Kamis, 28 Juni 2018

Fokus!


Dua, tiga, empat, lima, kucentang satu persatu nomor pada daftar kegiatanku hari ini.
Huft... Akhirnya selesai. Kuseka keringat yang sedikit membasahi keningku. Aku lelah akan semua rutinitas yang sudah lama ku jalani. Tapi, Aku menikmatinya.

Dera itu nama panggilanku, mahasiswi cantik dan berbakat. Siapa yang tak mengenalku, secara Aku adalah anak organisasi yang paling aktif di kampus. Sombong memang ketika harus menyebutkan jabatanku di kampus sebagai ketua sanggar tari, wakil ketua badan eksekutif, dan anggota UKM lainnya. Agenda apapun yang berhubungan dengan keahlianku pasti Aku yang mewakili.

"Dera, kamu sibuk ya hari ini?" tanya seorang sahabatku, Salsa.

"Maaf ya Sa, Aku sibuk. Harus ngerjain proposal terus siangnya lanjut rapat," dengan rasa bersalah kujawab pertanyaanya.

"Gitu ya Ra? Padahal Aku pengen ngajak kamu jalan. Udah lama lho Ra kita nggak jalan bareng," jawab Salsa dengan raut muka memelas.

"Oke lain kali ya Aku usahain. Maaf banget Sa, project ini nggak bisa ditinggalin," jelasku pada Salsa. Akhirnya Aku memutuskan untuk pamit dari hadapannya karena harus bergegas ke sekret.
Langkahku terhenti seketika melihat setumpukan kertas yang berada di kotak sampah. Kuambil satu persatu kertas tersebut dan kubaca dari lembar pertama hingga akhir.

"Apa? Gila aja nih orang, ini jelas-jelas kertas proposal yang Aku print kemarin. Kok bisa ada disini sih?!" gumamku kesal. Tanpa pikir panjang Aku masuk kedalam ruangan tersebut dan tak kudapati seorangpun disana.

Masih menjadi misteri, tak ada satupun orang yang mengakui siapa yang telah membuang proposalku kemarin. Tapi Aku curiga pasti ada seseorang yang ingin menjatuhkanku.

"Dera? Dera Deviana?" panggilan itu sayup-sayup terdengar, "Kamu keluar!"

Suara yang paling jelas terdengar setelah namaku disebut. Sontak lamunanku buyar dan kudapati dosen Bahasa Indonesia sedang berkacak pinggang di depan.

"Kok keluar sih, Pak? Saya salah apa?" tanyaku dengan muka sepolos mungkin.

"Dari tadi kamu tidak memperhatikan saya, keluar sekarang juga!" bentak dosen yang memang terkenal killer itu. Oke, kuputuskan untuk keluar kelas. Memang, dari awal pikiranku sudah terbagi antara pelajaran dengan oknum yang membuang proposalku itu. Setelah memutuskan untuk keluar Aku pun mulai berpikir untuk segera mencari tahu siapa yang membuang proposalku.

"Dera, kok nggak masuk kelas?" tanya Ibu Nurma, salah seorang dosen pembimbing.

"Iya Bu, tadi ada masalah, jadi keluar kelas," jawabku singkat.

"Kalau begitu ke sanggar yuk, latihan untuk dies natalis jurusan kita," ajak beliau sembari menggandeng tanganku. Dengan pasrah Aku pun mengikuti langkah kaki Bu Nurma. Sesampainya di ruangan tersebut kulihat banyak piagam yang terpajang di dinding. Salah satunya terdapat namaku Dera Deviana sebagai salah satu pemenang dalam lomba tari tingkat nasional. Kupandangi piagam tersebut dengan seksama, sesekali kuusap untuk membersihkan debu yang menempel. Ya, piagam ini telah usang, kudapatkan empat tahun silam ketika masih menyandang status mahasiswa baru. Sekarang hanya dapat membagikan ilmunya kepada generasi penerus.

 "Kamu tunggu adek tingkat datang ya Der, ibu mau ke kantor. Nanti langsung latihan aja," jelas Bu Nurma sembari berjalan meninggalkanku.

Mana bisa Aku melatih mereka sedangkan Aku masih belum menemukan siapa yang telah membuang proposalku. Kuputuskan untuk pergi ke sekret dan mencari penyebab kegagalan acaraku kemarin. Tanpa pikir panjang kulangkahkan kakiku menuju tempat itu.

"Der, rapat yuk, bahas acara penggalangan dana besok," tiba-tiba suara itu  menghentikan langkahku, ternyata itu suara Aji. Aji adalah kepala bidangku. Sosok yang didambakan banyak wanita, tak lain dan tak bukan karena dia memiliki paras yang tampan serta tingkat kecerdasan diatas rata-rata. Tapi sayang dia adalah adik tingkatku.

"Iya Ji, bentar ya mau ada urusan" jawabku sambil memalingkan muka dan meninggalkan ia sendiri. Mungkin tingkahku yang demikian adalah kali kesekian yang menggambarkan kekesalanku kepada Aji. Bagaimana tidak, ia selalu memintaku untuk rapat disaat tugas atau urusanku sedang banyak.

Hari ini adalah hari tersuram yang pernah kualami. Semua terbengkalai. Tugas-tugasku, acaraku, skripsiku. Ah, semua nampak mengecewakan. Kuputuskan untuk berpikir beberapa saat. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Pertanda bahwa Aku harus segera tertidur. Namun, masalah hari ini tidak bisa dianggap sepele. Skripsiku masih saja berhenti di BAB 1.

 Inget Ra, kamu udah semester sembilan kalo nggak cepet lulus kamu nggak bisa cepet nikah, kalo nggak nikah jadi perawan tua terus kalo jadi perawan tua kecantikanmu mubazir. Ayo dong Ra, semangat ngerjain skripsinya!

Tiba-tiba perkataan Salsa melintas dipikiranku.

"Iya juga, kalo nggak cepet lulus nggak bisa cepet nikah ya?Kalimat konyol itu sontak membuatku semangat mengerjakan skripsi. Tak peduli jam berapa sekarang, yang terpenting skripsiku tidak mentok di BAB 1. Kuketik kata perkata hingga menjadi kalimat yang padu.

"Ra, kamu tau kenapa akhir-akhir ini semua urusanmu tidak berjalan dengan lancar?" Tanya Salsa.

"Entahlah Sa, mungkin Aku kurang waktu aja buat menyelesaikan tugasku," jawabku singkat.

"Bukan Ra, kamu seharusnya fokus pada tujuan kamu, sekarang udah bukan waktumu untuk ikut organisasi. Pun jika memang ingin ikut organisasi, fokus Ra. Pilih salah satu yang kamu inginkan. Jangan pernah berpikir bahwa kamu bisa segalanya. Jika kamu memiliki banyak pilihan maka akan banyak pula tanggungjawab yang harus kamu jalani. Pahami aja pesanku barusan"

Aku terbangun. Ternyata ini hanya sebuah mimpi. Namun, perkataan Salsa di dalam mimpi itu seperti sedang menampar ku berkali-kali hingga Aku tersadar. Kamu benar Sa, Aku harus berubah!


oleh : Fifi Nurhafifah

Bisa Karena Terbiasa

Dok. Natural

Belakangan  ini ,  banyak orang  yang   mengeluh  bahwa mereka  tidak  bisa   mengerjakan pekerjaan yang baru didapatkan saat ini. Ketidakbisaan  dalam melaksanakan pekerjaan tersebut  bukan karena orang yang bekerja itu bodoh, melainkan pekerjaan itu adalah sesuatu hal yang baru. Dengan kata lain, mereka harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan tersebut.

Jika pekerjaan berantakan suatu pekerjaan  baru, siapakah yang patut disalahkan? Ya, yang pantas disalahkan adalah orang yang bekerja, bukan pekerjaanya. Namun, kenapa pekerja yang harus disalahkan? Disinilah pekerja harus memiliki daya juang yang tinggi agar pekerjaan yang baru tersebut dapat terselesaikan dengan baik.

Nah, bagaimana kalau di lingkungan mahasiswa? Sering sekali saya menemukan dikalangan mahasiswa, mereka cenderung mengeluh terlebih dahulu sebelum melakukannya. Contohnya teman saya ingin belajar cara menulis untuk dijadikan suatu cerpen ataupun karya lainnya, apa yang teman saya katakan di awal?

“Saya tidak bisa membuat cerita. Bagaimana saya bisa membuat novel? Saya tidak bisa apa-apa,” . Pernyataan ini  merupakan  masalah klasik yang  sering diungkapkan teman saya saat ingin belajar suatu hal. namun seharusnya  masalah  ini dapat diselesaikan dengan mudah.
Suatu pekerjaan ataupun pembelajaran jika kita sering bertemu dengan hal tersebut secara tidak langsung kita akan paham dengan sendirinya. Sebagai contoh, bayi yang sedang belajar berjalan melakukan proses terlebih dahulu untuk menunjang pembelajarannya agar dapat berjalan.

Proses inilah yang kadang terlupakan oleh sebagian orang. Mereka lebih memilih jalan instan ketimbang harus melewati proses. Padahal dengan melewati proses inilah kita dapat paham mengenai apa yang sedang kita pelajari dan untuk mencapai sebuah keberhasilan memang membutuhkan perjuangan.

Kita akan bisa jika kita terbiasa. Saat kita terbiasa untuk mempelajari apa yang akan kita kerjakan,  maka keterbiasaan ini akan menuntun kita menuju tujuan yang sedang kita targetkan. Mari ubah pola pikir kita, yang awalnya sering mengeluh, belajarlah! Biasakan melakukannya, pasti kita akan bisa.

Salam Pers !


oleh : Fahrul Efendi

Hilangkan Diskriminasi Organisasi

Dok. Natural

Organisasi merupakan wadah mahasiswa untuk berkreasi, mengembangkan potensi diri, dan mendapatkan teman baru. Namun saat ditelaah lebih dalam, organisasi justru dapat menimbulkan diskriminasi antar mahasiswa.

Setiap mahasiswa memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan dan kekurangan tersebut bukan untuk dibanggakan ataupun disesali.  Namun, kekurangan dan kelebihan itu dapat diaplikasikan serta diasah dalam sebuah wadah organisasi.

Mahasiswa berhak memilih dimana ia akan mengembangkan potensinya. Kita ketahui bahwa potensi yang dimiliki setiap mahasiswa tentu tidak sama, oleh karena itu ada beragam jenis organisasi di kampus hijau ini yang bisa dipilih oleh seluruh mahasiwa untuk mengembangkan diri.

Embel-embel mahasiswa yang sudah melekat saat ini memiliki wewenang akan dirinya sendiri. Tak bisa memaksakan kehendak untuk kepentingan kalangan-kalangan tertentu. Baik buruknya mahasiswa, dirinyalah yang seharusnya lebih mengetahui dibandingkan dengan orang lain.

Tak pantas rasanya jika mendiskriminasi mahasiswa lain dengan alasan organisasi. Hanya karena tak mengikuti organisasi tertentu, mahasiswa bisa merasakan ganasnya diskriminasi terhadap dirinya. Hanya karena tidak satu jalan, mahasiswa mendapat perlakuan yang berbeda dengan mahasiswa lain.

Biarkan mahasiswa memilih yang terbaik untuk dirinya. Biarkan ia mengalirkan karya-karya indah yang bisa dirasakan bukan hanya untuk dirinya, ataupun untuk organisasi yang dia pilih, namun juga bisa dirasakan untuk organisasi lain bahkan khalayak luas.

Satu kalimat terakhir, "Untuk membanggakan rumah,  tak selamanya kau harus berdiri diatas rumahmu".


oleh : Raka Nurpandi

Rabu, 27 Juni 2018

Mahasiswa Lampung Kawal Pilkada Serentak 2018

Presiden BEM Unila bersama salah satu warga yang mendapat surat edaran
(Dok. BEM U KBM Unila) 


Menyambut pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018, mahasiswa Lampung adakan Gerakan 2000 Mahasiswa Lawan Politik Uang. Kegiatan yang dipelopori oleh BEM Universitas Lampung ini diikuti oleh kurang lebih sebanyak 200 orang volunteer yang tak lain merupakan mahasiswa yang berasal dari beberapa perguruan tinggi di seluruh Lampung. Gerakan ini diadakan sebagai tindak lanjut dari gerakan sikap mahasiswa terhadap politik uang setelah sebelumnya dilakukan aksi Segel Bawaslu pada Senin (04/06) lalu. Aksi ini sendiri diduga bermula dari sikap Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Lampung yang cenderung diam dan tidak menindaklanjuti berbagai laporan masyarakat tentang politik uang menjelang pemilihan gubernur Lampung, sehingga dari aksi tersebut, BEM Unila mulai membentuk Gerakan 2000 Mahasiswa Tolak Politik Uang. Gerakan ini dilakukan dengan tujuan untuk pendokumentasian yang dilanjutkan dengan pelaporan apabila terjadi tindakan-tindakan pelanggaran pada pilkada Lampung.

Dimulai sejak Selasa (12/06) lalu, para volunteer gerakan ini melakukan seruan “Gerakan 3 Mata; Perhatikan dengan 2 Mata, Dokumentasikan dengan 1 Lensa Kamera” kepada kepala-kepala desa dan masyarakat. Gerakan ini dilakukan tersebar di beberapa daerah Lampung sesuai dengan daerah asal para volunteer tersebut. Disamping menyerukan Gerakan 3 Mata, para volunteer juga menyebarkan surat edaran yang berisi ancaman mahasiswa Lampung terhadap kepala desa, lurah, dan lainnya yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam pilkada seperti tidak bersikap netral, melakukan pelanggaran politik uang, menjadikan desa sebagai alat kampanye, dan menjadikan dana desa untuk kampanye salah satu paslon.

Menurut keterangan Tiyasz Ariansyah selaku Mentri Kajian Politik Hukum BEM Unila, Gerakan 2000 Mahasiswa Lawan Politik Uang ini efektif untuk mempersempit terjadinya kecurangan dalam pilkada seperti kasus politik uang.

“Secara target, gerakan ini adalah gerakan yang paling relevan untuk dilakukan dan sangat efektif untuk mempersempit ruang gerak politik uang,” jelas Tiyasz, “Harapan kita kedepannya agara gerakan ini tetap konsisten hingga pasca pemilihan sehingga pengawalan kita memiliki muara,” lanjutnya. (Adi, Nadya)

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...