Selasa, 24 Juli 2018

Pembukaan KKN Kebangsaan 2018, Rektor Unila : Mahasiswa Akan Ditempatkan di 92 Desa

Pembukaan KKN Kebangsaan 2018 

Universitas Lampung menggelar acara Pembukaan KKN Kebangsaan 2018 di Gedung Bagas Raya, Bandar Lampung pada Senin (23/07). Acara yang mengangkat tema “Merajut Kebersamaan dan Kesamaan dalam Kebhinekaan (Piil Pesenggiri)” ini menghadirkan Zulkifli Hasan selaku Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dan Zulpakar selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung sebagai keynote speaker. Acara ini dimulai pukul 08.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB yang dihadiri oleh mahasiswa yang mengikuti KKN Kebangsaan, KKN Tematik, dan KKN Reguler.

Dalam sambutannya, Hasriadi Mat Akin selaku Rektor Universitas Lampung menyatakan bahwa KKN Kebangsaan tahun ini diikuti oleh 641 mahasiswa terbaik dari 55 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Selain itu, Hasriadi mengatakan bahwa Unila sebagai tuan rumah KKN Kebangsaan 2018 juga mengirim sebanyak 3.200 mahasiswa KKN Reguler dan KKN Tematik bersama dengan BNP2TKI, PUPM, KKN PPM, dan Desa Binaan.

“Peserta KKN kali ini benar-benar berasal dari Sabang sampai Merauke. Para peserta KKN kali ini akan ditempatkan di 92 desa,” jelas Hasriadi. Adapun 92 desa yang menjadi lokasi kegiatan KKN tahun ini berada di Kabupaten Tanggamus (32 desa), Kabupaten Tulang Bawang Barat (28 desa), dan Kabupaten Lampung Timur (32 desa).

Mahasiswa KKN Kebangsaan akan mengikuti kegiatan pelatihan pada Selasa (24/07) dan Rabu (25/07) di Lanal Lampung. Setelah itu mahasiswa KKN Kebangsaan akan diantar ke lokasi pengabdian dan mulai melaksanakan kegiatan pada Kamis (26/07) dan kembali lagi ke Unila pada Sabtu (25/08). (Nadya)



Senin, 23 Juli 2018

Keren! Mahasiswa FMIPA Unila Basmi Nyamuk dengan Jamur


Bertujuan untuk membantu program pemerintah dalam menghadapi masalah demam berdarah, kali ini mahasiwa FMIPA Unila menggunakan cara yang berbeda dalam membasmi nyamuk Aedes aegypti. Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang terdiri dari Supiyanto, Ahmad Nuril Huda, dan Wuri Artika Sari ini membuat pembasmi nyamuk dengan menggunakan jamur yang bersifat kebal terhadap nyamuk. Produk ini juga tidak menimbulkan residu, mengingat selama ini pembasmi nyamuk yang digunakan oleh kebanyakan masyarakat adalah pemberantasan dengan cara pengasapan dan 3M.

Tim PKM mahasiswa yang berasal dari Jurusan Biologi ini menciptakan pembasmi nyamuk dari bahan fungi (jamur) entomopatogen sebagai insektisida alami dalam mengendalikan nyamuk Aedes aegypti. "Kami ingin mencoba membasmi demam berdarah dengan cara yang berbasis biologis dan ramah lingkungan,” jelas Ahmad Nuril Huda, salah satu anggota tim PKM ini, “Kami tidak menggunakan bahan kimia, tetapi dari bahan organic. Bahannya berasal dari fungi yang kita peroleh dari nyamuk yang mati." lanjutnya saat diwawancarai reporter Natural pada Sabtu (21/07).

Penelitian ini dilakukan selama empat bulan sejak April hingga Juli 2018 di Laboratorium Mikrobiologi FMIPA Unila dibawah bimbingan Bambang Irawan selaku salah satu dosen di Jurusan Biologi. Proses penelitian ini dimulai dari persiapan alat dan bahan, terutama mendapatkan isolat fungi (jamur) entomopatogen dari nyamuk Aedes aegypti untuk ditumbuhkan.
Dalam prosesnya pun bukan tanpa kesulitan. Yang paling menghambat dalam penelitian ini adalah ketika jamur yang ditumbuhkan mengalami kontaminasi sehingga menyebabkan proses uji jadi terhambat.

Bagi mereka, untuk memperoleh hasil yg memuaskan tidaklah mudah, karena harus bermain-main dengan jamur yang berukuran mikroskopik. Meskipun menghadapi beberapa kendala, mereka akhirnya berhasil membuktikan bahwa fungi (jamur) entomopatogen lebih efektif dalam membunuh nyamuk. Selain nyamuk dewasa, aplikasi dari fungi (jamur) entomopatogen ini juga dapat digunakan ke larva nyamuk dengan cara di tuang ke dlm air.

Tim penelitian ini berharap hasil dari penelitian mereka bisa dijadikan produk dan berguna di masyarakat.

“Untuk saat ini kami ingin mencoba penelitian lebih lanjut agar produk dan penelitiannya bisa diterima di masyarakat,” tutup Ahmad. (Fadlina)

Minggu, 15 Juli 2018

Jadwal Pembayaran UKT Mahasiswa Unila TA 2018/2019

Pembayaran UKT Mahasiswa Universitas Lampung untuk semua Program/Jalur Masuk dimulai sejak tanggal 16 Juli 2018 sampai 10 Agustus 2018. Untuk jadwal akademik lainnya dapat dilihat di Kalender Akademik Universitas Lampung TA 2018-2019 berikut ini.





Sabtu, 07 Juli 2018

Susu Kental manis : Aman atau Tidak?


Susu kental manis (SKM) menurut hasil pemeriksaan BPOM tidak mengandung susu
(Dok. Google)


Beredarnya kabar tentang susu kental manis (SKM) yang faktanya jauh berbeda dengan persepsi masyarakat saat ini, telah membuat pro dan kontra antara menganggap SKM masih aman dikonsumsi atau tidak. Pasalnya, dari hasil pemeriksaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), menyatakan bahwa SKM sama sekali tidak mengandung susu.

“Karena memang SKM itu bukan susu, karena tidak dihasilkan dari hewan apapun,” jelas Thusy Eka Putri selaku peneliti dari BPOM Lampung, “Basic-nya susu itu dihasilkan dari makhluk hidup seperti sapi dan kambing yang susunya diperah, kemudian ada yang dipasteurisasi, disterilisasi, dibuat bubuk, tapi kalo SKM ini tidak begitu,” lanjutnya. Thusy juga mengatakan bahwa hal ini sudah terbukti lewat analisis dan kajian dari BPOM pusat bahwa tidak ada SKM yang mengandung susu.

Untuk mengatasi ini, BPOM telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya yang isinya melarang  produsen, importir, dan distributor SKM untuk menampilkan label dan iklan SKM dengan model anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Selain itu, menggunakan visualisasi gambar susu cair atau susu dalam gelas yang disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman juga dilarang untuk digunakan dalam label dan iklan SKM. Hal ini untuk merubah persepsi masyarakat bahwa SKM tidak boleh dianggap sama dengan susu pada umumnya.

Glukosa memang benar menjadi sumber energi untuk manusia, termasuk glukosa yang terkandung dalam SKM. Glukosa tidak berbahaya untuk dikonsumsi, namun jika berlebihan bisa berdampak buruk terutama bagi anak-anak.

“Kalau sampai ada orangtua yang menganggap SKM itu punya khasiat dan manfaat yang sama seperti susu, ini bahaya. Karena kalau kita mengonsumsi glukosa berlebihan, termasuk si SKM ini, bisa kena over-glucose, penyebab diabetes,” terang Thusy, “Kita tidak melarang produk SKM, tetapi mengatur terkait labelnya iklan dan saran penyajiannya yang harus dibenahi. Karena ini penyebab kelirunya persepsi masyarakat terhadap SKM yang menganggapnya sama dengan jenis susu lainnya, padahal tidak,” lanjutnya. (Nadya)

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...