Kamis, 17 April 2014

Final Olimpiade Fisika SMA dan SMP
































FINAL OLIMPIADE FISIKA HIMAFI. Himpunan Mahasiswa Fisika (Himafi) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jumat (18/4) mengadakan Final Olimpiade Fisika untuk pelajar SMA dan SMP. Tahap Final Olimpiade ini diadakan di Ruang 3 lantai 2 Jurusan Fisika. Kegiatan ini diikuti oleh 10 pelajar SMA dan 10 pelajar SMP yang sebelumnya telah mengikuti tahap seleksi. (Red)


Foto Oleh Mas Dafri Maulana



Senin, 14 April 2014

Lulusan FMIPA, Harus Mampu Buka Lapangan Kerja

 Oleh Anisa Rahmawati


Tak dapat dipungkiri kehidupan perkuliahan merupakan jembatan menuju dunia kerja di masa depan. Setiap jurusan yang digeluti di masa kuliah mempunyai pengaruh terhadap profesi kerja seseorang. Termasuk jurusan yang ada di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam Universitas Lampung (FMIPA Unila).

Dekan FMIPA Unila, Prof. Suharso, Ph.D. mengatakan bahwa persentase mahasiswa yang bekerja sesuai bidang ilmu di FMIPA belum diketahui. Namun, cakupan bidang ilmu MIPA sangatlah luas, tidak hanya menjadi pegawai negeri, pegawai swasta pun bisa.

“Saya berharap lulusan FMIPA Unila mampu membuka usaha sendiri seperti menjadi seorang pengusaha, sehingga para lulusan mampu membuka lapangan pekerjaan baru,” ujar Suharso ketika diwawancarai, Selasa (18/3).

Ia menambahkan bahwa pekerjaan untuk lulusan MIPA memiliki peluang yang cukup besar dalam segala bidang pekerjaan.

Contohnya saja lulusan kimia dapat berwirausaha dengan menjadi penyedia alat-alat kesehatan, obat-obatan, dan sebagainya. Selain itu, mahasiswa tidak boleh hanya bergantung kepada dosen, mahasiswa harus lebih pintar dibanding dosennya yang bisa mengekplorasi minat dan bakat yang dimilikinya dengan berbagai inovasi.

Dengan diberikannya mata kuliah kewirausahaan, Dosen Jurusan Kimia ini berharap agar mahasiswa dapat membuka cakrawala berpikir dalam berwirausaha. Serta dapat menjadikan mahasiswa dapat berpikir luas menjadi seorang pengusaha.

Perayaan Bersama Agenda HMJ Tidak Terealisasi

Oleh Cinkia Eagseli Ewys dan Sella Malinda T.


FMIPA - Februari-Mei menjadi bulan penuh kegiatan besar dari kelima Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di FMIPA Unila tiap tahunnya. Beragam kegiatan dari dies natalis jurusan hingga beberapa kegiatan nasional bergilir meramaikan lingkungan fakultas.  Hal ini memicu adanya wacana penyatuan kegiatan HMJ FMIPA.

Ahmad Khairuddin Syam selaku Gubernur BEM FMIPA mengatakan bahwa saat pergantian gubernur BEM tahun lalu, sempat keluar wacana mengenai perayaan tahunan HMJ yang diadakan secara bersamaan. Bahkan Ahmad sempat mengajak seluruh ketua HMJ untuk merapatkan hal tersebut.
Ketika diwawancarai, Selasa (18/3), Ahmad mengatakan bahwa tujuan dari rencana penyatuan acara tiap HMJ ini tak lain untuk membentuk solidaritas.

Tetapi menurut Ahmad, tak akan ada efek yang besar jika kegiatan HMJ dijadikan satu karena semua himpunan mempunyai semangat yang besar. Selain itu, melihat keadaan saat ini, akan lebih progress ketika himpunan mahasiswa memiliki agenda masing-masing.

“Dengan begitu kita bisa menilai integritas dan kualitas dari himpunannya,” ujar Ahmad.

Menurut Joko Rudianto, ketua pelaksana Dies Natalis Matematika (DINAMIKA) XV, hal ini sangat sulit terwujud dikarenakan lemahnya koordinasi antara HMJ dan BEM, sehingga belum terlaksana pada tahun ini. “Saya berharap, ada yang mengkoordinasikan ini semua dengan HMJ agar terlaksana,” ungkapnya. 

Acara tahunan masing-masing HMJ dimulai dari Himpunan Mahasiswa Kimia (Himaki) pada akhir Februari lalu, yaitu dengan acara Olimpiade Kimia, Lomba Mading, LCT, Manajemen Laboratorium, LKIR, Bazar, Chemistry Care dan acara puncak yaitu Gebyar. Dilanjutkan dengan Himpunan Mahasiswa Matematika (Himatika) yang dimulai awal Maret lalu.

Rangkaian acara yang diberi nama DINAMIKA XV itu antara lain Olimpiade Matematika, Lomba Mewarnai, Pelatihan Guru Pendamping, LCCM, Bazar dan acara puncaknya yaitu Seminar Nasional yang diadakan di gedung EKJ Pahoman.

Acara yang akan mendatang yaitu dari Himpunan Mahasiswa Fisika (Himafi) dengan FIESTA yang dimulai pada 4 -26 April. Himpunan Mahasiswa Biologi (Himbio) dengan PKSDA yang dimulai pada tanggal 21-27 April. Dan yang terakhir yaitu PRJ II dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer (Himakom) pada 19 April-4 Mei mendatang.

Mahasiswa Baru, Antara Bertahan atau Pindah

Ketua Umum Rois FMIPA Unila, Ali Akbar Hasibuan.

Euforia liburan masih sangat terasa, terutama bagi mahasiswa rantauan. Betapa tidak, liburan semester ini yang lamanya hampir dua bulan setelah sibuk pontang-panting berjuang menghadapi ujian akhir semester (UAS) dijadikan sebagai ajang pembalasan. Banyak hal yang dilakukan selama dalam liburan, ada yang menggunakan waktu liburan sebagai waktu refreshing, karena sejatinya kebutuhan biomachine manusia salah satunya istirahat, seperti mesin pada umumnya. 


Tubuh manusia juga butuh di-tune up agar lebih baik kinerjanya. Refreshing menjadi pilihan utama dan efektifitas dari refreshing lebih terasa. Ada juga yang memanfaatkan waktu liburan dengan mengasah kemampuan diri dan tak jarang sebagian mahasiswa yang berdomisili di sekitar kampus  memilih untuk mengisi liburannya dengan melakukan persiapan kegiatan-kegiatan keorganisasian.

Liburan semester kali ini merupakan liburan pertama yang dilalui oleh mahasiswa baru (Maba) semenjak resmi jadi mahasiswa sekitar 6 bulan yang lalu dan sudah tentu juga merupakan prosesi UAS pertama yang diikuti. Menjadi mahasiswa setidaknya selama satu semester memberikan pandangan baru bagi mahasiswa baru terkait prosesi dan dunia perkuliahan yang tentunya sangat jauh berbeda dengan dunia abu-abu (SMA), tapi disini saya tidak akan mengulas tentang perbedaan dunia perkulian dan masa sekolah.

Nilai atau Indeks Prestasi (IP) yang diperoleh diakhir perkuliahan pada semester pertama kuliah merupakan sebuah tolak ukur atau acuan utama untuk mengarungi dunia perkuliahan selanjutnya. Banyak yang beranggapan bahwa awal yang baik merupakan hasil yang baik, meskipun itu tidak sepenuhnya benar. Sama halnya dengan kuantitas nilai yang diperoleh pada semester pertama ini.

Dilema, mungkin kata inilah yang sedang menghantui sebagian besar mahasiswa baru dalam mengawali perkuliahan di semester kedua ini. Betapa tidak, desas-desus isu lama atau susahnya kuliah di Fakultas MIPA menjadi momok yang sangat menakutkan. Ditambah lagi prospek atau peluang kerja yang minim pasca lulus dengan mengemban gelar Sarjana Sains. Tetap bertahan atau pindah, menjadi sebuah pilihan yang dilematis ketika dihadapkan dengan pilihan tersebut. Banyak mahasiswa baru yang memilih hengkang alias pindah jurusan maupun universitas dari studi yang digeluti sekarang. Hal seperti ini seakan sudah menjadi trend dan lumrah terutama di fakultas atau jurusan yang menurut orang kebanyakan dipandang sebelah mata. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal seperti ini terjadi antara lain:

1. Merasa tidak nyaman dengan program study yang sedang digeluti
Sebagian besar dari mereka yang keluar merasa tidak nyaman dengan jurusan/program studi yang digeluti, sehingga usaha untuk mencari jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat menjadi penunjang utama. Hal ini memang sudah menjadi naluriyah manusia, karna seseorang tidak akan pernah leluasa bergairah ketika melakukan sesuatu hal yang kurang disenangi.

2. Ingin mendapatkan universitas atau program studi yang bonafite
Hak setiap orang memang mendapatkan dan memperoleh sesuatu hal yang lebih dari apa yang dia miliki sekarang. Hal inilah yang menjadi salah satu motivasi terbesar untuk hijrah ke universitas lain. Mendapatkan universitas terbaik di negeri ini adalah impian dari setiap siswa SMA yang baru lulus. Dengan momen diberikannya kesempatan tiga kali boleh mengikuti  seleksi perguruan tinggi negeri, tidak jarang mahasiswa baru menggunakan kesempatan ini baik hanya sekedar coba-coba maupun serius mengikutinya.

3. Memperoleh IP yang buruk semester pertama
Alasan yang sedikit lucu memang, akan tetapi ini sering kali dilemparkan sebagai alasan untuk pindah jurusan atau universitas. Nilai yang diperoleh pada semester pertama menjadi acuan untuk semester-semester berikutnya. Bagi mereka yang memperoleh Indeks Prestasi yang kurang memuaskan hal ini dianggap sebagai aib, menganggap kedepannya akan sama saja dan serasa ini adalah beban berat yang tidak bisa dipikul lagi sehingga pindah menjadi pilihan yang cukup tepat.

4. Ekonomi yang kurang
Untuk alasan terakhir ini sebenarnya cukup sedikit yang menyatakan karena hampir disetiap kampus tersedia beasiswa yang menjamur mulai dari beasiswa berprestasi sampai beasiswa untuk mahasiswa tidak mampu.

Dari beberapa faktor di atas mengindikasi bahwa proses dinamika perkuliahan diawal semester pertama menunjukkan sebuah kematangan dalam hal mengambil sebuah keputusan, termasuk keputusan untuk pindah program studi atau universitas. Hal ini dirasa dilematis ketika mengingat,  flashback terkait dana, tenaga dan pikiran serta waktu yang dikeluarkan dalam kurun waktu satu semester pertama. Bukan hanya kita selaku subjek yang dirugikan akan tetapi instansi pendidikan seperti fakultas maupun jurusan kita juga akan dirugikan berupa menurunnya akreditasi dan mutu dari instansi pendidikan tersebut. Namun bagi mereka yang sudah mantap dengan pilihanya serta tidak terlalu khawatir tentang kedepannya seperti apa maka mereka akan tetap bertahan dan berusaha berpikir positif serta melakukan hal yang terbaik merupakan solusi yang tepat.

Benang merah yang dapat ditarik dari permasalahan di atas yakni setiap orang mempunyai passion-nya masing-masing, mempunyai jalan kesuksesan masing-masing dan mempunyai caranya sendiri untuk sukses. Kalau pindah adalah solusi yang tepat dan merupakan titik awal dari momen passion kita maka hal itu adalah yang terbaik dilakukan. Daripada memaksakan sesuatu yang bukan jiwa kita, yang kita rasa kurang nyaman dengan apa yang kita geluti sekarang karena mungkin awalnya kita hanya ikut-ikutan. Akan tetapi kita perlu banyak merenung, apakah pindahnya kita hanya sekadar ikut-ikutan, atau ingin kelihatan “wah” ketika kita pindah ke universitas yang lebih baik ataupun hanya sekadar mencari sensasi.

Hal yang paling penting adalah ketika kita merasa bahwa yang kita geluti sekarang adalah panggilan jiwa kita masing-masing dan nyaman meski sebagian orang memandangnya sebelah mata. Penting juga diingat bahwa kitalah yang menentukan arah hidup kita dan setiap kita mempunyai jalannya sendiri. Tak perlulah mata silau melihat kawan berada di universitas yang menurut pandangan kita lebih baik, dan merasa kerdil ketika kita berada di jurusan atau universitas kita sekarang. Toh mungkin ini adalah jalan yang terbaik yang boleh jadi kita tidak suka karena gengsi kita yang cukup besar. Tetap lakukan yang terbaik dan berusahalah untuk senantiasa berpikiran positif, Insya Allah the future come’s true.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216).

Sesat Sesaat, Nikmat Sampai Akhirat!


Oleh Umi Fadilah



Buku ini menyajikan kisah apik dengan Tersesat di Jalan Allah; Sesat Sesaat, Nikmat sampai Akhirat. Memberikan motivasi bagi pembaca khususnya pemuda penggerak islam di dunia kamus agar menjadi problem solving. Mengingat banyak sekali problem atau masalah yang terjadi di kalangan aktivis dakwah maupun masyarakat.

Untuk itu, sebagai aktivis dengan intelektual yang tinggi, emosional yang memadai, dan spiritual yang islami, maka selayaknya seorang aktivis dakwah mampu memberikan solusi konkrit dalam pemecahan masalah.

Tersesat di Jalan Dakwah merupkan buku pertama karya mahasiswa Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila), Ahmad Khairuddin Syam.

Buku ini mengisahkan tentang beragam fenomena aktivis dakwah kampus yang terdiri dari 7 bagian dengan banyak sub-bagian. Dikemas dengan apik menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan interaktif dengan pelbagai kalimat humor sehingga tidak membosankan.

Penulis menulis buku ini dengan menyelipkan beberapa pengalamannya sebagai seorang aktivis muslim di kampus. Dikisahkan juga beragam kebermanfaatan di jalan dakwah seperti semangat tarbiyah, kuliah, organisasi, ibadah, dan ikhlas.

Banyak fenomena yang diulas dalam buku ini terkait dakwah kampus, seperti cirri-ciri aktivis dakwah kampus, kepemimpinan, miskinnya kreativitas, menurunnya kerja dakwah saat ini, nasihat-nasihat dakwah, dan bahkan mengulas virus merah jambu dalam dakwah kampus.

Kelebihan lain dari buku ini selain diulas dalam bahasa yang renyah dan menyenangkan ialah tidak bersifat menggurui sehingga pembaca tidak harus merasa terintimidasi untuk memahaminya. Penulis seolah menempatkan dirinya sebagai teman diskusi tersurat. Penulis bercerita, berkisah, dan kadang bergurau untuk mengajak pembaca memahami apa yang ditulisnya.

Akan tetapi, beberapa bagian buku ini menggunakan bahasa Arab dan Jawa. Meskipun telah dilengkapi dengan daftar istilah di halaman awal buku, pembaca yang awam tentang dakwah kampus akan tetap kesulitan memahaminya bila tidak melihat daftar istilah. Terlebih lagi pembaca yang tidak mengerti bahasa Jawa.

Minggu, 13 April 2014

Sempat Mati Suri, Natural Kini Eksis





Lima belas tahun terlewat mengiringi kiprah Natural mengukir sejarah sebagai penggiat jurnalistik di kalangan mahasiswa. Lahir dari lingkup sains yang kental, Natural terus berusaha mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pers satu-satunya di FMIPA Universitas Lampung. Pasang surut kerap bergelanyut, Natural pernah jatuh bahkan mati suri hingga kemudian bangkit kembali.

Mati suri Natural telah berlalu hampir enam tahun yang lalu. Kini Natural bangkit kembali dalam eksistensinya sebagai lembaga pers di Fakultas MIPA. Terus berupaya meningkatkan produk jurnalistik dan pengurus yang berkualitas diusianya yang kini menginjak remaja, tepat 15 tahun pada 25 Maret lalu. Natural terus tumbuh dan berkembang, dengan rutin menerbitkan buletin bulanan, majalah tahunan, bahkan menerbitkan buku Antologi Esai: Kekuatan Media Sosial diawal 2013.

Membuka Cakrawala Berpikir Ilmiah!

Redaksi

MENGABDI Lewat Che-Care



Foto Dok.
CHE-CARE HIMAKI DI DESA TANJUNGSARI. Masyarakat 
Desa Tanjungsari VI Natar tengah menghadiri penyuluhan 
dari beberapa dosen Jurusan Kimia FMIPA Unila



Jumat, (14/3) Himpunan Mahasiswa Kimia (Himaki) FMIPA Unila mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk kegiatan chemistry care (che-care). Che-care adalah kegiatan tahunan yang diadakan secara rutin oleh Himaki. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Tanjungsari Dusun VI, Kecamatan Natar pada Sabtu-Minggu (14-15/3) lalu.

Che-care merupakan tempat bagi mahasiswa dan dosen k
imia untuk menyalurkan rasa kepedulian terhadap sesama. Hal ini disampaikan oleh M. Yusry Ahmadhani selaku ketua umum Himaki. 

“Che-care itu bentuk kepedulian mahasiswa kimia terhadap mayarakat dan juga bentuk dari pengabdian mahasiswa Kimia,” tuturnya.

Yusry menjelaskan bahwa kegiatan ini diisi dengan penyuluhan dosen, pembagian sembako, dan pengobatan gratis yang bekerja sama dengan Puskesmas Natar. Kegiatan ini berlangsung dengan baik, hal ini dilihat dengan adanya timbal balik dari masyarakat ke Himaki.

Mahasiswa semester VI ini berharap agar kegiatan yang telah dilaksakan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat dan Himaki terus melakukan kegiatan ini. (Tazkiya Nurul)

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...