FMIPA Kini, Dulu, dan Nanti

Organisasi mahasiswa memiliki banyak peranan penting di kampus. Sebagaimana pengalaman mengajarkan banyak perubahan yang terjadi dalam kehi...


Organisasi mahasiswa memiliki banyak peranan penting di kampus. Sebagaimana pengalaman mengajarkan banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan di kampus, di masyarakat, berbangsa dan bernegara yang mengalami perubahan karena peran serta dari mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiwa tersebut. Kita sering mendengar istilah bahwa mahasiswa adalah “The agent of change”, hal itu benar adanya karena sama-sama kita saksikan banyak perubahan yang terjadi karena peran mahasiswa.

Di kampus, organisasi mahasiswa berperan sangat penting. Organisasi merupakan sarana untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa pada petinggi-petinggi kampus seperti rektor, dekan, dosen dan sebagainya. Tidak selamanya keputusan yang dibuat oleh petinggi kampus dapat diterima begitu saja oleh mahasiswa. Jadi, melalui organisasi inilah aspirasi-aspirasi tersebut bisa disampaikan.

Kemajuan Fakultas MIPA tak luput dari kontribusi mahasiswanya. Maka dari itu sangat disayangkan ketika hubungan antar mahasiswa kurang terasa harmonis, baik dalam satu angkatan, satu jurusan atau bahkan sampai berbeda jurusan dan angkatan. Seolah bukan menjadi rahasia lagi ketika ada sekelompok mahasiswa yang senantiasa memiliki aspirasi-aspirasi dan membuat  wadah untuk mengumpulkan aspirasi tersebut. Sekelompok mahasiswa ini yang menyatakan punya kepedulian untuk memajukan FMIPA lebih baik, sehingga menamakan kumpulan ini Gerakan Peduli MIPA (GPM). Tidak ada struktur seperti ketua dan sebagainya di dalam perkumpulan ini.

Aspirasi yang tak dianggap

Mereka yang mengatasnamakan Gerakan Peduli MIPA (GPM)memiliki aspirasi-aspirasi kritik dan saran untuk kemajuan FMIPA lebih baik. Mereka melihat seolah sistem kekeluargaan di FMIPA kurang baik, serta kegiatan di FMIPA seolah datar-datar saja tidak ada acara meriah yang melibatkan semua pihak di FMIPA, serta kami ingin tidak dibeda-bedakan antar mahasiswa. Itulah point penting aspirasi mahasiswa dalam perkumpulan ini.

Saya sangat ingin sekali tentunya FMIPA lebih baik dan lebih maju, dan saya mendukung ketika ada kegiatan dimana itu bisa memajukan fakultas kita” ujar Dani Agus Setiawan, salah seorang Mahasiswa Kimia yang tergabung dalam GPM.

Saya melihat MIPA bidang saintis, jadi jangan bergelut pada satu titik yaitu pada bidang sains jadi kalau bisa diadakan wadah untuk mahasiswa yang memiliki kreativitas tinggi dan kreativitas yang beda untuk mereka dapat menyalurkan bakat seperti seni lukis, potret, pecinta alam, dsb,” lanjut Revi yang juga rekan Dani di perkumpulan tersebut.

BEM membuka pintu selebar-lebarnya

Sebenarnya mahasiswa banyak yang belum mengetahui progja BEM. BEM memiliki wewenang menaungi  HMJ sebagaimana Konstitusi KBM Unila 2006 dan BEM merupakan lembaga pengabdian, pelayanan, dan pelatihan politik. Sedangkan untuk lembaga pengkaderan dan keilmuan adalah tugas dari pada setiap HMJ,” ujar Ahmad Sulaiman selaku Gubernur BEM FMIPA.

Menurutnya, BEM sudah membuka pintu selebar-lebarnya kepada mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasinya untuk kemajuan FMIPA dan  sudah menyediakan kotak kritik dan saran untuk kemajuan FMIPA ternyata tidak ada juga yang menyampaikan lewat kotak kritik dan saran yang sudah terpasang di samping Mading GFB.

Kultur FMIPA yang Saintis dan Agamis

Ahmad Sulaiman mengatakan bahwa kita harus paham bahwa kultur atau identitas FMIPA itu adalah saintis dan agamis. Tentunya kultur itu harus tetap dijaga dengan baik, jangan sampai kultur itu pudar. Dengan begitu jelas bahwa kegiatan yang harusnya ada di FMIPA tentu harus sesuai dengan kultur tersebut.

Hal senada juga dikatakan oleh Achmad Rochfi’i, wakil gubernur BEM FMIPA periode 2009-2010, kultur MIPA yang aman dan tentram memang sudah terjadi dari sejak dulu.
Rochfi’i menambahkan bahwasannya kegiatan yang ada di FMIPA seharusnya disesuaikan dengan kultur FMIPA, lebih ke sainsnya. Sesuai dengan porsi dari kegiatan LK masing-masing. Misalnya ROIS dengan keagamaannya tetapi sentuhannya ada linier dengan ke-sainsnya, kemudian BEM walaupun dengan sosial politiknya tetapi juga harus ada juga yang bersinggungan dengan sainsnya.

“Jangan melupakan kita darimana, kalau kita di FMIPA tidak perlu mengambil lahan FKIP,” tutur mahasiswa matematika ini.

Kultur Sains yang membuat mahasiswa cenderung apatis

“Untuk masalah pergerakan FMIPA dari awal saya masuk sampai sekarang sepertinya tenang-tenang saja, pergerakan yang wah saja belum ada, apalagi kegiatannya,” ujar Ahmad Antoni, mahasiswa Matematika 2011.

Karya Wisata Ilmiah (KWI), itulah salah satu kegiatan besar yang terbilang wahdari BEM-F yang bisa menyatukan jurusan di FMIPA. Akan tetapi kegiatan yang hanya diadakan sekali setiap tahunnya itu masih belum tentu cukup untuk menyatukan seluruh jurusan di FMIPA. 

Pada saat KWI, silaturahmi antar jurusan FMIPA terasa kuat. Jabat erat dan tegur sapa antar mahasiswa begitu luar biasa, tetapi selepas kegiatan itu selesai ikatan itu pun berakhir juga. “Cuma satu kegiatan yang wah, kalau bisa selama satu kepengurusan BEM-F ada lebih dari satu kali kegiatan besar yang bisa menyatukan FMIPA,” tegas mahasiswa semester 3 ini.

Hal senada juga dikatakan oleh Reno Bagus, mahasiswa Matematika 2011 ini menilai bahwa FMIPA dengan kultur sainsnya sendiri cenderung apatis, lebih condong untuk menonjolkan diri sendiri dan bergerak secara individu. “FMIPA sekarang belum menyatu dikarenakan ego dari tiap jurusan yang kuat sehingga membuat banyak perbedaan,” tuturnya.

Reno menambahkan bahwa BEM FMIPA saat ini masih kurang dalam hal bersosialisasi, sehingga tidak cukup banyak mahasiswa yang belum mengenal staff di BEM dan ranah kerjanya pun belum tahu. “Saya masih kurang ngerti dan kurang paham ranah kerja BEM-F,” ungkapnya diakhir wawancara.

Kebanggaan tersendiri bagi FMIPA

FMIPA dikenal sebagai pesantrennya unila. Menurut Sule, sapaan akrab Gubernur FMIPA, kegiatan di FMIPA pun untuk tahun inidikemas oleh BEM lebih berbeda dari sebelumnya, tentunya tidak membuat progja yang monoton,  justru progja baru seperti contohnya bentuk pengabdian ke dalam yaitu kegiatan penanaman pohon di lingkungan FMIPA, dan bentuk pengabdian keluar yaitu penggalangan dana untuk Lampung Selatan.

Kondisi di FMIPA pun relatif baik, untuk tahun ini tentunya ada kegiatan baru seperti sabtu bersih di setiap awal bulan, dies natalis tahun ini pun berbeda yaitu ada seminar untuk publikasi jurnal ilmiah, bertajuk dari kita untuk kita. Tahun ini juga olimpiadenya jadi satu untuk seluruh bidang studi yang bekerjasama dengan seluruh HMJ biar terlihat lebih ramai dan meriah serta sukses, ada juga lomba-lomba pesta rakyat, tarik tambang dan sebagainya. Tentunya kita ingin tercipta keakraban yang baik,” paparnya.

Dekan berbicara

Prof. Suharso, Ph.D., selaku Dekan FMIPA pun berbicara bahwa memang tidak dapat dipungkiri dan disalahkan bahwa setiap mahasiswa punya pendapat dan selera yang berbeda-beda tetapi juga tidak boleh dipaksakan untuk sesuatu hal yang baru.

Jadi ketika ada aspirasi-aspirasi yang tujuannya baik dan membangun untuk FMIPA harap langsung sampaikan kepada pihak yang bersangkutan, yakni BEM-F dalam forum terbuka.
Kegiatan-kegiatan di FMIPA saya rasa sudah cukup baik, kalau dibilang monoton atau tidak ya tergantung pada apa kegiatan dan manfaatnya tersebut. Jadi yang mengusulkan dan yang nantinya melaksanakan kegiatan-kegiatan adalah mahasiswa.

Tentunya usulan kegiatan-kegiatan yang ingin diadakan di FMIPA seperti band atau musik ya langsung saja ada wadah yang menaungi yaitu UKMBS, yang hobi olahraga bisa di UKM bola, yang senang menolong orang lain bisa di UKM KSR PMI, yang ingin mendalami bidang keagamaan bisa di Birohmah atau UKM masing-masing agamanya. Dengan begitu masing-masing ada tempat atau wadahnya yang menaungi minat dan bakat mahasiswa. Jadi jangan dipaksakan dan tidak mesti diadakan di FMIPA. (Herman/Sepria/Sigit)


Related

Berita Kampus 6711131001334731865

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item