Kurikulum Baru, Inovasi Tingkatkan Akreditasi Fakultas

“ Perubahan kurikulum di FMIPA Uni la dilatarbelakangi oleh perubahan kondisi global dan perubahan paradigma pengetahuan, belajar dan mengaj...


Perubahan kurikulum di FMIPA Unila dilatarbelakangi oleh perubahan kondisi global dan perubahan paradigma pengetahuan, belajar dan mengajar.” Ujar Dra. Dwi Asmi, M.Si., Ph.D., Pembantu Dekan I FMIPA.

Menurutnya, Dalam era globalisasi ini, dunia pendidikan mendapat tantangan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang diharapkan mampu berperan secara global. Pengaruh globalisasi ini mempengaruhi perubahan nilai kehidupan masyarakat ataupun perubahan tuntutan dunia kerja terhadap lulusan. Sehingga diperlukan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu, teknologi, seni, dunia kerja, dan profesi.

Perubahan kurikulum di perguruan tinggi di Indonesia awalnya menitikberatkan pada pemecahan masalah internal perguruan tinggi dengan target penguasaan pada ilmu pengetahuan dan teknologi seperti pada SK Mendiknas No. 056/U/1994. Tapi sekarang menekankan pada proses pendidikan yang mengacu pada konteks kebudayaan dan pengembangan manusia secara komprehensif, lebih universal. Targetnya adalah menghasilkan lulusan yang berkebudayaan dan mampu berperan di dunia internasional.

Rambu-rambu kurikulum baru kemudian ditetapkan dan dituangkan dalam SK Mendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik yang kemudian dilengkapi dalam SK Mendiknas No. 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi menggantikan SK Mendiknas No. 056/U/1994. Semula kurikulum ini disebut sebagai kurikulum berbasis isi (KBI), kemudian beralih menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK).

SK Mendiknas No. 232/U/2000 memberikan kebebasan berkreasi bagi setiap perguruan tinggi dalam mengembangkan kurikulum sesuai minat dan potensi masing-masing. Setiap perguruan tinggi dapat menuangkan potensi yang dimiliki menjadi yang terbaik dan melampaui standar mutu yang dituju.

Ada 3 Hal yang mendasari dilakukannya perubahan orientasi kurikulum dan luaran perguruan tinggi. Pertama, adanya kurikulum yang disarankan oleh UNESCO (The International Comission on Education for the 21 Century) agar lulusan mempunyai kemampuan belajar sepanjang hayat. Kedua, adanya persyaratan yang dituntut dari dunia kerja yaitu, penguasaan pengetahuan dan keterampilan, penguasaan teknologi informasi, kemampuan berkomunikasi minimal dalam dua bahasa, mempunyai pemahaman mengenai etika kerja dan lain sebagainya. Ketiga,  adanya timbal balik yang sepadan terhadap persyaratan kerja.

Oleh sebab itu, dengan diberlakukannya SK Mendiknas tersebut, masing-masing perguruan tinggi wajib menetapkan standar mutu kurikulum dan manajemen kurikulumnyasendiri. Pemberlakuanya tentusesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing perguruan tinggi.   Tentu saja dengan menjamin bahwa proses pembelajaran dan lulusannya sesuai dengan yang telah ditetapkan.

Unila mempunyai kebijakan untuk melakukan peninjauan kembali kurikulum setiap 5 tahun sekali. MIPA sebagai salah satu fakultas di Unila tentunya melaksanakan kebijakan sesuai dengan kebijakan Unila. Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di Fakultas MIPA disusun berdasarkan pada hasil lokakarya kurikulum program studi/jurusan, fakultas, universitas maupun lokakarya bidang ilmu tingkat regional dan nasional.” Terang Dwi Asmi.

Salah satu Dosen Jurusan Fisika tersebut juga menjelaskan bahwa KBK FMIPA Unila 2012 hanya berlaku bagi mahasiswa baru tahun akademik 2012/2013, dan ditetapkan berdasarkan SK Rektor Unila No. 360/UN26/DT/2012 tentang Kurikulum Universitas Lampung Tahun Akademik 2012/2013, tanggal 9 Juli 2012 lalu. Dijelaskan juga bahwa mahasiswa lama FMIPA Unila tetap menggunakan kurikulum lama.

Dalam kurikulum baru ini, mata kuliah yang paling membedakan adalah Sains Dasar yang merupakan kombinasi dari Kimia, Fisika dan Biologi. "Pada dasarnya, mata kuliah sains dasar ini lebih luas membahas mengenai kehidupan sehari-hari. Pengetahuan seperti kehidupan luar angkasa atau astronomi pun dibahas dalam mata kuliah ini," ujar Kepala Jurusan Kimia, Andi Setiawan, Ph.D.
Dengan kata lain, pembuatan kurikulum baru yang dilakukan setiap 5 tahun sekali ini merupakan upaya, khususnya dari pihak dekanat, dalam meningkatkan akreditasi Fakultas MIPA. FMIPA yang benar-benar berkualitas membina dan menghasilkan lulusan yang berkompeten dalam bidangnya.
Pembuatan kurikulum baru tak lantas cukup mampu meningkatkan akreditasi Fakultas. Tak hanya butuh sokongan dari kurikulum, tapi juga mahasiswa dan dosen/tenaga pengajar. "Percuma, walaupun kita disuguhi kurikulum baru yang bagus sekali pun, jika mahasiswa dan dosen tak acuh, tidak ada artinya. Anggaplah akreditasi MIPA adalah seperti membangun sebuah rumah. Mahasiswa, dosen, pihak jurusan, dan pihak dekanat harusnya tak payah jika membawa masing-masing 1 buah batubata saja." Lanjut Andi.
Selalu ada parameter keberhasilan yang diukur dalam setiap kebijakan yang diambil. Dalam konteks kurikulum, parameter utama keberhasilannya adalah Indeks Prestasi Mahasiswa (IPK) dengan masa studi tidak lebih dari 4 tahun. Selain itu adalah seberapa lama masa tunggu lulusan dari fakultas tersebut sampai mendapat pekerjaan, terlebih bekerja dalam bidang terapannya saat menempuh pendidikan di MIPA.
Mewakili pihak dekanat, Pembantu Dekan I FMIPA menjelaskan harapan-harapannya sejalan dengan pemberlakuan kurikulum ini. “Kami berharap KBK Fakultas MIPA Unila ini dapat dilaksanakan dengan baik. (Umi dan Asti)

Related

Berita Kampus 7818724891322239840

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item