Teleskop Unila Belum Ada yang Memaksimalkan

Seperti yang kita ketahui, di dunia ini terdiri dari jutaan bahkan miliaran benda langit. Benda-benda langit tersebut jaraknya sangat jauh d...

Seperti yang kita ketahui, di dunia ini terdiri dari jutaan bahkan miliaran benda langit. Benda-benda langit tersebut jaraknya sangat jauh dari bumi dan tidak mungkin dilihat dengan mata telanjang. Untuk mengatasi hal tersebut, maka digunakanlah alat yang bernama teleskop.

Tak perlu jauh-jauh membayangkan bagaimana bentuk teleskop bintang ini. Di Universitas Lampung (Unila) sendiri pun terdapat sebuah teleskop. “Teleskop ini merupakan salah satu harta yang paling berharga, bukan karena harganya tetapi karena nilai pemberiannya,” ujar  Dr. Warsito, D.E.A., salah satu Dosen Fisika Unila pada Kamis (13/12). Teleskop terebut merupakan hasil kerjasama Kementerian Pedidikan dan Kebudayaan yang direkomendasikan oleh Departemen Astronomi ITB. Kerjasama ini dimulai tahun 2005 lalu.

Teleskop ini disimpan di Laboratorium Elektronika Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unila. Teleskop ini ditempatkan di Laboratorium Fisika dengan tujuan untuk menjaga keamanan serta keawetan teleskop tersebut. Di laboratorium ini, alat tersebut sering digunakan oleh mahasiswa-mahasiswa dari Unila, tidak hanya dari FMIPA saja tetapi dari Fakultas lain juga sering menggunakannya untuk penelitian.

Teleskop ini selain digunakan untuk praktikum juga sering difungsikan untuk pengamatan matahari, bintang-bintang, gerhana dan hilal. Pengamatan hilal dilakukan untuk menentukan waktu dimana mulai masuk ramadan (puasa), hari lebaran, dan tahun baru Islam.

Pengamatan hilal dilakukan di 17 titik, tiga diantaranya ada di Sumatera. “Kita seharusnya bangga karena Unila diberi kepercayaan oleh Kementerian Keagamaan sebagai salah satu dari tiga instansi yang ada di Sumatera yang ditunjuk untuk meneliti hilal,” jelas Warsito. Unila patut berbangga karena kepercayaan ini bukan kepercayaan biasa melainkan sudah tingkat nasional, jadi jangan dianggap remeh. Walaupun banyak universitas di Indonesia, tapi justru Unila yang ditunjuk sebagai salah satu universitas untuk meneliti hilal tersebut.

Teleskop ini dapat digunakan secara otomatis, tinggal dimasukkan koordinatnya maka alat ini akan langsung mencari koordinat tersebut secara otomatis. Walaupun bisa digunakan otomatis, alat ini juga tetap dapat digunakan secara manual. Tempat mempergunakannya pun fleksibel. Bisa digunakan disembarang tempat tetapi bukan tempat sembarangan.

Untuk mengamati benda langit, yang harus diperhatikan yaitu tidak adanya nois (efek cahaya) dan cuaca yang mendukung. Sangat tidak efektif jika menggunakan alat ini pada saat mendung, karena pandangan akan terhalang oleh awan gelap. Teleskop ini bisa tersambung ke internet dengan menggunakan Modulator Demodulator (modem) yang bisa langsung terhubung ke kominfotek bahkan bisa digunakan untuk streaming melihat benda-benda langit.

Seperti yang kita ketahui, alat apapun itu, sebagus dan semahal apapun pasti suatu saat akan mengalami kerusakan seiring berjalannya waktu. “Kriteria rusak itu ada tiga yaitu rusak karena dipakai, rusak karena tidak dipakai, dan rusak karena memang sudah waktunya,” tambah Warsito. Alat ini dikirim tahun lalu, 2011, Apabila digunakan sesuai prosedur maka teleskop ini akan bertahan hidup lebih dari 15 tahun.

Walaupun Unila telah mempunyai alat secanggih ini tetapi dari pihak insitusi belum bisa menghasilkan sebuah temuan baru menggunakan alat ini. “Jujur saja, di Unila sampai saat ini memang belum ada dosen dengan basic astronomi,” ungkap Warsito diakhir wawancara. (Aldino)


Related

Berita Sains 2488960560566389776

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item