Selasa, 29 Oktober 2013

Ayo, Bantu Kakek Daudi

UNILA - Lembaga Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi FEB Universitas Lampung menyelenggarakan program PILAR PEDULI untuk menghimpun donasi dari masyarakat yang akan disalurkan untuk Kakek Daudi.

Pemimpin Umum Pilar Ekonomi, Chairman Sani, Selasa (29/10), mengatakan Kakek Daudi sudah menderita daging tumbuh di kepalanya sejak tahun 1970-an. Untuk operasi, keluarga Kakek Daudi tidak memiliki biaya yang cukup. Chairman mengatakan penyakit Kakek Daudi membuat pria usia senja itu sulit beraktivitas, bahkan seperti yang diceritakan salah seorang keluarganya bahwa kakek sering sakit kepala.

Mahasiswa FEB itu juga menjelaskan, untuk makan sehari-hari saja pria yang dulunya bekerja sebagai buruh bangunan ini hidup dari belas kasihan warga sekitar
kampus Universitas Lampung. Ia berangkat ke Unila dengan menumpang kendaraan umum, jika tidak ada uang ia berjalan kaki. Kakek Daudi kini hanya hidup berdua dengan istrinya di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran. Mereka menumpang di tanah warga yang berbaik hati mengizinkan keduanya tinggal di sana. Anak Kakek Daudi tidak diketahui rimbanya usai merantau berbilang tahun yang lalu. Selain Kakek Daudi, Istrinya juga punya sakit di mata.

Sampai saat ini, Chairman bersama tim PILAR PEDULI masih terus berupaya menghubungi berbagai pihak. Ia sudah bertemu dengan pihak kesehatan, dan pihak kesehatan menyatakan siap untuk segera mensurvei Kakek Daudi. Selain itu, Chairman menyampaikan bahwa sebuah salon kecantikan khusus wanita Paris House of Beauty di Jalan Kartini Bandarlampung berkomitmen untuk menyalurkan 10% penghasilannya untuk membantu Kakek Daudi.

Untuk bantuan dari masyarakat bisa disalurkan ke rekening BNI dengan nomor rekening 0203665647 a.n. Dania Hellin Amrina (Bendahara Pilar Ekonomi). Chairman dan tim PILAR PEDULI berharap banyak masyarakat bersedia menyalurkan bantuan untuk Kakek Daudi.


Laporan : Gita Leviana Putri
Editor : Umi Fadilah

Minggu, 06 Oktober 2013

Rois Camp: Pengukuhan dan Pelantikan Kader Muda Rois

doc:Tazkiya

FMIPA-Sabtu (5/10) Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Rohani Islam (UKMF Rois) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) mengadakan Rois Camp. Rois Camp merupakan salah satu program kerja Bidang Kaderisasi dan Kepemimpinan Rois FMIPA yang ditujukan untuk kader muda Rois.

Kegiatan yang diadakan di lingkungan sekitar Gedung Serba Guna (GSG) ini bertujuan untuk pengukuhan dan melantik kader muda Rois.

Pelantikan kader muda aziz dan azizah atau Koordinator Kader Muda (KKM) terdiri dari Aziz/ah tingkat jurusan dan tingkat fakultas. Aziz dan azizah fakultas terpilih adalah Khoirulloh (Fisika ’13) dan Dhini Kansa  (Ilmu Komputer ’13).

“Pemilihan KKM ini berdasarkan karakter kepribadian yang dimiliki, yaitu hanif , friendly, dan mudah untuk diarahkan,” ujar Ari Susanto (Kimia ’11) selaku Ketua Bidang Kaderisasi dan Kepemimpinan Rois (5/10).

Tugas setiap KKM ini sebagai tangan kanan dari bidang kaderisasi dalam segi informasi dan menyumbangkan ide kreatifnya.

Ditemui usai pelantikan, Dhini mengatakan, ada tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sepenuh hati dengan amanahnya sebagai KKMF. “Saya hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik dan berharap hal tersebut disambut baik teman-teman se-FMIPA,” ujar Dhini.

Dhini berharap ukhuwah yang terjalin diantara anggota Rois tidak hanya setengah-setengah, harus sepenuh hati dan bareng-bareng merangkul teman-teman di Rois agar selalu istiqomah.(Tazkiya)

Jumat, 04 Oktober 2013

Fenomena Mahasiswa Baru FMIPA




Berbagai macam jalur masuk universitas membuka banyak peluang bagi pelajar untuk  melanjutkan studi di Universitas Lampung (Unila). Jalur tersebut diantaranya   Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Undangan, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), Penerimaan Bibit Unggul Daerah (PBUD), Papua, Penerimaan Mahasiswa Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP), dan Pararel.

Lebih dari 5000 mahasiswa baru angkatan 2013  diterima diberbagai fakultas di Unila. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menerima 395 mahasiswa baru. Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa ini, bertambah pula keluhan dari mahasiswa seperti fasilitas yang dianggap menjadi kurang memadai.

“Bertambahnya mahasiswa FMIPA saya nilai baik. Artinya,  FMIPA ini banyak peminatnya. Namun, harus diiringi dengan fasilitas yang lebih baik lagi. Jika dosen FMIPA ini banyak dan Mahasiswanya bertambah tapi ruang kuliahnya kurang dirasa kurang efektif,” ujar Dwi Nur Kinasih (Biologi'12).

Dilain pihak, beberapa dosen justru mendukung penambahan mahasiswa di FMIPA. “Jurusan matematika menerima mahasiswa baru dengan kuota  120 mahasiswa, namun yang diterima hanya 90 mahasiswa. Hal tersebut jelas masih kurang, akan semakin banyak mahasiswa semakin bagus karena peluang mahasiswa berprestasi semakin banyak,” jelas Kepala Jurusan Matematika, Tiryono Rubi, M. Sc., Ph.D..


FMIPA Unila terlalu banyak dosen
Di Jurusan Kimia, sampai saat ini jumlah mahasiswa sebelum 2013 hanya ada 250-an. Dengan adanya penambahan mahasiswa baru sudah ada sekitar 320-an, artinya ketika dilihat dari rasio jumlah dosen dan rasio mahasiswa, Jurusan Kimia masih dikatakan kekurangan mahasiswa. Hal ini diungkapkan oleh Mulyono, Sekretaris Jurusan Kimia.

Dosen Biokimia itu mengakui bahwa tentu saja pemakaian ruangan tahun ini lebih penuh dari tahun sebelumnya. Ruang kuliah idealnya 40-50 mahasiswa, jika lebih dari kuota normal akan mengganggu sirkulasi udara ruangan. Probabilitas kekuranga mahasiswa FMIPA ini menyebabkan beberapa dosen mengajar di luar fakultas.

Mulyono juga menjelaskan bahwa mahasiswa Kimia 2013 sudah dibagi menjadi dua kelas sesuai absen ganjil-genap. Pembagian dua kelas bukan suatu hal yang mudah karena jurusan harus mengatur waktu untuk setiap perkuliahan. Bukan hanya itu, dosennya pun diatur mulai dari jam dan hari yang tidak boleh sama. Dan pembagian ruang kuliah merupakan kendali dari pihak fakultas, jadi fakultas yang sepenuhnya menentukan. Namun dilihat dari jumlah mahasiswa FMIPA sebelumnya, ruang kuliah di FMIPA terhitung masih mencukupi.

Mulyono, Dosen Kimia FMIPA Unila mengatakan bahwa pada tahun sebelumnya penambahan mahasiswa FMIPA tidak sebanyak ini hingga memenuhi ruang perkuliahan. Jika dilihat dari jumlah rasio dosen, khususnya di Jurusan Kimia, jumlahnya 31 dosen, sedangkan program studi idealnya antara 17-23 mahasiswa. Artinya jika ada 31 dosen jika kita kalikan minimal 17 orang berarti paling tidak ada 527 mahasiswa.


Bertambahnya Maba, meningkatkan Akreditas
Berbicara mengenai akreditasi, Dekan FMIPA Prof. Suharso, Ph.D. mengatakan bahwa BAN-PT (Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi) memberi line kuning kepada FMIPA. Hal itu berarti jumlah mahasiswa dalam meningkatkan akreditasi masih kurang. Penambahan mahasiswa memang dibenarkan menjadi salah satu alasan peningkatan akreditasi, hanya saja fasilitas masih kurang. Proses peningkatan akreditasi ini tidak bisa secepat itu karena FMIPA merupakan fakultas yang paling sedikit menerima dana dari universitas.

Senada dengan dekan FMIPA, Tiryono menuturkan bahwa tahun ini kelemahan dalam peningkatan akreditasi terletak pada jumlah mahasiswa kita yang masih sedikit.
Akreditasi belum meningkat karena jumlah mahasiswa diakui oleh BAN-PT masih kurang. Dari tahun ke tahun selalu ada penambahan mahasiswa dan diharapkan bisa meningkatkan akreditasi.

Peningkatan akreditasi bisa dinilai lebih fokus dari banyaknya prestasi mahasiswa dan dari  pengabdian alumni, bertambahnya kuantitas membuka peluang lebih besar untuk adanya kualitas kelulusan mahasiswa berprestasi. Tiryono menjawab bahwa tahun depan akan menambah kuota mahasiswa baru FMIPA dan akan ada rencana pembangunan kembali untuk menambah fasilitas ruangan yang akan digunakan untuk ruang kuliah, ruang sidang, dan ruang seminar.

Sedangkan untuk tahun ini sudah ada penambahan fasilitas seperti proyektor, pendingin ruangan dan peralatan laboratorium namun banyak pula fasilitas yang rusak sehingga fasilitas yang baru tersebut menggantikan fasilitas yang rusak. Penambahan fasilitas tidak mudah karena menggunakan anggaran pertahun. Dan ini juga demi kelancaran kegiatan belajar mengajar di FMIPA Unila.


FMIPA masih kekurangan mahasiswa
Anggapan bahwa FMIPA berlebih dalam Jumlah mahasiswa tahun ini belum sepenuhnya dapat di “ketok palu”. Memang ada beberapa jurusan yang mengalami peningkatan dalam jumlah mahasiswa. Tapi, tidak semua jurusan mengalami penambahan jumlah mahasiswa.

Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan (BAAK) FMIPA menyebutkan bahwa tahun ini data mahasiswa yang masuk adalah jurusan biologi dari 75 mahasiswa menjadi 97 mahasiswa, MI dari 75 mahasiswa menjadi 66 mahasiswa, Fisika 54 mahasiswa menjadi 51 mahasiswa, Ilkom dari 68 mahasiswa menjadi 92 mahasiswa, Kimia dari 70 mahasiswa menjadi 89 mahasiswa, dan Matematika dari tetap 70 mahasiswa. Hal ini memang menunjukan adanya peningkatan mahasiswa yang masuk di FMIPA. Namun, ternyata itu masih belum mencapai target yang dikeluarkan oleh fakultas.

“Cita-cita saya adalah mengajarkan ilmu sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa FMIPA. Jadi semakin banyak mahasiswa di FMIPA akan semakin bagus,” ungkap Tiryono mengakhiri wawancara.(Aida/Sigit)

*Foto: Novia Lovirma

Sarana Fakultas MIPA Kurang Memadai

Toilet di dekat Lembaga Kemahasiswaan (LK) belum berfungsi dengan baik

“Dulu sewaktu saya tanya sama tukang yang memperbaikinya, katanya toilet itu masih bagus dan bisa dipakai. Mana tau saya kalau sekarang malah tidak digunakan. Seharusnya mahasiswalah yang memeliharanya karena memang itu untuk mahasiswa. Masa harus saya yang memeliharanya. Saya dan pegawai di sini kan bukan pembantu kalian.”

Begitulah reaksi Dra. Netti Herawati, M.Sc., Ph.D. selaku Pembantu Dekan II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) saat ditanya mengenai kejelasan prasarana toilet di dekat LK FMIPA Universitas Lampung.

Seringkali mahasiswa yang berada di LK mengeluhkan perihal toilet. “Toilet untuk LK itu sangat perlu, karena kalau sudah kebelet, tidak perlu jauh-jauh,” ujar Ahmad Antoni, selaku Ketua Umum Himatika. 

Menanggapi hal itu, Netti mengatakan bahwa dua toilet di dekat LK itu memang untuk mahasiswa yang sering berada di sekret. Toilet tersebut juga sudah pernah diperbaiki. Dosen Matematika itu terkejut jika sekarang toilet itu sudah tidak bisa digunakan lagi. 
Lain halnya dengan PD II, Ahmad Khairudin Syam selaku Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat toilet itu diperbaiki.  “Setahu saya toilet di dekat LK itu belum pernah diperbaiki. Kalau memang sudah diperbaiki tentunya juga sudah bersih dan siap untuk dipakai,” kata Dia.


Pos Satpam tak kunjung difungsikan

Tidak hanya toilet, pos Satuan Keamanan (Satpam) yang telah dibangun di FMIPA pun hingga kini belum juga difungsikan. Ditemui di ruangannya, Kamis (5/5), Netti mengatakan bahwa satpam FMIPA itu hanya ada dua orang. Satu bekerja pagi sampai sore dan yang satunya lagi bekerja dari sore sampai malam. Menurutnya, kekurangan satpam inilah yang menjadi salah satu penyebab pos satpam belum difungsikan sampai saat ini.  

“Dulu pernah ada dua orang satpam baru namun FMIPA tidak mampu membayar karena mereka pegawai  honorer. Nanti kalau SPP kalian sudah naik baru saya bisa bayar satpam honorer. 100 orang satpam pun bisa,” jelas Netti.

Belum juga difungsikannya pos satpam di FMIPA ini juga karena belum tersedianya tempat parkir yang terpusat. Mengenai hal ini, Netti mengatakan bahwa memang dulu rencananya akan dibuat tempat parkir terpusat untuk mahasiswa FMIPA. Namun, kembali hal ini terkendala masalah dana. Ia berharap dengan adanya UKT (Uang Kuliah Tunggal) bagi mahasiswa baru akan menambah pendapatan fakultas.

Hal senada juga disampaikan Drs. Tugiyono, M.Si., Ph.D. selaku Pembantu Dekan III FMIPA yang mengaku bahwa hal tersebut sampai sekarang belum terealisasikan juga. Menurutnya, karena tempat dan satpam FMIPA masih terbatas, untuk sementara ini mahasiswa diharapkan bisa menjaga sendiri kendaraannya. 

Dalam artian, mahasiswa harus selalu waspada dengan menggunakan pengaman tambahan untuk kendaraan masing-masing. Ia juga menganjurkan kepada mahasiswa untuk memarkirkan kendaraan di sekitar dekanat atau di Balai Bahasa Unila agar keamanannya lebih terjaga. 
“Nggak apalah kita jauh berjalan, yang penting hati tenang karena motor kita aman dari segala kejahataan,” tambah dosen biologi ini.


Bangku rusak yang menjadi masalah

Jika hendak berwudhu di belakang gedung MIPA-T FMIPA, maka akan terlihat pemandangan bangku-bangku yang sudah tak terpakai dibiarkan menumpuk begitu saja. Rumput-rumput sudah memanjang serta selokan yang tampak kotor. 

Esti Putri Cindona, Mahasiswi Ilmu Komputer ini seringkali berwudhu di belakang MIPA-T. Ia mengaku sedikit risih dengan pemandangan yang tampak jorok dan kotor itu. “Ketika selesai berwudhu, kaki saya selalu bentol-bentol di gigit nyamuk. Keadaan di belakang MIPA-T itu sangat memprihatinkan. Kalau hendak dibersihkan pun mungkin terkendala dengan banyaknya bangku-bangku yang menumpuk di sana,” keluhnya.

Netti menjelaskan bahwa bangku-bangku di belakang MIPA-T itu merupakan barang milik negara, maka tidak bisa dengan mudah membuang bangku tersebut. Barang milik negara mempunyai prosedur tersendiri. Jika barang sudah tidak terpakai lagi maka harus membuat surat penghapusan barang terlebih dahulu. Ia mengaku sudah membuat surat penghapusan untuk bangku itu sejak setahun yang lalu, namun dikarenakan gudang rektorat sudah penuh, maka bangku itu tak kunjung diambil.

“Bangku-bangku itu tinggal menunggu dijemput pihak rektorat saja. Saya juga nggak tau kapan pihak rektorat akan mengambilnya. Kalau saya buang sembarangan nanti saya dituduh korupsi,” ungkapnya. (Puja/Sri)


Propti FMIPA tanpa Perpeloncoan

Natural/Novia
Setelah tiga hari mengikuti Program Orientasi Perguruan Tinggi (Propti) Universitas di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung (Unila), kini mahasiswa baru kembali menjalani orientasi di tingkat fakultas.

Propti fakultas pada Kamis (29/8) lalu menjadi salah satu rangkaian acara rutin tiap tahun untuk mahasiswa baru sebagai orientasi perkenalan antar mahasiswa Tepat pukul tujuh tiga puluh pagi mahasiswa baru membanjiri halaman Gedung Fasilitas Bersama (GFB). 

Seruan “Hidup Mahasiswa” pun terlontar penuh semangat, serta pakaian hitam putih dan almamater hijau yang mereka kenakan membuat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) lebih hidup “Selamat datang mahasiswa baru 2013 selamat berjuang semoga menjadi mahasiswa berprestasi,” sambut Hapin, wakil gubernur yang sempat kami temui Kamis (29/8).

Muhammad Nurtanio yang biasa disapa Tio mengungkapkan banyak mahasiswa baru yang datang lewat dari waktu yang ditentukan, rambut yang tidak dipotong 1 cm, nametag tidak di-laminating serta sebab lainnya. Namun, kebijakan hukuman yang diberikan dapat dikatakan lebih dari lima puluh persen dimaafkan asal jangan diulangi kembali.

Tidak diizinkannya perpeloncoan di FMIPA ini guna membangun mahasiswa yang berkarakter. Vandu Riski Muwisnawangsa, mahasiswa baru Ilmu Komputer saat diwawancarai Kamis (29/8) mengungkapkan kelegaannya bahwa Propti di Fakultas MIPA tidak separah dengan fakultas lain.

Banyak mahasiswa baru yang bersyukur Propti FMIPA tidak neko-neko hingga hari kedua. Aman dan damai itulah yang dirasakan mahasiswa baru. ”Sibuk, capek, pulangnya sore, tapi asik plus senang,” ungkap maba Jurusan Biologi yang tak ingin disebut namanya.

“Tidak akan ada kekerasan atau perpeloncoan Propti tingkat fakultas serta jurusan,” ujar Prof. Suharso, Ph.D. selaku dekan FMIPA.

Hari kedua Propti fakultas Jumat (30/8) tetap berlangsung di GFB. Walau lelah hari pertama Propti masih melekat, mahasiswa baru tetap semangat dan menyimak pengenalan lembaga-lembaga kemahasiswaan di FMIPA yaitu Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Rohani Islam (Rois), Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Natural, dan Klub Selam Anemon. 

Tak lama waktu berselang, dua hari menandakan Propti tingkat fakultas telah usai dan dilanjutkan oleh pengenalan jurusan masing-masing. Hal itu membuat bertambahnya semangat mahasiswa baru menuntut ilmu dan mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan oleh FMIPA. 

“Teruslah belajar di FMIPA, ini langkah awal beradaptasi dengan baik bagi diri masing-masing,” tutur Irkham Bariklana selaku Ketua Pelaksana PMBF (Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas) MIPA Unila. (Isna/Lina)

Kesma BEM FMIPA akan Adakan Olahraga Bersama

“Sebelum menjadi gubernur, banyak selentingan, mengapa di FMIPA ini tidak diadakan kegiatan olahraga?  Dengan selentingan ini, BEM berusaha untuk mewujudkannya,” tutur Ahmad Khairudin Syam, Gubernur BEM FMIPA, Kamis (4/9).

FMIPA - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) mendirikan kedinasan baru yang direkomendasikan oleh gubernur BEM. Kedinasan baru ini bernama Dinas Kreativitas Mahasiswa (Kesma) yang menaungi dinas olahraga dan kesenian. 

Kesma mencetuskan program kerja (progja) yang berbasis pada keolahragaan. 
Ahmad menjelaskan bahwa program kerja ini dibuat berdasarkan permintaan dari mahasiswa untuk mengadakan ajang keolahragaan. Hal tersebut disebabkan karena FMIPA merupakan fakultas yang monoton tanpa ada kegiatan yang menyenangkan dan menyegarkan, seperti olahraga. Tujuan dari progja ini untuk menciptakan suasana yang harmonis, mempererat tali persaudaraan, saling mengenal satu sama lain, tubuh bugar, dan menghilangkan kejenuhan.

Mahasiswa Ilmu Komputer 2010 ini menjelaskan bahwa progja ini dikhususkan bagi mahasiswa FMIPA, namun tidak ada larangan ketika ada dosen yang ingin mengikuti kegiatan tersebut. Fasilitas olahraga yang diberikan  pihak dekanat yang dikelola oleh BEM diantaranya seperangkat tenis meja, bulu tangkis, 2 bola voli beserta net, dan 4 bola futsal. 

Rencana pelaksanaan program kerja ini diawal bulan September, namun karena banyaknya kegiatan BEM seperti baksos, lokakarya, dan kegiatan lain yang mengarah  pada internal BEM, maka kegiatan ini tertunda dan akan dimulai awal bulan Oktober nanti. 

Progja ini akan diawali dengan launcing alat-alat olahraga, kemudian akan diadakan turnamen. Pada turnamen tersebut akan membuka lomba-lomba ditiap cabang olahraga. Peserta pada perlombaan olahraga ini adalah seluruh lembaga kemahasiswaan, birokrat, pihak dekanat, dan seluruh mahasiswa FMIPA Unila. Kegiatan ini akan menggunakan pelataran Gedung Fasiltas Bersama (GFB) dan sekitar lingkungan FMIPA dan akan diadakan secara berkala yang kemudian diharapkan dapat dilakukan secara rutin.

“Kegiatan ini memiliki tujuan yaitu menyatukan seluruh warga FMIPA dan mempererat hubungan antara birokrat dan warga FMPA serta untuk memberi kesehatan pada tubuh,” tambah Ahmad Ari Aldino, Kepala Dinas Kesma BEM FMIPA ketika diwawancarai Selasa (10/9). (Tazkiya/Merda)

Mahasiswa Bukan Hanya Gelar

Pimpinan Umum Natural
Sepria Herdyansah
"Mahasiswa”, sebuah gelar prestisius yang bergengsi untuk kalangan pelajar dan mendapat pengakuan yang baik menurut sudut pandang masyarakat umum. 

Kebanyakan masyarakat beranggapan mahasiswa itu adalah seseorang yang multi-talented. Mahasiswa itu serba bisa, bisa ini dan itu. Seperti khalayak pikirkan tentang mahasiswa yang serba bisa, begitu banyak harapan disematkan kepada mereka, generasi yang diharapkan membawa perubahan lebih baik seperti halnya salah satu fungsi mahasiswa yaitu sebagai agent of change.

Para penyandang gelar mahasiswa boleh berbangga karena telah menjadi yang terpilih dari sekian banyak siswa yang telah berusaha untuk menjadi mahasiswa. Entah bagaimana mereka memaknai gelar itu sebelum menjadi mahasiswa, tapi yang jelas mahasiswa itu harus kritis, peka, dan solutif. Kita harus memaknai gelar mahasiswa dengan sesuatu yang bisa memacu kita.

Semua orang bisa menjadi seperti apa yang mereka inginkan asalkan dengan nawaitu dan ikhtiar, tidak hanya sebatas mahasiswa. Khalayak beranggapan mahasiswa itu serba bisa, karena mahasiswa mempunyai kesempatan lebih besar dibandingkan lainnya. Ya, bedanya hanya pada kesempatan saja. Mereka mempunyai fasilitas, fasilitator, dan lingkungan yang mumpuni untuk menjadi seperti yang mereka inginkan.

Mahasiswa bukan hanya sekedar sebuah fase belaka yang harus ditempuh untuk mendapat gelar sarjana demi memperoleh suatu pekerjaan layak. Pada fase inilah kesempatan kita untuk memperoleh segudang ilmu dan pengalaman. Organisator, pembicara, ataupun konseptor bisa dikuasai seperti halnya seorang master, asalkan kita mau dan memiliki komitmen kuat untuk bisa. Kita bisa menguatkan dan melebarkan eksistensi kita. Dan itu bisa kita dapatkan dalam organisasi. Tujuan dan komitmen, itulah kunci untuk menentukan hasil yang maksimal atau tidak.

Dalam keseharian di kampus bisa kita lirik bersama. Ada beberapa tipe mahasiswa, yaitu mahasiswa berkecimpung dalam akademik saja, biasanya mereka ber-IPK tinggi. Ada yang suka berorganisasi saja, biasanya orang yang mumpuni dan eksis di organisasi akan tetapi berbanding terbalik dengan akademiknya. Ada yang seimbang antara keduanya, inilah yang menjadi mangsa dan incaran kita pastinya. Mungkin mereka memiliki pandangan dan penilaian masing-masing terhadap keseharian yang mereka pilih. Dari situ kita bisa menilai cara mereka memaknai gelar mahasiswa mereka. 

Mungkin diantara mereka yang enggan beroganisasi ada yang beralasan karena organisasi, akademik bisa menurun. Itu hanyalah sebuah pelarian karena mereka tidak mampu memanajemen waktu mereka dengan baik. Ada juga yang tidak bisa bertahan karena merasa tertekan dalam atmosfir keorganisasian. Ya, karena sejak awal memang dibutuhkan komitmen kuat. Mau lanjut ke level berikutnya tanpa kesulitan? dalam games pun tidak ada yang seperti itu. Senang atau tidak, terbebani atau tidak, silakan tentukan sendiri. Akan terasa menyenangkan kalau kita menganggapnya menyenangkan, atau melelahkan jika beranggapan tidak ada manfaat. Yang jelas organisasi itu penting, karena disinilah akan kita temukan berbagai macam konflik yang akan berguna sebagai pengalaman dan juga disinilah kesempatan bagi kita membangun relasi. Rasakan manfaatnya ketika sampai di penghujung nanti.

Hidup ini adalah pilihan. Setiap pilihan menentukan output kita nantinya. Pilihlah kesibukan yang bermanfaat. Optimalkan anugerah kecerdesan dan kemampuan yang kita miliki, sehingga bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan semuanya.

Sepakat dengan ucapan seorang teman dengan gaya bahasa uniknya yang menyenangkan. Saya lupa dia mengutip dari mana, dia mengatakan bahwa dunia ini dalam keadaan bahaya bukan karena penjahat, melainkan karena orang-orang apatis. Sebagai contoh, ada seseorang melihat tindak kriminal, tetapi hanya diam saja melihatnya.

Sebaik-baiknya orang adalah orang yang berguna bagi orang lain. Mahasiswa haruslah seperti itu, berguna bagi bangsa dan negara.

Salam Pers! Hidup Mahasiswa!

Antologi Esai: “Kekuatan Media Sosial”

Oleh: Rani Cahyani dan Viendira Try Eriza


Judul : Kumpulan Essai: Kekuatan Media Sosial
Penerbit : Indepth Publishing, Bandar Lampung
Tebal : xii + 146 halaman
Ukuran : 14,5 cm x 20 cm
Harga : Rp35.000.00,-

Sudah menjadi pengetahuan kita bersama, bahwa saat ini merupakan zaman kemajuan teknologi. Segala jenis teknologi dari berbagai bidang kebutuhan manusia mengalami perkembangan dan akan terus berkembang seiring dengan terungkapnya berbagai ilmu pengetahuan alam yang dipelajari oleh manusia itu sendiri.
Dalam bidang komunikasi, teknologi internet melalui medianya memudahkan bagi para penggunanya untuk mengakses segala jenis informasi seperti data, referensi hingga interaksi sosial melalui dunia maya yang lebih spesifik dikenal dengan media sosial. Facebook dan twitter merupakan media sosial yang banyak dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
Pengguna facebook di Indonesia ada 31 juta, angka terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Twitter digunakan oleh 9,2 juta orang di Indonesia, nomor tiga terbesar di Asia. Aktivitas Twitter (nge-twit) di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, yaitu pada angka 20,8 %. Amerika hanya 11,9%, dan Brazil ada di posisi kedua dengan 20,5 %.
Perkembangan media yang ada pada masa modern ini memiliki banyak pengaruh bagi masyarakat baik secara positif maupun negatif. Keberadaan media sosial tak hanya sekedar untuk kepentingan kelompok tertentu, bahkan telah menjelma sebagai sebuah kekuatan baru dalam masyarakat yang dapat memberikan pengaruh berarti bagi gerakan sosial dan mempengaruhi kebijakan para pemegang mandat kekuasaan.
Melalui Buku Kumpulan Essai: Kekuatan Media Sosial, yang diterbitkan oleh Indepth Publishing inilah menjadi salah satu wadah atas opini masyarakat Indonesia tentang hitam putih media sosial yang dituangkan dalam karya berbentuk essai. Buku ini merupakan sebuah antologi essai peserta yang menjadi pemenang 15 besar dalam Lomba Essai yang diselenggarakan oleh NATURAL, salah satu Unit Kegatan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta tingkat Nasional pada tahun kepengurusan 2012-2013.
Buku ini menyajikan secara seimbang mengenai dampak positif dan dampak negatif dari media sosial terhadap masyarakat penggunanya, yang didukung dengan fakta-fakta yang terjadi di lapangan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, hingga kebudayaan. Para penulis melalui essainya mengungkap fakta-fakta yang terjadi dari hal yang kecil hingga hal besar tentang bagaimana kekuatan media sosial dapat mengubah suatu kebiasaan, pola pikir, tingkah laku, dan serta perubahan sosial budaya masyarakat.
Sebagai gambaran perbandingan, budaya remaja dahulu yang sebagian besar kegiatannya dilakukan secara konvensional atau sama halnya dalam bahasa ‘modern’ saat ini dikatakan offline, dengan remaja sekarang yang berada di tengah hiruk pikuk aktivitas yang (hampir) semua serba online. Sewaktu kecil, remaja sangat gemar bermain gundu (kelereng), bermain petak umpet dan sebagainya yang meilibatkkan banyak kegiatan fisik, namun sekarang media sosial dapat membuat anak kecl untuk duduk selama dua jam lebih di depan teknologi pintar mereka masing-masing.
Media sosial telah membuktikan perannya sebagai sarana berdiskusi, berbagi dan bertukar informasi, pembentukan opini masyarakat, mengatasi problem sosial, hingga sarana perubahan sosial politik. Sebut saja kasus Prita Mulyasari, kasus Bilqis kasus Cicak Vs Buaya, kemenangan Obama sebagai presiden Amerika Serikat, Jokowi bersama Ahok (Basuki Tjahaya Purnama) sebagai pasangan Gubernur Jakarta terpilih, Musim Semi Arab serta beberapa kasus seperti penculikan, penipuan, dan sejumlah tindak kriminal lainnya semua itu merupakan efek dari kemudahan yang disajikan dari teknologi melalui berbagai medianya.
Buku ini layak untuk dibaca oleh semua kalangan, karena dalam tulisan dari seluruh penulis memiliki pandangan dan gagasan tersendiri bagaimana suatu media sosial berkembang di masyarakat. Dalam penulisannya, penulis tidak hanya sekedar menjelaskan mengenai opininya saja, namun tetap didukung dengan pendapat dari para ahli, fakta serta data yang dari sumber-sumber terpercaya, sehingga menimbulkan kesan bahwa buku antologi esia ini kaya akan referensi yang dibuat oleh para penulis di setiap judulnya. Terdapat pula tips dan motivasi menjadi jurnalisme warga.

Namun, karena dalam pengungkapannya beberapa penulis menggunakan pula pendapat dari para ahli, mengakibatkan terdapat beberapa istilah dan penguraiannya sulit dimengerti oleh orang yang awam dengan sosial media. Sisi kekurangan lain pada buku ini adalah tidak dilengkapi keterangan peringkat dalam setiap essainya, sehingga pembaca tidak dapat mengetahui urutan peringkat terbaik essainya. Selain itu pemakain kertasnya tidak putih bersih.

Rabu, 02 Oktober 2013

Kreatif dan Inovatif Bersama PKM 2013




FMIPA: Gabungan Lembaga Kemahasiswaan (LK) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) akan menggelar seminar Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Seminar ini akan diadakan Sabtu, (13/10) di Gedung Fasilitas Bersama (GFB) lantai 1 dengan mengusung tema ‘Bangkitkan Semangat, Kreatif, dan Inovatif Menuju PKM 2013’.
Pada seminar ini akan disampaikan materi terkait PKM yang meliputi PKM tentang penelitian, karyacipta,, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, dan teknologi. Selain itu, akan disampaikan pula tips dan trik penulisan pada PKM. Adapun pemateri untuk seminar ini diantaranya Wamiliana, Ph. D. (Dosen Matematika), Dr. Warsito, DEA. (Dosen Fisika FMIPA), dan Muhidin Sirait, S.E., M.Si. (Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis).
“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat silaturahmi antar LK di FMIPA, dan membangkitkan serta mengingatkan mahasiswa FMIPA untuk lebih aktif dalam PKM,” ujar Sammi Rizki Taufik (Fisika ’11) selaku ketua pelaksana.
Seminar yang diselenggarakan untuk mahasiswa FMIPA ini hanya menyediakan kuota 100 orang. Dengan target 40% untuk mahasiswa baru. Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kegiatan ini dapat mendaftarkan diri melalui bidang keilmuan atau akademik di LK masing-masing atau melalui SMS dengan format Nama(spasi)Jurusan(spasi)Fakultas yang dikirim ke 08976161817 (Joko)/ 089632427556 (Sammi). (Nafilata)

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...