Minggu, 30 September 2012

Krakatau-ku Mengerang! Krakatau-ku Dipingit!



Banyak orang tahu, Krakatau punya potensi. Semua sampai bingung, bagaimana harus menggambarkan kein­dahan gunung yang ada di pulau terpen­cil itu. GAK (Gunung Anak Krakatau) justru meletus pada awal September lalu. Meskipun terbilang letusan kecil dan tidak menimbulkan gelombang pasang, gunung anak Krakatau terlihat menyemburkan debu dan asap hitam ke udara. Abu vulkaniknya terbawa hingga ratusan kilometer. 

Anak Gunung Krakatau
Meskipun keadaan sempat me­ningkat dari level waspada ke siaga, kini Krakatau mulai tenang. Walaupun masih cukup sering terjadi gempa yang menye­babkan bergetarnya kaca jendela warga dan juga aktivitas asap tebal dari perut anak Krakatau yang terus menguar ke udara.
Status siaga memang cukup meng­khawatirkan warga sekitar, tapi aktivitas tetap harus berjalan. Nelayan masih tetap berlayar mencari ikan dengan menjaga jarak aman. Aktivitas jual beli di pasar pe­sisir pantai tetap ramai seperti biasa, meski Krakatau tengah bergemuruh di tengah Se­lat Sunda. 

Sejak meletus, debu vulkanik gu­nung anak Krakatau terbawa angin hingga menghujani kota Bandarlampung selama beberapa hari. Ada yang beranggapan bah­wa debu tersebut bukan berasal dari gunung anak Krakatau, melainkan berasal dari ke­bakaran lahan. Namun, hal itu dibantah oleh kepala dinas kesehatan Provinsi Lampung dengan melakukan uji laboratorium. Uji ini dilakukan untuk membuktikan kebena­ran dari spekulasi tersebut. Hasilnya me­nyatakan bahwa debu tersebut memang debu vulkanik yang bersumber dari letusan anak Krakatau. Masyarakat terus dihimbau agar berhati-hati terhadap debu vulkanik ini. Karena dapat menyebabkan ISPA atau gangguan saluran pernapasan.
Seperti inilah keadaan krakatau kita saat ini. Sesuatu yang sarat dengan po­tensi pariwisata kini justru menjadi objek himbauan. Semua dilarang mendekati. Pu­lau kecil yang ditumbuhi banyak jenis flora itu tanpa sadar tengah dipingit. (Tri dan Umi/Sumber Internet)

Jumat, 28 September 2012

FMIPA Hindari Perpeloncoan


Tiga hari mengi­kuti rentetan acara di Ge­dung Serba Guna (GSG) Uni­versitas Lampung, mahasiswa baru ternyata tak sempat meng­hirup udara segar. Rabu (29/8) lalu, propti universitas ma­hasiswa baru angkatan 2012 Unila resmi ditutup. Namun, ini tak lantas membuat mereka mampu menghela napas lega. Pasalnya, mahasiswa baru ini kembali disambut oleh segu­dang rangkaian kegiatan propti di fakultasnya masing-masing.
Begitu juga dengan mahasiswa baru FMIPA. Ma­hasiswa angkatan 2012 dari 5 jurusan di FMIPA ini dikum­pulkan di halaman sebelah utara GSG dan diarak menuju FMIPA. 

Arakan mahasiswa baru FMIPA sempat terhenti. Akibat hujan deras sore itu. Rombongan kembali melan­jutkan perjalanan di bawah rin­tikan gerimis hingga sampai di Fakultas MIPA.
Keesokan harinya, Kamis (30/08) acara propti Fakultas MIPA pertama dimulai. Mahasiswa baru ini harus sudah datang pukul 06.30 WIB ke Ge­dung Fasilitas Bersama (GFB) dengan menggunakan atribut yang sudah diperintahkan. 

Acara dilanjutkan dengan perkenalan jurusan, para peserta diarahkan ke jurusan un­tuk memperoleh materi menge­nai jurusannya masing-masing. Setelah selesai, para peserta dikumpulkan kembali di GFB untuk memperoleh pembekalan mengenai tugas-tugas yang akan mereka kumpulkan pada hari kedua, seperti pengumpulan bak­sos dan lain-lain. 

Di hari terakhir, Ju­mat (31/08), peserta diharus­kan sudah berkumpul di GFB pukul 07.00 WIB dengan kem­bali mengenakan atribut. Saat berbaris di depan GFB, mereka diharuskan mengumpulkan tugas-tugas yang diharuskan, seperti pengumpulan baksos, tandatangan dan lain-lain. “Fung­si tanda tangan yaitu melatih kekompakan agar mereka bisa menilai dan menumbuhkan kerja sama antar mahasiswa. Tanda tangan ini bersifat tes, bukan pelatihan,” Ujar Ahmad Sulai­man, Gubernur BEM FMIPA. 

Acara dilanjutkan dengan perkenalan Lembaga kemahasiswaan(LK) di FMIPA, pengenalan LK dimulai oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Ma­hasiswa (DPM), Rohani Islam (Rois), Lembaga pers mahasiswa fakultas Natural, dan diakhiri dengan klub selam Anemon. Peserta juga diarahkan ke ju­rusan masing-masing untuk di­perkenalkan dengan himpunan mahasiswanya. 
Siangnya, peserta di­kumpulkan kembali di GFB untuk menerima beberapa pengumuman.
Ranah propti fakultas FMIPA memiliki khas tersend­iri dibandingkan dengan fakultas lain. Setiap apa yang diterapkan kepada mereka harus ada unsur sains. Propti FMIPA tidak ada perpeloncoan, main kasar, merendahkan harga diri, dan membentak. “Masa pengenalan mahasiswa baru dengan jurusan harus diiringi dengan rasa senang supaya mengena dengan mereka,” Tu­tup mahasiswa semester 7 ini. (Pangestu dan Ruli)

IPK Bukan Jaminan Wisudawan Terbaik


Tidak cukup bermodalkan IPK 4,00. Belum tentu jadi wisudawan terbaik. Toh ti­dak menjamin setelah lulus bisa langsung dapat kerja. Apalagi membuka lapangan pe­kerjaan. 

Universitas Lampung kembali mewisuda 68 mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) pada periode September 2012, Rabu (19/9). Wisudawan terdiri dari 67 ma­hasiswa program S1 dan 1 mahasiswa pro­gram Diploma. 

Wisudawan terbaik periode Sep­tember 2012 kali ini diraih oleh Ni Putu Yuli­astri. Mahasiswa jurusan kimia ini mendapat IPK 3,86 dengan predikat cum laude. “Krite­ria pemilihan wisudawan/wati terbaik FMI­PA tentunya tidak hanya dari segi IPK, tetapi juga dengan kegiatan di organisasi dan etika mahasiswa tersebut,” ujar Pembantu Dekan I, Dra. Dwi Asmi, M.Si., Ph.D. 
Dwi Asmi juga mengungkapkan bahwa alumni FMIPA Unila banyak dipak­ai dalam semua aspek lapangan pekerjaan, seperti di Industri, bank, guru atau dosen, wi­raswasta, di lembaga penelitian baik negeri maupun swasta dan lain-lain. 

Tak sekadar lulus, lalu lepas landas dari FMIPA. Pihak fakultas dan alumni terus merajut kerja sama. Hal ini dapat dilihat dari adanya ikatan alumni pada setiap program studi di Fakultas MIPA.
Seakan membudaya, tujuan menjadi mahasiswa selama ini adalah mencari peker­jaan. Pada umumnya, harapan mahasiswa yang telah diwisuda adalah bekerja, baik dalam bidang ilmu terapannya saat menem­puh pendidikan atau bahkan menyimpang sekalipun. 

“Harapan pastinya adalah ker­ja, saya belum mendapatkan kerja untuk saat ini. Namun, saya akan mencari kerja yang sesuai dengan bidang saya, seperti di industri-industri,” terang Elianasari, wisu­dawati dari Jurusan Kimia.
Ditanya terkait harapannya un­tuk Unila, Elianasari menuturkan bahwa ia sangat berharap Unila bisa menjadi fasilita­tor bagi mahasiswa untuk mencari pekerjaan melalui kerjasama dengan perusahan-perusa­han swasta maupun negeri. Ia menyayangkan perusahan besar lokal yang sudah mencapai taraf nasional justru lebih tertarik menawar­kan pekerjaan untuk mahasiswa di luar Lam­pung. “Bukannya mengembangkan daerah sendiri, malah mengambil wisudawan dari daerah lain.” keluhnya. 

Masalah pekerjaan setelah lulus ku­liah memang menjadi masalah krusial sepan­jang zaman. Masa tunggu mahasiswa setelah diwisuda tak ayal juga menjadi masalah ci­vitas akademika. Akreditasi baik fakultas maupun universitas akan dipertanyakan mengenai lamanya masa tunggu mahasiswa memeroleh pekerjaan. Inovasi-inovasi baru selalu diupayakan pihak birokrat kampus un­tuk mengatasi masalah ini.
Mewakili pihak dekanat, Dwi Asmi menuturkan diakhir wawancara, “Harapan saya, alumni FMIPA Unila dapat selalu men­jaga nama baik Unila. Dapat bekerja dengan jujur dan amanah sesuai dengan pengetahuan yang telah dimilikinya.” 

Berikut daftar wisudawan FMIPA periode september beserta wisudawan ter­baik fakultas FMIPA.
Program Sarjana
Jumlah
Kimia
17
Matematika
9
Biologi
7
Fisika
19
Ilmu Komputer
15
Program Diploma
Jumlah
Manajemen Infomatika
1


Mahasiswa Terbaik Fakultas

Program Sarjana
Program
Studi
IPK
Ni Putu Yuliastri
Kimia
3,86
Sundari Riawati
Kimia
3,73
 Oki Sahroni
Matematika
3,47  (Asti dan Rio)



Memanfaatkan Waktu Saat Kuliah


Membagi waktu antara kuliah dan organisasi adalah masalah yang susah-susah gampang. Sebagian mengikuti organisasi dengan baik, tetapi hasil akademiknya bu­ruk. Sebagian tetap berprestasi baik dalam organisasi maupun akademik. Namun, se­bagian lagi berpikir “Buat apa organisasi, yang penting itu kuliah.” Semua itu memang pilihan. Dan pilihan itulah yang menentukan bagaimana kita kedepannya. Sukses kuliah dan organisasi memang nggak gampang. Bagi yang mengalami masalah yang sama.

berikut tips-tips membagi waktu antara ku­liah dan organisasi: 

1.Biasakan me-manage waktu den­gan baik. Buatlah jadwal kuliah dan kegiatan organisasi dalam satu timeline yang detail baik hari, jam, dan tempatnya. Kita bisa menulisnya di ponsel atau di buku agenda.
2.Dahulukan yang lebih penting dan mendesak. Buatlah prioritas atas apa yang kita lakukan.
3.Biasakan bersikap dan berkomu­nikasi dengan baik dan tegas. Contoh: Be­sok, kita menghadapi ujian semester. Diwak­tu yang sama, kita memiliki agenda rapat yang mendesak. Dalam situasi ini, kita harus berani mengambil keputusan yang tepat.
4.Menunda pekerjaan adalah ke­biasaan buruk dan tidak bertanggung jawab. Kebiasaan ini justru membuat pekerjaan kita terabaikan. Tidak akan selesai tepat waktu. Lebih baik jika pekerjaan-pekerjaan itu dici­cil. Hemat tenaga, tepat waktu.
5.Biasakan setiap hari untuk mem­baca kembali kuliah yang diberikan dosen, meringkas buku diktat kuliah, dan meren­canakan kegiatan setiap hari. Meski terasa berat diawal, namun kita akan memetik hasil yang memuaskan nantinya. 

Tidak semua kehancuran akademik seorang mahasiswa diakibatkan karena ak­tif dalam organisasi. Misal saja Hapin Afri­yani, mahasiswa kimia 2010 ini tetap mampu meraih prestasi yang baik dalam bidang aka­demik maupun organisasi yang diikuti.
Menurutnya, agar tetap mendapat prestasi yang baik dalam akademik maupun organisasi adalah dengan membuat skala pri­oritas. “Organisasi itu penting, tapi akademik juga penting. Jadi harus seimbang,” ujar ma­hasiswi semester 5 ini. 

Mahasiswi yang memiliki Indeks Prestasi (IP) Akademik 4,00 ini juga tak se­gan berbagi tips-tips membagi waktu kuliah dan organisasi yang baik kepada kru Natu­ral. Pertama, senangi dulu bidang kuliah dan organisasi yang kita ikuti. Menurutnya, ka­lau sudah tidak suka dengan keduanya, akan susah untuk meraih prestasi yang baik. Alih-alih kuliah dan organisasi bisa berantakan. Kedua, dahulukan mana yang lebih penting. Buat prioritas sesuai keadaan yang kita hada­pi. Ketiga, belajar secukupnya diwaktu yang efektif dengan terlebih dulu mengenali cara belajar kita. 

“Nah, yang terakhir, jika malu ber­tanya maka jalan-jalan,” ujar Hapin setengah bercanda. Bukan dalam arti yang sering kita dengar. Kalau sudah tidak tahu, jangan sam­pai kita tersesat di jalan. Manfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya seperti mense­lancari internet, menyusuri halaman demi halaman buku, bertanya pada orang lain, dan sebagainya. (Arik dan Rio)

Pilihanmu, Masa Depan Bangsa Ini



Oleh: Ahmad Sulaiman (Gubernur BEM FMIPA Unila)

Sejak munculnya re­formasi hingga tragedi ‘98 sudah menjadi cukup bukti bahwasanya pemuda meru­pakan aktor pent­ing dari setiap perubahan wajah bangsa ini. Hampir semua kalangan mengetahui sepak terjang pemuda beberapa dekade terakhir. Pembi­caraan mengenai semangat dan pola kepe­mimpinan pemuda pun sudah menjadi hal yang lumrah disetiap kalangan. Banyak sejarah yang sudah diukir oleh pemuda di negeri ini, Bahkan bisa dikatakan Indonesia merdeka karena pemuda. 

Sudah banyak nama-nama besar pemuda terdahulu seperti, Bung Tomo, Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh dan lain-lain. Mereka telah membuat harum nama besar pemuda di negeri ini. Dewasa ini, besar dan harumnya reputasi pemuda mu­lai tercoreng oleh tindakan para pemuda itu sendiri. Tauran, narkoba, pencurian, premanisme dan arogansi pemuda dan lain­nya telah mencoreng reputasi pemuda saat ini. Pemuda yang dahulunya merupakan tempat berlindung dan sahabat bagi ma­syarakat, kini sebagian besar telah berubah menjadi momok bahkan musuh bagi mereka. Arogansi dan kebebasan berekspresi yang disalahgunakan serta emosional yang tinggi telah membuat para pemuda lebih cenderung untuk mementingkan kepentingan kelompok dan melupakan hal penting tentang kebe­basan dimana setiap orang juga mempunyai kebebasan yang sama. 

Lihat saja geng-geng motor yang ada daerah Bandung, mereka mulai bertindak diluar batas. Para pelajar di kota-kota besar seperti Jakarta, Jogja, Medan dan sebagainya yang sepertinya sudah biasa menjadikan tauran sebagai tradisi kelompok mereka atau malah tragedi September 2011 yang terjadi di lingkungan kampus Universitas Lampung. lalu muncul sebuah pertanyaan, tindakan srategis apa yang harus kita lakukan untuk menanggapi masalah ini ? 

“Ikut dalam barisan pemuda yang terus-menerus menghibur diri mereka dan bernostalgia dengan mengingat-ingat serta mengenang nama-nama besar dari tokoh pemuda terdahulu tapi tidak melakukan tindakan pasti untuk mencontohnya kah? Terbawa arus dalam permasalahan sosial dan ikut dalam barisan penghacur reputasi pemuda yang sudah keropos saat ini ? atau bertindak sebagai agen perubahan dengan memberi manfaat positif dalam setiap ke­beradaan dan tindakan kita sebagai pemuda masa depan bangsa kepada masyarakat dan bangsa ini ?” 

Kita sebagai mahasiswa, yang telah diberikan kelebihan untuk dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi daripada kawan-kawan kita yang kurang beruntung lain­nya, seharusnya dengan kelebihan ini dan semangat serta idealisme dari jiwa pemuda itu sendiri kita bisa lebih memahami dan me­maknai permasalahan yang tumbuh saat ini. Dengan berorganisasi dan ikut dalam lemba­ga kemasyarakatan lainnya merupakan suatu cara yang efektif untuk kita para penerus bangsa dapat lebih memahami dan memak­nai hakekat hidup yang sebenarnya. 

Semoga tulisan singkat ini dapat menjadi sebuah referensi berpikir kita bersama.
Jaya Indonesia, Salam Pemuda dan Hidup Mahasiswa.

Biar Ngampus Nggak Sekadar Status


Oleh: Hermansyah Romadhona ( Pimpinan Umum UKMF Natural FMIPA Unila )

Siswa ≠ MAHA­siswa

Bedanya jelas dong?
Mahasiswa saat­nya memiliki ini­siatif yang lebih tinggi ketimbang anak sekolahan alias siswa. Jadi mahasiswa harus­nya tidak apatis!
Ngakunya sih mahasiswa, memang­nya mahasiswa itu apa? Mau jadi mahasiswa yang seperti apa? Biasa–biasa saja, dikenal banyak orang, super aktif, atau punya ilmu yang luar biasa? Itu semua kembali lagi pada pribadi masing-masing ingin jadi yang seperti apa. 

Tapi, bagaimana kita merubah cara pandang kita untuk jangan sampai jadi ma­hasiswa yang biasa-biasa saja? Mencari ilmu itu memang jangan pernah bosan. Karena ke­tika kita bekerja keras untuk mendapatakan ilmu dan ilmu itu sudah kita dapat, kemudian kita bagi kepada orang lain maka ilmu itu ti­dak akan habis. Justru akan bertambah dan berkembang. Lain halnya jika kita bekerja keras untuk mencari harta. Ketika kita beri­kan kepada orang lain, ia akan habis. Jadi, itulah mulianya orang yang mencari ilmu. 

Nah, mencari ilmu di ruang kuliah sepertinya belum lengkap kalau kita nggak ikut organisasi. Memang sih begitu banyak jenis organisasi, yang terpenting bagaimana kita menyikapinya dan mengambil kebi­jakan untuk memilih yang sesuai dengan hati kita. Terkadang ada mahasiwa yang ketika bergabung dalam organisasi hanya karena ‘ikut-ikutan’ teman. Wah, lagi-lagi cara ber­pikir seperti ini bukan termasuk kategori ber­pikirnya mahasiswa. 

Mahasiswa harusnya memiliki karakter tegas, bijaksana, penuh semangat dan berani mengambil resiko. Seperti halnya 3 peran penting mahasiswa, yakni agent of change, control social dan iron stock. Karena pemimpin–pemimpin di­masa mendatang tentu saja lahir dari orang-orang yang berpendidikan alias mahasiswa. Mahasiswa itu cerdas, pintar, hebat dan bisa dalam segala hal. Itulah pandangan masyara­kat awam. Namun, benarkah itu? Apakah bisa dibuktikan? 

Boleh berbangga tapi tetap tidak untuk disombongkan apabila pujian itu ter­lontar kepada kita, sang MAHAsiswa. Na­mun ketika pujian itu tidak sesuai dengan pada kenyataannya, maka betapa sakit dan kecewanya mereka. Ternyata sosok maha­siswa hanyalah orang-orang biasa yang me­nyimpan ego tinggi dalam dirinya. 

Maka dari itu, peluang kita un­tuk mendapatkan ilmu selain di ruang ku­liah, kita juga bisa bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Karena banyak ilmu yang nantinya akan kita dapat­kan. Mulai dari melatih mental, berlatih ber­tanggung jawab, belajar berinteraksi dengan orang lain yang kemudian akan kita aplikasi­kan nantinya dalam kehidupan bermasyara­kat. Tapi ketika kita merasa sudah pintar, jangan sekali-kali terkesan menggurui orang lain. 

Nggak rugi deh jika membagi waktu di kampus dengan berorganisasi. Asalkan kita bisa membagi waktu bagaima­na menempatkan diri. Ketika kuliah fokus kuliah dan begitupun di organisasi. Belajar menempatkan sesuatu sesuai pada posisinya.
Banyak yang bilang, kita belum bisa mengambil kesimpulan terhadap sesuatu se­belum kita mencobanya atau melakukan­nya. Sekali lagi jangan pernah malu untuk mencoba, karena ketika kita malu, kita akan malu selamanya. 

Satu keberhasilan dalam diri kita akan terwujud manakala kita bersungguh-sungguh dan berinisiatif untuk menggapa­inya. Namun ketika kita hanya didorong un­tuk ini, untuk itu, harus begini, harus begitu, tetapi tidak ada semangat sedikit pun dalam diri kita maka sedikit juga kemungkinan kita dapat mencapainya.

Kehilangan Motor Kembali Terjadi

Pencurian kendaraan bermotor terjadi di FMIPA. Kali ini menimpa Kiki, mahasiswa jurusan Biologi angkatan 2010. Motor yang di parkir di Laboratorium Bi­ologi 1 tersebut raib pada hari Senin, 3 Sep­tember 2012, pukul 13.00. Pada saat yang bersamaan, mahasiswi semester 5 ini sedang berada di Gedung Fasilitas Bersama (GFB). 

Seorang penjaga gedung Laborato­rium Biologi (LB) 1 yang akrab dipanggil Mas Yanto menjadi saksi mata dan melihat aksi perampok yang berjumlah dua orang. Namun nahas, saat Mas Yanto melihat ke­jadian, pelaku menodong dengan meng­gunakan senjata api. Tanpa bisa melakukan perlawanan, penjaga gedung tersebut ber­balik arah dan segera melaporkan kejadi­an tersebut kepada satpam FMIPA Unila setelah para pelaku perampokan pergi. 

“Terjadinya kehilangan motor di FMIPA karena kurangnya satpam yang hanya 2 orang, Pak Saleh dan Pak Syam­sul. Jadi perlu ada penambahan satpam dan kalau bisa menutup portal sehingga cukup satu akses masuk dan keluar FMI­PA,” tutur penjaga gedung LB 1 tersebut. 
Dari pihak satpam sendiri su­dah berusaha untuk sebisa mungkin me­minimalisir kemungkinan adanya tindak kriminal, diantaranya dengan membuat himbauan seperti “Perhatian! Siapapun di­larang duduk diatas motor di area parkir!”. Untuk memperkecil kemungkinan agar pelaku kriminal tidak bisa beroperasi.
Terkait portal di dekat LB 1 yang di­tutup tidak menutup kemungkinan akan ditu­tup selamanya, jika bisa di FMIPA cukup ada satu pintu akses keluar dan masuk untuk pen­ingkatan keamanan. “Harapannya semua him­bauan yang telah dibuat oleh kami bisa ditaati untuk keamanan dan kenyamanan bersama,” tegas satpam FMIPA Unila Syamsul Bakri. 

Untuk meningkatkan keaman­an, dari pihak dekanat menghimbau dan menekankan kepada mahasiswa yang me­miliki kendaraan harus lebih hati-hati. Jika parkir kendaraan juga seharusnya parkir pada tempatnya untuk memudahkan satpam dalam mengawasi keamanan kendaraan. “Sebena­rnya portal tidak begitu berpengaruh terhadap keamanan, meskipun akses keluar dan masuk Fakultas MIPA banyak itu tidak masalah, bisa dibandingkan dengan fakultas lain sep­erti FEB dan FISIP justru akses mereka lebih banyak,” tegas Ir. Dra. Netti Herawati, M.Sc selaku Pembantu Dekan II FMIPA Unila. Se­lain itu dari pihak dekanat menjelaskan bah­wa tidak ada penambahan satpam. “Koor­dinasi satpam sudah sangat bagus, mereka sudah sering patroli untuk mengawasi ke­amanan di FMIPA Unila,” komentar Dosen matematika tersebut. (Sepria dan Yesi)

Perpindahan itu (Kembali) Terjadi


Gedung Fasilitas Bersama yang telah menjadi Jurusan Ilkom
Setiap perubahan akan membawa nilai-nilai baru, sama halnya rencana perpindahan sekretariat Lembaga Kemahasiswaan (LK) dan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) yang berada di Gedung Fasilitas Bersama (GFB) berpindah ke kantin. Hal serupa sudah pernah terjadi ketika program studi Ilmu Komputer dibuka, sekretariat LK yang semula bertempat di Gedung Mipa Terpadu dipindahkan ke Gedung Fasilitas Bersama (GFB). Perpindahan yang kembali terjadi ini tentunya akan sangat dirasakan oleh masing-masing penghuni LK.
Latar belakang Deportase Sekretariat LK
Agustus di Ruang Sidang Dekanat lantai 2, menjadi saksi bisu sosialisasi antara pihak dekanat dengan sepuluh LK di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam .  Suatu realitas yang mengejutkan, walaupun tidak dipungkiri  beberapa waktu yang lalu masalah ini pernah merebak. Suatu fakta bahwa seluruh sekretariat LK akan segera berpindah tempat di kantin.

Menurut Ir. Netty Herawati, M.Sc., Ph.D, Pembantu Dekan II bahwa sebenarnya Gedung Fasilitas Bersama (GFB) saat Netty menjabat sebagai Ketua Jurusan Matematika sudah dialokasikan untuk Ilmu Komputer, tapi pada saat itu ilmu komputer merasa belum membutuhkan suatu gedung. Oleh karena itu, kebijakan tentang kedudukan LK di FMIPA untuk menempati GFB dirasa harus digeser sedikit, dilihat kebutuhan dan prioritas yang utama, yaitu untuk program studi Ilmu Komputer yang dalam hal ini sudah menjadi jurusan

“Mutu pendidikan tergantung pada sarana dan prasarana. Seluruh civitas akademika, termasuk mahasiswa harus ikut membantu bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran,”ujar dosen Matematika ini.
Tentang perlunya kantin bagi seluruh civitas akademika di FMIPA disadari oleh Netty, walaupun untuk saat ini belum menjadi prioritas utama karena banyak hal yang dipertimbangkan dalam hal ini. Tapi untuk ke depannya pembangunan kantin yang baru tetap dipikirkan, termasuk dimana letak kantin yang baru nantinya.

Bertolak dari hal tersebut, pihak dekanat sudah mencari solusi terbaik dengan mengadakan rapat bersama seluruh LK. Hasilnya, secara keseluruhan pembahasan tersebut menyatakan bahwa adanya deportase LK.
Setelah dilakukannya sosialisasi dari pihak dekanat, BEM selaku lembaga Eksekutif tertinggi di FMIPA langsung mengundang seluruh ketua LK di FMIPA untuk membahas langkah selanjutnya mengenai harapan terhadap kondisi sekretariat baru yang dilihat secara keseluruhan sehingga tempat yang baru layak untuk ditempati. 

”Kami mengajukan tuntutan kepada pihak dekanat. Kami baru akan pindah kalau tuntutan kami tersebut sudah terpenuhi, atau minimal ada usaha untuk memenuhinya. Kita tidak mau asal pindah sekret. Terlebih lagi hubungan antar LK yang ada disini memang sudah sangat dekat satu sama lain. Jadi sayang kalau hal itu hilang,”Ujar Gubernur BEM FMIPA saat ditemui kru Natural.

Menanggapi hal tersebut, Netty sendiri memang belum menerima surat apa-apa dari hasil keputusan diskusi antara ketua LK. “Yang saya ingin himbau kepada seluruh LK di FMIPA. Lihatlah hal-hal yang paling utama, jangan sampai mengutamakan kepentingan LK dengan mengabaikan kepentingan yang lebih besar. Lihat kepentingan yang lebih besar dibandingkan dengan fasilitas kalian,”tuturnya.

Menurut Dekan FMIPA, Prof. Suharso, Ph.D, membangun gedung baru tidak semudah yang dipikirkan. “Kantin juga berada disamping laboratorium. Saya khawatir makanan itu tercemar, sekian tahun kedepan dampaknya baru dirasakan. Tapi di sisi lain mahasiswa butuh layak tempat perkuliahan, tidak ada jalan lain kecuali memindahkan sekret LK ke kantin,”tuturnya.

Dari segi penampilan terkait tata letak kantin memang tidak nyaman dilihat, banyak tumpukan sampah. Itu yang menyebabkan kampus FMIPA terlihat tidak indah.“Ketika sekret LK nanti pindah kesana, perlahan-lahan nanti kantin kita perbaiki,”ujarnya.
Untuk pembangunan baru untuk kantin sendiri, menurut dosen jurusan kimia ini memang sudah ada investor yang ingin membangun kantin yang lebih bagus. “Kalau investor sih sudah ada, nanti kita upayakan. Kita juga harus lihat tata ruangnya, kalau dibangun di depan GFB merusak tata ruang. Inikan daerah hijau, membangun kantin memang bagus dari segi bisnis, dari segi tata ruang, keindahan tidak bagus”.

Skala Prioritas Dalam 3 Pilihan
“Saat ini kita dihadapkan dengan 3 pilihan ; Pertama adalah kantin tetap pada tempat semula, organisasi tetap berada di GFB tapi kegiatan Akademik tidak berjalan lancar. Kedua, kantin tetap jalan dan akademik jalan, tapi organisasi off atau tidak berjalan. Yang terakhir adalah akademik dan organisasi berjalan lancar dan kantin off sementara. Namun bukan berarti kantin ditiadakan. Hanya untuk sementara dipindahkan. Karena juga masih dicarikan tempat yang lebih strategis,Jelas Sule, sapaan akrab Gubernur BEM FMIPA.
Kabar tentang pindahnya GFB ke kantin sebenarnya bukan hanya sebuah wacana saja, namun memang sebuah keputusan. Dan keputusan ini bukan hasil dari diskusi LK, BEM, atau UKM, tapi memang mutlak keputusan langsung dari dekanat.

Menurut mahasiswa jurusan Fisika ini, keputusan pindahnya GFB ke kantin juga bukan keputusan tanpa pertimbangan. Ada alasan yang memang di anggap urgen untuk diambilnya keputusan itu. Salah satu alasan itu adalah agar berjalannya kegiatan perkuliahan yang lancar. Mengingat adanya jurusan baru di FMIPA yaitu Ilmu Komputer yang otomatis akan memerlukan gedung baru. Maka GFB menjadi satu pilihan yang akan diambil. Selain itu juga akan digunakan sabagai gedung Pascasarjana.

Lanjutnya, Ilmu Komputer sebagai jurusan baru di FMIPA memang belum memiliki gedung sendiri untuk menunjang kegiatan perkuliahan yang aktif. Dan dengan membangun gedung baru sebagai pilihan untuk gedung Ilmu Komputer dalam waktu dekat ini, dianggap bukan pilihan yang tepat. Pertimbanganya adalah karena memerlukan waktu yang cukup lama hingga gedung jadi dan dapat dipakai. Sedangkan saat ini Ilmu Komputer dan FMIPA memerlukan gedung untuk proses akreditasi.Tentunya, hal itu sebagai satu dari sekian jalan demi kemajuan FMIPA.

Dibandingkan harus membangun gedung baru, kantin yang nantinya akan digunakan sebagai gedung Lembaga Kemahasiswaan dan GFB yang akan menjadi gedung perkuliahan hanya memerlukan sedikit perbaikan. Kantin FMIPA juga berada pada posisi yang kurang strategis. Selain kurangnya akses mahasiswa dari luar FMIPA
Jadi kalau kita berbicara tentang skala prioritas, akademik menduduki urutan pertama, kedua organisasi, dan yang terakhir adalah kantin. Jadi akademik memang hal yang harus diutamakan terlebih dahulu dibandingkan organisasi dan kantin. Tapi tanpa menyampingkan pentingnya organisasi dan kantin,” tutup mahasiswa semester 7 ini diakhir wawancara.

Surat Datang, Berat badan Berkurang
“ Sehari setelah mendapat surat dari dekanat. Ketika saya menimbang ternyata berat badan saya turun, karena sangking terbawa pikiran.

Perpindahan sekretariat LK ke kantin ternyata membawa dampak tersendiri bagi para penjual di kantin FMIPA. Salah satunya yang dirasakan oleh Deni. Pria yang sudah 6 tahun mencari nafkah di kantin ini masih bingung harus berpindah kerja di mana kelak masa kontrak sudah habis, awal Oktober 2012.
6 tahun sudah saya kerja di kantin ini, dan saya juga harus membiayai anak yang masih sekolah di bangku SMA. Kalau memang kantin ini di tutup kita bingung mau cari kerja apa. Bayangkan, sekarang ini kan cari kerja susah. Dan maaf saya bilang ya, daripada harus mengemis, di kantin inilah saya bisa membiayai anak untuk sekolah. Kami memang di sini ada semacam surat perjanjian yaitu surat kontrak. Kontrak satu tahun sekali, ujarnya kepada kru Natural.

Bagi Deni, bekerja di kantin ini tidak hanya sekedar mencari nafkah, tapi juga membuatnya menjadi akrab layaknya keluarga sendiri dengan para mahasiswa dan dosen. “Jadi berat kalau harus pindah atau meninggalkan kantin ini. Tapi kalau memang baiknya harus seperti itu, setidaknya kami dicarikan tempat pengganti kantin ini, karena dulu dekanat berjanji seperti itu,” tuturnya.
Hal senada juga dirasakan oleh Suri. “Kalau memang bagusnya seperti itu si tidak apa-apa, tapi harapan kita memang dicarikan tempat penggantinya. Disediakan tempat yang lebih baik,” harapnya kepada pihak dekanat. (Sigit dan Silvana)

Kurikulum Baru, Inovasi Tingkatkan Akreditasi Fakultas


Perubahan kurikulum di FMIPA Unila dilatarbelakangi oleh perubahan kondisi global dan perubahan paradigma pengetahuan, belajar dan mengajar.” Ujar Dra. Dwi Asmi, M.Si., Ph.D., Pembantu Dekan I FMIPA.

Menurutnya, Dalam era globalisasi ini, dunia pendidikan mendapat tantangan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang diharapkan mampu berperan secara global. Pengaruh globalisasi ini mempengaruhi perubahan nilai kehidupan masyarakat ataupun perubahan tuntutan dunia kerja terhadap lulusan. Sehingga diperlukan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu, teknologi, seni, dunia kerja, dan profesi.

Perubahan kurikulum di perguruan tinggi di Indonesia awalnya menitikberatkan pada pemecahan masalah internal perguruan tinggi dengan target penguasaan pada ilmu pengetahuan dan teknologi seperti pada SK Mendiknas No. 056/U/1994. Tapi sekarang menekankan pada proses pendidikan yang mengacu pada konteks kebudayaan dan pengembangan manusia secara komprehensif, lebih universal. Targetnya adalah menghasilkan lulusan yang berkebudayaan dan mampu berperan di dunia internasional.

Rambu-rambu kurikulum baru kemudian ditetapkan dan dituangkan dalam SK Mendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik yang kemudian dilengkapi dalam SK Mendiknas No. 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi menggantikan SK Mendiknas No. 056/U/1994. Semula kurikulum ini disebut sebagai kurikulum berbasis isi (KBI), kemudian beralih menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK).

SK Mendiknas No. 232/U/2000 memberikan kebebasan berkreasi bagi setiap perguruan tinggi dalam mengembangkan kurikulum sesuai minat dan potensi masing-masing. Setiap perguruan tinggi dapat menuangkan potensi yang dimiliki menjadi yang terbaik dan melampaui standar mutu yang dituju.

Ada 3 Hal yang mendasari dilakukannya perubahan orientasi kurikulum dan luaran perguruan tinggi. Pertama, adanya kurikulum yang disarankan oleh UNESCO (The International Comission on Education for the 21 Century) agar lulusan mempunyai kemampuan belajar sepanjang hayat. Kedua, adanya persyaratan yang dituntut dari dunia kerja yaitu, penguasaan pengetahuan dan keterampilan, penguasaan teknologi informasi, kemampuan berkomunikasi minimal dalam dua bahasa, mempunyai pemahaman mengenai etika kerja dan lain sebagainya. Ketiga,  adanya timbal balik yang sepadan terhadap persyaratan kerja.

Oleh sebab itu, dengan diberlakukannya SK Mendiknas tersebut, masing-masing perguruan tinggi wajib menetapkan standar mutu kurikulum dan manajemen kurikulumnyasendiri. Pemberlakuanya tentusesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing perguruan tinggi.   Tentu saja dengan menjamin bahwa proses pembelajaran dan lulusannya sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Unila mempunyai kebijakan untuk melakukan peninjauan kembali kurikulum setiap 5 tahun sekali. MIPA sebagai salah satu fakultas di Unila tentunya melaksanakan kebijakan sesuai dengan kebijakan Unila. Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di Fakultas MIPA disusun berdasarkan pada hasil lokakarya kurikulum program studi/jurusan, fakultas, universitas maupun lokakarya bidang ilmu tingkat regional dan nasional.” Terang Dwi Asmi.

Salah satu Dosen Jurusan Fisika tersebut juga menjelaskan bahwa KBK FMIPA Unila 2012 hanya berlaku bagi mahasiswa baru tahun akademik 2012/2013, dan ditetapkan berdasarkan SK Rektor Unila No. 360/UN26/DT/2012 tentang Kurikulum Universitas Lampung Tahun Akademik 2012/2013, tanggal 9 Juli 2012 lalu. Dijelaskan juga bahwa mahasiswa lama FMIPA Unila tetap menggunakan kurikulum lama.

Dalam kurikulum baru ini, mata kuliah yang paling membedakan adalah Sains Dasar yang merupakan kombinasi dari Kimia, Fisika dan Biologi. "Pada dasarnya, mata kuliah sains dasar ini lebih luas membahas mengenai kehidupan sehari-hari. Pengetahuan seperti kehidupan luar angkasa atau astronomi pun dibahas dalam mata kuliah ini," ujar Kepala Jurusan Kimia, Andi Setiawan, Ph.D.
Dengan kata lain, pembuatan kurikulum baru yang dilakukan setiap 5 tahun sekali ini merupakan upaya, khususnya dari pihak dekanat, dalam meningkatkan akreditasi Fakultas MIPA. FMIPA yang benar-benar berkualitas membina dan menghasilkan lulusan yang berkompeten dalam bidangnya.
Pembuatan kurikulum baru tak lantas cukup mampu meningkatkan akreditasi Fakultas. Tak hanya butuh sokongan dari kurikulum, tapi juga mahasiswa dan dosen/tenaga pengajar. "Percuma, walaupun kita disuguhi kurikulum baru yang bagus sekali pun, jika mahasiswa dan dosen tak acuh, tidak ada artinya. Anggaplah akreditasi MIPA adalah seperti membangun sebuah rumah. Mahasiswa, dosen, pihak jurusan, dan pihak dekanat harusnya tak payah jika membawa masing-masing 1 buah batubata saja." Lanjut Andi.
Selalu ada parameter keberhasilan yang diukur dalam setiap kebijakan yang diambil. Dalam konteks kurikulum, parameter utama keberhasilannya adalah Indeks Prestasi Mahasiswa (IPK) dengan masa studi tidak lebih dari 4 tahun. Selain itu adalah seberapa lama masa tunggu lulusan dari fakultas tersebut sampai mendapat pekerjaan, terlebih bekerja dalam bidang terapannya saat menempuh pendidikan di MIPA.
Mewakili pihak dekanat, Pembantu Dekan I FMIPA menjelaskan harapan-harapannya sejalan dengan pemberlakuan kurikulum ini. “Kami berharap KBK Fakultas MIPA Unila ini dapat dilaksanakan dengan baik. (Umi dan Asti)

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...