Kampusku (Bukan) Go Green

Pojok belakang Gedung Fasilitas Bersama (GFB) dipenuhi sampah, Rabu (10/10) Seluas mata memandang, sulit rasanya mendapati pojok-pojok fakul...

Pojok belakang Gedung Fasilitas Bersama (GFB) dipenuhi
sampah, Rabu (10/10)
Seluas mata memandang, sulit rasanya mendapati pojok-pojok fakultas kita tanpa sampah. Daun-daun kering tumpang-tindih menutup jalan. Selalu ada gundukan-gundukan sampah di pojok-pojok gedung perkuliahan. Di sudut-sudut bangunan bahkan terlihat sengaja ditumpuk hingga menguar bau busuk. Kampus hijau tapi dibiarkan kering, kampus go green tapi sekadar hanya wacana. Bukankah terlalu tinggi ketika menyebut diri sebagai mahasiswa? 

Mahasiswa tak mau malu sekadar memungut satu botol bekas di jalan. Tak mau ambil pusing ketika langkah kakinya tersaruk daun-daun kering di pelataran. Lebih baik cepat sampai di kelas karena sudah telat akibat bangun kesiangan atau karena tugas yang lupa dikerjakan. 

Tak pernah ada yang bilang bahwa sampah adalah masalah sepele, toh masalah yang dianggap sepele ini pun tak pernah bisa teratasi. Sekali dua kali memang dibersihkan, tapi tak lama ditumpuk menggunung kembali hingga menguar bau busuk. FMIPA kembali kotor karena semua menganggap TPS (Tempat Pembuangan Sampah) ada di mana-mana tanpa bentuk. 

Terkadang bahkan sempat terbatuk ketika asap pembakaran mulai menyelinap masuk ke ruang kelas. Tak ada yang menanggulangi. Pembakaran sampah beberapa kali terus dilakukan di samping kelas. Tak mau tahu apa dampaknya, yang penting sampah musnah dari FMIPA. 

Lingkungan kaum intelek tak ubahnya pemukiman kumuh. Tak ada kotak sampah memadai. Seolah kita bisa dengan leluasa membuang sampah dimana saja. Tak ada larangan yang memberatkan. Terus menjadi sosok mahasiswa yang apatis terhadap lingkungan. Hidup 'masa bodo' di tengah hiruk pikuk intelektualitas. 

Mahasiswa terus-menerus berkilah bahwa pananganan masalah sampah sudah jelas itu masalah fakultas, sudah ada yang membersihkan. Mahasiswa hanya menuntut ilmu, hanya kuliah. Jadi tidak jelas, sebenarnya tumpukan sampah ini tanggung jawab siapa? Atau kesadaran kita sebagai manusia yang perlu dipertanyakan? 

Kampus go green, tapi terlihat seperti lautan sampah. Fakultas sains, tapi minim kreativitas ilmiah dalam memanfaatkan barang-barang bekas. Fakultas ini rumah kita. Bukan hanya tanggung jawab para petinggi dekanat bahkan rektor. 

Selalu ada wacana untuk menanam satu pohon untuk kelangsungan go green. Tapi sekali lagi hanya wacana. Manusia lebih pandai berteori ketimbang praktik. Bisa menanam, tapi tak (mau) tahu cara mengurus. Dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa pemeliharaan. Melestarikan hidup bersih dan sehat di lingkungan kampus merupakan kewajiban seluruh civitas akademika. Tak pandang itu rektor, dosen, karyawan bahkan mahasiswa. Semua punya tanggung jawab masing-masing dalam kebersihan Unila. Cermin kebersihan adalah iman, pernyataan ini pun tak lantas mampu menggerakkan setiap hati dalam menjaga kebersihan. Harus disadarkan dengan apa lagi? (Umi/Tira/Haryati/Nurmaya)

Related

Berita Kampus 5476799793944876820

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item