan sungguh telah mempengaruhi akal sehatku, sikap gengsi terhadap teman-teman ini menambah buruk keadaaan yang seharusnya tidak terjadi. Hanya karena ingin membeli sepeda motor, aku berani melawan ibu, bahkan memukul Rini hingga akhirnya aku pergi ke Jakarta. Mereka yang mengajakku ke Jakarta juga entah dimana sekarang, hilang di padatnya Ibukota. Bodoh sekali diriku ini, hanya karena hal se-sepele ini terjadi masalah yang tak seharusnya terjadi. Keanehan-keanehan yang terjadi itu ternyata buah dari kesalahanku selama ini, mereka datang mengingatkanku.

Besok aku akan pulang. Cukup sampai disini saja aku larut dalam kebodohan, hari ini akan kuakhiri semua kegilaan ini. Ku siapkan kado spesial untuk Rini dan Ibu, memang ini tidak seharga kesalahan yang kuperbuat. Tapi semoga mereka dapat menerimanya.

Malam rasanya tak kunjung usai, lebih lama dari mimpi burukku malam itu, mataku juga sulit terpejam, kontras dari malam kemarin, pikiranku menerawang batas angan menembus tabir menuju rumahku di Sukabumi. Aku tak bisa tidur menunggu pagi datang. Malam benar-benar tak bersahabat denganku beberapa hari ini.

Meski lirih tapi mulai terdengar suara azan subuh, sayup-sayup merambat hingga rata seantero Jakarta.  Perasaanku berdebar tak seperti biasa, mungkin karena keinginanku untuk pulang, kerinduanku pada Ibu dan Rini.
Siap. Semua persiapan sudah menempati posisinya masing-masing
Ibu, Rini, aku pulang….
Perjalanan ini adalah perjalanan terlama yang pernah ku rasakan, padahal Jakarta dan kampung halamanku tidaklah begitu jauh. Jalan seperti tak ada ujungnya, laut juga seperti tak mempunyai tepi. Sepertinya dari ujung barat dan timur perjalananku pulang kerumah, tak kunjung sampai.
Tubuhku gemetar, tanganku  pun sepertinya jauh lebih dingin dari es. Akhirnya gang terakhir sebelum  rumahku terlihat. Kata apa yang harus ku ucapkan nanti? Aku kebingungan, Jauh lebih bingung ketika dulu aku SMA harus maju presentasi di depan kelas walau tanpa persiapan.
Jantung semakin berdebar-debar, kepalaku mulai pusing. Lemas tulang sendiku. Akhirnya, aku sampai.
Tapi,
??????????,,
Ada tenda?,
Tenda apa itu?,
Langkahku terhenti, nafas ku hela terlebih dahulu, lalu coba menafsirkan arti semua itu
Aku memang sudah sampai di rumah, tapi pikiranku?
Pikiran ku justru pergi tanpa izin padaku sebelumnya. Perasaanku juga tak dapat ku mengerti, tak karuan perasaanku, semuanya tak dapat kumengerti.  
 
Tenda? Pernikahan.
Ya, ini pasti hari pernikahaan Rini. Rini bilang dia akan menikah bulan ini. Rin, kakak ada kado spesial buat kamu, kado untuk pernikahan kalian.
Dag, dig, dug, tak seirama jantungku berdebar-debar.
Dan…
Bagaikan petir datang dan dengan keras menyambarku, berkali-kali menyambarku.
Aku tak percaya ini,
Apakah aku belum terbangun dari tidurku ?                                                                                
Apakah aku  masih berada dalam mimpiku? mimpi buruk itu….
 apakah yang terjadi sebenarnya?
Ibu…
Ibu… dimana ibu..?
“Kak Dani, ibu kak, ibu…”.
Berurai air mata Rini menghampiriku.
Rini, bagaikan tubuh yang tak mempunyai ruh. Lemas, tak ada tenaga. Ku peluk erat Dia.

Berselimut kain kafan,
Ibu sudah tertidur pulas, wajahnya masih terlihat cantik walau tertutupi pucat
Terbata-bata Rini menjelaskan.
Ibu jatuh sakit, kemarin, muntah darah dan tidak tertolong ketika dilarikan ke rumah sakit. Allah memangil ibu tuk pulang menghadap-Nya.
Semua perasaan bercampur menjadi satu. Mimpi-mimpi buruk itu datang menghantuiku lagi. Rasa bersalah, dan semua rasa kegundahan, semuanya  berkumpul menjadi satu. Hatiku telah tertutup kabut tebal, egoisme, dan semua kesalahan-kesalahanku telah menggumpal keras.
penyesalan yang ada saat ini, penyesalan yang amat besar.
“Ibu, maafkan Dani Bu.. Dani telah durhaka…”  Mulutku kaku, kata-kataku terhenti, tak mampu berkata lagi. Hatiku menangis, sedih tak mampu dijelaskan, ya Allah ampuni dosa-dosa ku.
Apakah pelita hatiku sudah menghilang? pelita hidupku telah redup.  Masihkah ada pelita untukku, pelita agar hidupku terang kembali, dan pasti akan kujaga pelita itu. Aku janji.



Related

Berita Kampus 7413373345167501885

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item