Kamis, 28 November 2013

Maksimalkan Fungsi Lahan Parkir FMIPA

Rabu (21/11) sore lalu,terlihat sekumpulan mahasiswa duduk lesehan di area lahan parkir membentuk lingkaran. Mereka memanfaatkan lahan parkir yang belum lama dibuat oleh pihak Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila). Lahan parkir yang berlokasi dekat pelataran Gedung Kesekretariatan  FMIPA ini memang acap kali digunakan sebagai lokasi untuk berdiskusi oleh mahasiswa.

Prof. Suharso, Phd. selaku dekan FMIPA mengatakan beberapa pohon memang sengaja dibiarkan tetap tumbuh disana agar tetap menjadi tempat yang nyaman. "Sengaja pohon-pohon disana tidak 'dibuang' semua, biar tetap nyaman untuk mahasiswa yang ingin belajar sembari duduk lesehan," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (21/11) lalu.

Keberadaan lahan parkir memang sangat penting bagi mahasiswa FMIPA. Khususnya yang memiliki kendaraan bermotor. Menurut Suharso, pembukaan lahan parkir ini ditujukan untuk meningkatkan fasilitas  pelayanan infrastruktur bagi mahasiswa. Hal senada juga disampaikan oleh Hapin Afriani (Kimia ’10), Wakil Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA. Menurutnya lahan parkir sangat penting bagi mahasiswa yang membawa kendaraan agar mereka tidak parkir sembarangan dan was-was akan kendaraan mereka saat menjalani perkuliahan di kelas.

Meskipun pembuatan  lahan parkir ini telah selesai sejak beberapa bulan yang lalu, namun sampai saat ini belum terlihat barisan kendaraan bermotor yang parkir disana. Menurut Hapin, tidak adanya sosialisasi bagi para mahasiswa menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Kami sudah menyediakan fasilitas, tinggal kalian (hahasiswa) yang mengisinya dan memanfaatkannya," terang Suharso. Dia juga menambahkan agar mahasiswa yang ada di lembaga kemahasiswaan ikut mengajak dan memulai penggunaan lahan parkir tersebutsebelum peraturan diturunkan.

Dalam wawancaranya, Suharso juga mengatakan, peningkatan keamanan lahan parkir akan terus dilakukan. Mengingat masih kurangnya petugas keamanan di lingkungan FMIPA. “Mungkin nanti akan diberlakukan penggunaan stiker khusus atau harus menunjukkan STNK bagi mahasiswa yang parkir, dan bagi orang luar akan dikenakan biaya,” jelas Suharso diakhir wawancara. (Nafi/Shela/Fajar)

Peserta OSN-PTI Meningkat 45%



Pertamina kembali menjadi penyelenggara Olimpiade Sains Nasional Perguruan Tinggi Indonesia (OSN-PTI) bersama Universitas Indonesia yang sudah dua tahun ini menjadi sekertariat olimpiade ini dan Universitas Lampung menjadi tempat penyelenggaraan seleksi teori pada 27 November lalu.

Pada tahun sebelumya peserta yang mengikuti harus sudah duduk disemester tiga namun pada tahun ini mahasiswa baru semester satu sudah bisa mengikuti. Hal ini merupakan kebijakan yang berlaku untuk mahasiswa D3 atau S1 Perguruan Tinggi Negeri ataupun Swasta yang sudah ditentukan oleh kesertariatan dan badan yang menyelenggarakan.

Dibandingkan tahun lalu, tahun 2013 ini peserta OSN-PTI meningkat 45%. Hal ini menujukkan bahwa antusias mahasiswa semakin meningkat untuk mengembangkan kemampuannya melalui olimpiade ini.

Bisa dilihat bahwa ditahun 2012 jumlah peserta yang terdaftar adalah 562 peserta sedangkan pada tahun 2013 jumlah peserta yang terdaftar adalah 1030 peserta kategori teori yang terbagi menjadi 4 bidang yaitu, Bidang Matematika 323 peserta, Bidang Fisika 195 peserta, Bidang Kimia 223 peserta,dan Bidang Biologi 289.

OSN-PTI terbagi menjadi beberapa kategori, Teori dengan 1030 peserta, Aplikasi Lunak berjumlah 6 peserta, Sains Project 15 peserta, Rancang Bangunan 6 Peserta, dan Peserta Produk Research 6 Peserta.

Drs.Tugiono, M.Si., Ph.D., ketika diwawancarai, (20/11) lalu mengatakan bahwa untuk juara 1 tingkat provinsi di tahun sebelumnya tidak boleh mengikuti olimpiade ini namun untuk juara 2 dan 3 diperbolehkan dan hal ini sudah menjadi peraturan yang telah ditentukan oleh badan pelaksana. Pembntu dekan III FMIPA ini juga menambahkan bahwa hadiah untuk juara 1 kategori teori akan mendapatakan uang Rp6 juta, juara 2 Rp4,5 juta dan juara 3 Rp2,5 juta. (Indy,Anita,Sintia)

Rabu, 27 November 2013

UKT dan Mahasiswa dalam Pendidikan

Ketua umum HIMAFI Unila



Yihaaa...
Yihaaa...
Kata tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan yang tidak terlupakan ketika memasuki gerbang Unila. Bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kampus adalah pendidikan. Pendidikan ini akan mempengaruhi kualitas kampus pada umumnya, begitu juga kampus kita. 

Apabila kita membandingkan pendidikan yang diterapkan ada persoalan yang harus digarisbawahi untuk pendidikan di kampus hijau kita. Salah satunya adalah Uang Kuliah Tunggal (UKT). Wuih, agak berabe tuh kalau dihubungkan dengan beasiswa seperti bidik misi. 

Perubahan pola pembayaran ini sebenarnya bertujuan untuk mempermudah mahasiswa, antara lain mahasiswa sudah tidak lagi dikenakan biaya gedung, praktikum atau biaya lainnya, Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan suatu upaya untuk mewujudkan biaya kuliah yang murah di perguruan tinggi seluruh negeri. 

Dengan sistem ini, mahasiswa sudah tidak akan dikenakan biaya gedung, praktikum, atau biaya tambahan lainnya. Ini yang berbeda dengan yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Kita kembali kepada realitas kampus hijau kita yang banyak berkicau dengan UKT. Kendala ini bermunculan seiring berjalannya waktu, diantaranya ketidakmampuan membayar UKT. Salah satu problem ini sebenarnya sudah terpolakan untuk pengajuan keringanan UKT atau pengajuan tidak mampu membayar UKT dapatlah dilakukan melalui jalur advokasi secara resmi atau melalui lembaga-lembaga resmi mahasiswa seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) baik universitas maupun fakultas. Lagi-lagi adalah kesiapan yang perlu dipersiapkan secara matang. Hal diatas adalah sekelumit permasalahan yang timbul dari adanya sistem kebijkan pendidikan.

  
Anggaran 20 persen untuk pendidikan?
Dari konfirmasi yang didapat dalam berbagai pemberitaan, besaran UKT dan sistem yang diberlakukan ditujukan untuk pembangunan gedung-gedung baru yang lebih modern. Padahal sebagai PTN, kampus juga seharusnya mendapat pasokan dana dari Anggaran Pemerintah Belanja Negara dan Daerah (APBN-D) sebesar sekurang-kurangnya 20 persen yang sudah diatur dalam UUD 1945 dan diperjelas oleh Mahkamah Konstitusi. Dari kampus sendiri tampaknya belum bisa hidup secara mandiri agar keuangan mahasiswa tidak terbebani. Apa hasilnya, biaya kuliah bisa ditekan sedemikian rupa, bahkan jika dibandingkan biaya berkuliah di PTS tersebut persemesternya sama dengan biaya UKT gelombang keempat, bahkan bisa kurang dari itu. 

Mahasiswa bukanlah ladang uang buat petinggi-petinggi kampus ataupun petinggi pemerintah. Mereka adalah rakyat yang membutuhkan pendidikan agar mampu merubah bangsa ini menjadi lebih baik di usianya yang semakin tua. Pemerintah seharusnya mulai melihat dan belajar, problematika pendidikan di Indonesia harus terus dibenahi dengan tidak memberatkan golongan menengah kebawah dan menciptakan pendidikan yang adil dan merata. 


Masyarakatpun harus mulai pintar memilih. Masuk PTN bukan lagi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang baik, apalagi PTN bukan lagi sebagai kampus yang murah, melainkan menjelma sebagai kampus yang mahal. Kampus mahal belum tentu kualitasnya bagus, bahkan bisa jauh dibawah PTS. Sudah saatnya masyarakat melihat pendidikan bukan dari biayanya, tapi dari kualitasnya. Kalau kita cermati dengan seksama, soal biaya kuliah hanya kesungguhan dari orangtua dalam bekerja, anak dalam belajar, dan doa dari mereka yang akan menjawabnya. Rezeki sudah diatur oleh Sang Pencipta, tinggal bagaimana mengeluarkannya.

Pelayanan Baru untuk Mahasiswa Berbasis ISO



Foto Dok Natural

Ada pemandangan yang berbeda dari Gedung Dekanat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila). Hampir sebulan ini jendela ruangan bagian kiri gedung disulap menjadi loket pelayanan mahasiswa.  Berbarengan dibuatnya loket baru tersebut, muncul isu yang beredar di tengah mahasiswa tentang sulitnya menemui birokrat fakultas. 

“Sekarang ribet kalau berurusan ke dekanat atau bertemu dengan birokrat fakultas, tetapi ya ikuti saja alurnya,” kata seorang mahasiswa FMIPA yang tidak mau disebutkan namanya. 

Menanggapi isu tersebut, Prof. Suharso, Ph.D., selaku dekan FMIPA menyatakan, tidak ada yang menyusahkan jikaingin bertemu dengan birokrat fakultas. Mahasiswa harus tahu penerapan alur yang diberlakukan sekarang. 

Saat ditemui diruang kerjanya Kamis (21/11) pagi lalu, Suharso menjelaskan, FMIPA kini  tengah merintis upaya untuk mencapai visi dan misinya. Salah satunya untuk mendapatkan ISO. Penerapan layanan mahasiswa berbasis ISO menjadi salah satu yang mendukungnya. Melalui sistem pelayanan yang baru, dokumentasi layanan antara pihak dekanat dan mahasiswa menjadi lebih resmi. Selain itu, tujuan lain diberlakukannya sistem ini supaya jadwal antara  birokrat fakultas dengan mahasiswa yang bersangkutan dapat terkontrol. Dengan begitu, pelayanan dapat lebih cepat dan lebih jelas.

Hal senada disampaikan juga oleh petugas pelayanan umum mahasiswa. Menurutnya, kebijakan yang diberlakukan saat ini tidaklah untuk menyusahkan mahasiswa FMIPA. Sebaliknya, sistem  pelayanan ISO ini mempermudah mahasiswa dalam mengurus hal-hal yang berhubungan dengan birokrat  FMIPA. “Sebenarnya tidak sulit. Ini semua juga untuk memudahkan mahasiswa. Sistem ini juga tanpa dipungut biaya alias gratis," ujar petugas pelayanan saat diwawancarai diruangannya, Kamis (21/11) sore.

Mahasiswa yang memiliki kepentingan dengan pimpinan fakultas harus mengikuti alur atau langkah yang telah ditentukan. Mahasiswa harus mengisi formulir yang telah disediakan petugas loket pelayanan umum, melampirkan fotokopi KTM satu lembar, dan menyiapkan satu map. Setelah itu, formulir yang telah diisi dan fotokopi KTM dikumpulkan kembali dalam satu map ke petugas. Petugas loket akan mengirimkan formulir tersebut ke sekretaris dekan. 

Selanjutnya sekretaris tersebut akan meminta persetujuan kepada pihak birokrat  yang bersangkutan sesuai isi formulir. Proses ini dapat ditunggu kurang dari sehari. Bahkan jika pihak yang bersangkutan ada saat pemberian formulir maka verifikasi formulir bisa lebih cepat lagi

Alur tersebut berlaku untuk seluruh mahasiswa FMIPA, baik urusan akademik maupun organisasi. Namun, untuk penandatanganan sertifikat suatu acara dari organisasi dapat langsung menemui  pihak birokrat fakultas yang bersangkutan tanpa harus melalui loket pelayanan umum

Suharso mengakui, sosialisasi mengenai  penerapan sistem pelayanan ISO ke mahasiswa memang masih kurang. Namun menurutnya sosialisasi dapat melalui apa saja, tidak harus mengumpulkan mahasiswa terlebih dahulu untuk memberitahunya. "Mahasiswa yang sudah mengetahui dapat memberi tahu yang belum tahu, itu jugakan termasuk sosialisasi,” ujarnya. (Lina/Ona/Alimir)


Jumat, 08 November 2013

Reza Kembangkan PCLinuxOS Berbasis Multimedia


Belum lama berselang, tepatnya 1 April 2013 lalu, PCLinuxOS dikembangkan oleh Reza Rafsanjani, Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) Program Studi Manajemen Informatika angkatan 2010. Reza mengembangkan aplikasi berbasis multimedia dalam PCLinuxOS Karena dalam PCLinuxOS ini tidak ada aplikasi multimedia berbasis editing audio video sehingga ia berinisiatif untuk mengembangkan dan mengubah software di dalamnya.

Nama “Linux” berasal dari nama pembuatnya yang dikenal pada tahun 1991 oleh Linus Torvalds. Reza juga menjelaskan bahwa Linux merupakan sistem operasi yang berbasis open source yang bersifat bebas untuk mengubah software di dalamnya. Menurutnya, walaupun Linux belum banyak digunakan oleh masyarakat luas namun linux mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan sistem operasi lainnya. Kode sumber Linux dapat dimodifikasi, digunakan dan didistribusikan kembali secara bebas oleh siapa saja.

“Remastering Dekstop Editing Audio Video Berbasis Distribusi Linux PCLinuxOS” merupakan judul tugas akhir yang digunakan oleh Reza. Dari judul  tersebut dapat dirangkum menjadi satu makna yaitu membangun atau mengembangkan sebuah sistem dari sistem operasi yang sudah ada dan menambahkan aplikasi multimedia audio video menjadi satu software di dalam Linux PC LinuxOS.

Reza menambahkan bahwa dalam PCLinuxOS ini sistem tidak hanya ada software yang mengarah pada multimedia, namun pengembang dapat menambahkan software yang lain di dalamnya untuk memperlengkap sistem operasi yang dikembangkan.Menurut wisudawan periode September 2013 ini ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum sistem operasi ini berubah menjadi sistem operasi berbasis multimedia yang diinginkan.

Pengembangan yang dilakukan Reza diawali dengan mengganti  logo, boot screen, panel desktop, dan flashscreen menjadi sesuai keinginan user atau pengembang sistem. Setelah tampilan utama telah disesuaikan dapat mengubah tampilan nama desktop menjadi Optimus OS (nama diambil sesuai keinginan). 

Setelah itu, hal yang dapat dilakukan adalah menambahkan software lain untuk pergantian Kernel atau yang biasa disebut Driver yaitu memasukan software dan dilanjutkan dengan memasukan media instal. Setelah media instal dimasukan, Reza mengonfigurasi boot loader sehingga sistem operasi yang dijalankan dapat di-booting. Selanjutnya  dibuat menjadi satu ISO (International Organization for Standardization). Jika telah dijadikan dalam ISO sistem operasi yang telah menjadi Optimus OSdapat di instal dan digunakan.

Untuk dapat mengembangkan sistem operasi PCLinuxOS ini tidak harus bisa dituntut untuk ahli dalam bahasa pemprograman, kata Reza. PCLinuxOS ini hanya sedikit menggunakan bahasa pemprograman sehingga dapat memperpermudah  pengembangan dari sistem sebelumnya. Hanya ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengubah sistem PCLinuxOS yaitu menguasai linux dan terbiasa menggunakan terminal atau dalam sistem lain dapat disebut CMD (Command). Isna

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...