Kulit Raru dalam Penelitian

Kulit Raru yang menjadi bahan penelitian beberapa Dosen Kimia, Washinton Simanjuntak, Nurul Utami dan Heri Satria Sudah tak asing lagi di te...

Kulit Raru yang menjadi bahan penelitian beberapa Dosen
Kimia, Washinton Simanjuntak, Nurul Utami dan Heri Satria
Sudah tak asing lagi di telinga kita bahwa pemanfaatan tumbuhan kini tak hanya dari buahnya saja. Baik biji, akar, batang, daun bahkan kulitnya pun kini tak luput dari perhatian. Sudah menjadi hal lumrah dalam kehidupan, tapi tetap berkesan wahdan istimewa. Masyarakat akan tetap menerima hal baru yang disuguhkan dalam kehidupannya, apalagi hal tersebut terbilang cukup bermanfaat dalam keseharian.
berbicara soal pohon, siapa yang menyangka bahwa kulit dari pohon yang masih tumbuh dengan liar di daerah Sumatra Utara ini mempunyai kualitas dalam banyak hal. Bahkan masyarakat asli Tapanuli Sumatra Utara memanfaatkan tanaman ini sebagai bahan tambahan pembuatan minuman tradisional seperti tuak dan anggur. Selain itu, hasil rebusan dari kulit pohon raru ini dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit gula darah atau diabetes.
Tanaman sejenis raru ini ternyata sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sejak ratusan tahun yang lalu, khususnya oleh masyarakat Batak yang menggunakan tanaman ini untuk mengolah nira menjadi tuak. Masyarakat menganggap bahwa tuak adalah minuman memabukkan karena pada dasarnya memang mengandung alkohol. Banyak juga yang mengira bahwa proses fermentasi pada umumnya adalah menggunakan ragi, padahal tidak semua begitu. Minuman tradisional seperti tuak memang dibuat dengan adanya proses fermentasi di dalamnya (fermentasi gula menjadi alkohol). Akan tetapi, proses fermentasi yang terjadi sama sekali tidak menggunakan ragi, melainkan kulit pohon raru.
Tidak ada ragi dalam kulit pohon raru, tapi kenyataannya kulit dari pohon ini juga mampu memfermentasi gula menjadi alkohol. Karena hal inilah, ketiga dosen dari Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Wasinton Simanjuntak, Ph.D., Nurul Utami dan Heri Satria berspekulasi bahwa terdapat sesuatu dalam kulit raru yang membuatnya mampu memfermentasi gula. Sehingga muncullah sebuah riset mengenai analisa mikroba endofitik dalam kulit raru yang akan segera dipublikasikan dalam waktu dekat ini.
Pengamatan terhadap pohon raru sebenarnya telah mereka lakukan dua tahun yang lalu. Sedangkan untuk analisa mikroba pada tanaman ini baru dimulai pada awal tahun ini. Sampai saat ini, penelitian yang dilakukan dalam tahap pertama ini telah terselesaikan. Dengan menghasilkan beberapa isolat bakteri yang belum diberi nama (masih dalam kode) hanya dengan 3 cm kulit raru.
Penelitian ini terbilang sama dengan penelitian laboratorium lainnya. Tiga centimeter kulit pohon raru ini diekstrak dan di isolasi lalu diletakkan ke dalam sebuah media. Setelah dalam beberapa waktu yang ditentukan, maka akan mulai terbentuk bintik-bintik koloni dalam media tersebut. Setelah menemui akhir penelitian tahap pertama ini, didapat dua belas isolat bakteri. Kedua belas isolat ini kembali diuji kemampuannya dalam menghasilkan alkohol.
Uji isolat dilakukan dengan mereaksikannya dengan larutan kalium permanganat. Warna kalium permanganat yang hilang menunjukkan uji yang dilakukan bersifat positif. Dari dua belas isolat bakteri yang diuji, ternyata hanya enam isolat yang menunjukkan uji positif. Artinya, terdapat enam isolat yang mampu menghasilkan alkohol.
Tidak ada penelitian yang mampu melarikan diri dari sebuah kegagalan kerja. Pada kenyataannya, kendala terbesar penelitian laboratorium pun kadang kala tak menemui titik akhir. Apalagi yang diteliti adalah makhluk kecil bernama mikroba. Makhluk yang punya tingkat kesensitifan tinggi dalam hal kontaminasi. Adanya kontaminan sedikit saja, maka hasil yang diperoleh akan jauh berbeda dari teori yang dipegang teguh. Wasinton juga mengakui hal ini sebagai kendala terbesar dalam penelitian raru.
Kalau memperasalahkan mengenai efektivitas antara ragi dan mikroba dari kulit raru dalam penggunaannya dikehidupan sehari-hari, bisa melihat dari pola waktunya. Misalkan dalam pembuatan tapai yang difermentasi menggunakan ragi, butuh dua sampai tiga hari untuk proses fermentasinya. Sedangkan menggunakan kulit raru, kita hanya butuh beberapa jam saja. Tentu saja dengan hasil yang tak kalah produktif dan tetap komsumtif.
Penelitian tahap lanjut dari kulit raru ini adalah penetapan nama dari mikroba yang telah ditemukan. Masing-masing jenis akan mulai dikenali satu per satu, diteliti jauh lebih dalam dari penelitian sebelumnya.
“Sebenarnya cita-cita saya pribadi, dari hasil penelitian ini kita bisa bangun sebuah produksi baru. Katakanlah industri tapai menggunakan fermentasi kulit raru. Selama ini kita tahu bahwa belum ada yang namanya pabrik tapai di Indonesia, selama ini tapai asli produksi dari olahan masyarakat. Nah, karena itu kita kembangkan di Lampung sampai menuju nasional bahkan internasional,” jelas Wasinton ketika ditemui di ruangannya, Jumat (12/10).
Pada dasarnya tidak ada hal yang belum pernah ditulis dalam ilmu pengetahuan. Untuk itu, kita cukup mengembangkan penelitian yang terlebih dulu ada. Bukan berarti tak punya ide atau tak profesional, itulah ilmiah. Akan tetapi, penelitian mikroba endofitik dalam kulit raru ini termasuk penelitian pertama, baru FMIPA Unila yang memulai melakukan penelitian.

Kompetensi sepertinya tak perlu dipertanyakan lagi. Para tenaga pengajar yang kompetitif seperti ini yang kerap kali disesali bila tak dihiraukan. Sosok-sosok yang mempunyai ide-ide dan gagasan-gagasan cermat. Terus-menerus melakukan perbaikan terhadap ilmu pengetahuan. Semoga FMIPA lebih baik. (Umi dan Yesi)

Related

Berita Kampus 3338093843168343597

Posting Komentar

  1. Info yg menarik dan bagus.
    Jangan menyerah dengan keadaan.
    Ilmu Pengetahuan itu memang luas, mungkin seluas dunia ini.
    Sekecil apapun itu, sangat besar nilainya.

    BalasHapus
  2. Horas pak Wasinton, boi do tarboto na songon dia do pphon raru i. Didia do boo mamereng pohon raru i?? Adong do kemungkinan mandapothon bibit manang benih ni pohon raru i. Naeng di tanom nian bah. Au jh panggabean jurusan fisika unimed.
    Mauliate.

    BalasHapus

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item