Krakatau-ku Mengerang! Krakatau-ku Dipingit!

Banyak orang tahu, Krakatau punya potensi. Semua sampai bingung, bagaimana harus menggambarkan kein­dahan gunung yang ada di pulau terpen­ci...



Banyak orang tahu, Krakatau punya potensi. Semua sampai bingung, bagaimana harus menggambarkan kein­dahan gunung yang ada di pulau terpen­cil itu. GAK (Gunung Anak Krakatau) justru meletus pada awal September lalu. Meskipun terbilang letusan kecil dan tidak menimbulkan gelombang pasang, gunung anak Krakatau terlihat menyemburkan debu dan asap hitam ke udara. Abu vulkaniknya terbawa hingga ratusan kilometer. 

Anak Gunung Krakatau
Meskipun keadaan sempat me­ningkat dari level waspada ke siaga, kini Krakatau mulai tenang. Walaupun masih cukup sering terjadi gempa yang menye­babkan bergetarnya kaca jendela warga dan juga aktivitas asap tebal dari perut anak Krakatau yang terus menguar ke udara.
Status siaga memang cukup meng­khawatirkan warga sekitar, tapi aktivitas tetap harus berjalan. Nelayan masih tetap berlayar mencari ikan dengan menjaga jarak aman. Aktivitas jual beli di pasar pe­sisir pantai tetap ramai seperti biasa, meski Krakatau tengah bergemuruh di tengah Se­lat Sunda. 

Sejak meletus, debu vulkanik gu­nung anak Krakatau terbawa angin hingga menghujani kota Bandarlampung selama beberapa hari. Ada yang beranggapan bah­wa debu tersebut bukan berasal dari gunung anak Krakatau, melainkan berasal dari ke­bakaran lahan. Namun, hal itu dibantah oleh kepala dinas kesehatan Provinsi Lampung dengan melakukan uji laboratorium. Uji ini dilakukan untuk membuktikan kebena­ran dari spekulasi tersebut. Hasilnya me­nyatakan bahwa debu tersebut memang debu vulkanik yang bersumber dari letusan anak Krakatau. Masyarakat terus dihimbau agar berhati-hati terhadap debu vulkanik ini. Karena dapat menyebabkan ISPA atau gangguan saluran pernapasan.
Seperti inilah keadaan krakatau kita saat ini. Sesuatu yang sarat dengan po­tensi pariwisata kini justru menjadi objek himbauan. Semua dilarang mendekati. Pu­lau kecil yang ditumbuhi banyak jenis flora itu tanpa sadar tengah dipingit. (Tri dan Umi/Sumber Internet)

Related

Berita Kampus 2116919240544128051

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item