Selasa, 26 September 2017

Kawah Gas Darvaza, Pintu Menuju Neraka

Kawah Gas Darvaza, Pintu Menuju Neraka

Saat mendengar kata api abadi, yang terbesit dalam pikiran biasanya adalah kawah yang berisi magma dengan api berkobar tanpa henti. Seperti api biru di gunung Ijen dan Islandia. Meskipun disebut api abadi, api biru ini bukanlah api yang sesungguhnya.

Berbeda dengan api biru, sebuah kawah di gurun Karakum, Turkmenistan terus mengobarkan api yang sesungguhnya tanpa henti sejak 40an tahun yang lalu. Ilmuan belum bisa memprediksi kapan kobaran api itu akan padam.  Kawah dengan nama Darvaza atau yang mempunyai nama resmi The Darvaza Crater, memiliki lebar 69 meter dan dalam 30 meter. Penduduk setempat menjuluki kawah itu dengan nama Door to Hell.

Kawah Darvaza sendiri merupakan area bekas eksplorasi energi. Jadi bisa dikatakan bahwa kawah ini terbentuk karena perbuatan manusia. Tidak banyak yang diketahui oleh dunia sains mengenai asal-usul Darvaza. Akan tetapi, kisah yang paling sering dituturkan berlatar pada 1971, ketika Turkmenistan masih berada di bawah kekuasaan Soviet, para ilmuwan berniat mengeksplorasi wilayah Karakum yang dideteksi memiliki kandungan minyak. Sebuah ladang minyakpun dibangun. Lalu mereka mempersiapkan segalanya untuk mulai melakukan pengeboran.

Rupanya ilmuwan Rusia salah mendeteksi. Bukannya menemukan minyak, mereka malah menemukan sejumlah besar gas bumi. Ladang tersebut ternyata tidak mampu menampung alat-alat berat yang telah ditempatkan sehingga longsor pun terjadi. Keseluruhan alat berat yang ada ke bawah tanah ikut jatuh  ke dalam lubang. Lubang semakin melebar seiring dengan efek domino yang terjadi pada tanah di sekitarnya.

Gas bumi merupakan campuran dari gas hidrokarbon yang didominasi oleh gas metana. Gas metana tidak berbau dan menggantikan oksigen, namun baru akan menghilang dari atmosfir dalam kurun 10 tahun. Para ilmuwan khawatir gas metana akan membuat makhluk hidup sekitar kawah tidak dapat bertahan karena banyaknya gas yang meluap dan menggantikan oksigen, yang berarti tidak baik untuk pernapasan.

Ilmuwan itu menganggap, membakar gas metana dalam lubang itu merupakan satu-satunya jalan untuk menghentikan gas yang terus menerus keluar. Lagipula ilmuwan memprediksi hanya akan ada 5 persen gas metana yang berpotensi meledak. Namun lagi-lagi prediksi itu salah. Para ilmuwan hanya memprediksi volume gas metana yang ada di atas lubang tapi tidak memprediksi jumlah yang ada di dalamnya. Akhirnya api yang diprediksi akan padam dalam kurun satu minggu tidak pernah padam selama bertahun-tahun.
Misteri Darvaza baru mulai terkuak ketika penjelajah George Kouronis yang bekerja sama dengan National Geographic dan perusahaan travel Kensington Tours menjadi manusia pertama yang mencapai dasar kawah tersebut pada 2013. Misi Kouronis adalah mengambil sampel dari lantai kawah agar para peneliti dapat mengetahui ada tidaknya kehidupan di dalam Darvaza.



Untuk melakukannya, Kouronis menjalani persiapan selama 18 bulan, termasuk berlatih dengan pakar laga agar tidak panik ketika terbakar. Lalu, dilengkapi dengan alat pernapasan khusus, pakaian yang memantulkan panas, dan sabuk memanjat yang terbuat dari Kevlar agar tidak meleleh saat Kouronis turun ke dasar Darvaza.

Berbicara kepada National Geographic, Kouronis mendeskripsikan pengalamannya seperti mendarat di planet lain. Dia melihat Darvaza sebagai “koloseum api” yang terbuat dari ribuan api-api kecil dan berbunyi seperti mesin jet.

“Kami berhasil menemukan beberapa bakteri yang hidup di dasar dan merasa nyaman dalam temperatur tersebut. Namun, yang lebih penting adalah fakta bahwa mereka tidak ditemukan di tanah sekitar kawah,” ucapnya.

Hingga saat ini pemerintah masih mencari cara untuk menutup kawah itu. Turkmenistan masih berharap bisa menemukan minyak di wilayah tersebut namun masih takut akan potensi kandungan gas bumi yang ada. Pemerintah takut akan terbentuk lubang yang sama seperti Karakum di wilayah lain sehingga mereka berniat untuk menghentikan kobaran api dan menimbun gas alam yang ada.


Sayangnya pemerintah Turkmenistan masih dilema dengan penutupan ini karena Kawah Darvaza menarik banyak minat turis asing untuk berkunjung ke Turkmenistan.

Penulis : Putri Isnaini C.B.

Jumat, 01 September 2017

Himpunan Jurusan Kimia FMIPA Unila Menggelar OKI

Olimpiade Kimia Indonesia (OKI) merupakan salah satu dari serangkaian acara Chemistry Expo yang diadakan setiap tahunnya oleh HIMAKI. Seperti namanya, OKI yaitu Olimpiade Kimia Indonesia yang seharusnya mencakup se-Indonesia, namun pada kenyataannya acara ini baru mencakup wilayah se-Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan).   

Meski hanya mencakup wilayah Sumbagsel, namun peserta acara ini telah mencapai 125 peserta dari kalangan siswa/siswi SMA. Kompetisi ini menggunakan sistem rayon, terdapat 5 rayon pada proses penyisihan tahap pertama, terdiri dari Bandar Lampung, Lampung Tengah, Metro, Pringsewu, Lampung Barat dan Kotabumi. 

Tahap pertama sebelumnya telah dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus dengan sistem seleksi disetiap rayon untuk diambil 40 besar, kemudian tahap kedua dan ketiga dilaksanakan pada hari yang sama 26 Agustus untuk diambil 7 besar, kemudian diuji untuk mendapat juara 1, 2, dan 3. Pada tahap ketiga seleksi ini dilakukan dengan memberikan ujian soal esai yang kemudian dipresentasikan didepan dosen dibidangnya untuk dinilai secara langsung. 

“Tujuan diadakannya OKI yang pertama adalah kami ingin membantu mengembangkan pengetahuan dan potensi para pelajar SMA yang ada di daerah Lampung dengan berkompetisi dibidang ilmu pengetahuan Kimia, dan juga sebagai ajang latihan persiapan OSN yang nanti akan diadakan, sekaligus mempromosikan jurusan kami” ungkap  Tria Prabowo selaku ketua pelaksana acara tersebut yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Sosial Masyarakat (SosMas) HIMAKI.

“Sebenarnya acara ini terkendala pada peserta. Peserta yang terdaftar saat ini hanya berasal dari Lampung. Hal ini terjadi, karena kesalahan waktu publikasi yang bertepatan dengan Masa Orientasi Siswa, serta pergantian pengurus (re-organisasi) di sekolah-sekolah luar Lampung tersebut” lanjut mahasiswa kimia angkatan 2015 tersebut. 

”Harapan saya OKI kedepannya bisa dikembangkan lagi dalam cakupan yang lebih luas, tidak hanya Sesumbagsel, namun seperti namanya se-Indonesia” ujar Tria.  

Selain OKI, acara Chemistry Expo ini juga telah melakukan kegiatan bermanfaat lainnya seperti Chemistry Care (Checare) pada tanggal 14 dan 15 Agustus 2017 kemarin. “Untuk kegiatan Checare ini sendiri terdiri atas pengobatan gratis, Baksos (Bakti Sosial), dan pengabdian dosen. Kami memilih desa Bumisari yang terletak di Pringsewu sebagai lokasi berlangsungnya kegiatan tersebut. Dari antusias warga masyarakatnya, Sumber Daya Alam (SDA) disana yang berlimpah, serta warga desa yang kebanyakan berprofesi sebagai petani dan bercocok tanam, hal inilah yang menjadi alasan utama kami memilih desa tersebut. Melalui agenda pengabdian dosen, warga diajari mengolah limbah yang berlimpah disana menjadi pupuk yang bermanfaat untuk bertani maupun bercocok tanam, sesuai dengan kegiatan sehari-hari mereka” tutup Tria.

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...