WOW! PKM-PE Mahasiswa FMIPA Biologi Lolos Seleksi Kemendikbud

Doc. Narasumber Tiga mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila), Siti Inah (Biologi 2018), ...

Doc. Narasumber


Tiga mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila), Siti Inah (Biologi 2018), Rachmat Nugraha Indra (Biologi 2019), dan Indah Sukma Ningsih (Biologi, 2018)  ini patut diacungi jempol. Mereka mampu mengubah biji alpukat yang dianggap masyarakat sebagai limbah menjadi pati resisten yang berperan sebagai prebiotik pencegah penyakit diabetes melitus.

Diabetes melitus menjadi salah satu penyakit paling mematikan didunia. Menurut data International Diabetes Melitus Federation (IDF) Atlas tahun 2017, epidemic Diabetes Melitus di Indonesia masih menunjukkan peningkatan yang signifikan yang mana Indonesia menjadi negara dengan peringkat ke-6 didunia setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brazil, dan Meksiko dengan jumlah penderita diabetes melitus usia 20-79 tahun sekitar 10,3 juta orang.

“Tim kami mencoba melakukan penelitian produksi pati resisten dari biji alpukat oleh bakteri Actinomycetes sebagai kandidat prebiotik untuk pasien diabetes melitus, kami melihat masalah penyakit diabetes melitus di Indonesia yang setiap tahunnya mengalami peningkatan beriringan dengan biji alpukat yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Menurut penelitian yang telah dilakukan Winarti dan Purnomo (2006) biji alpukat mengandung kadar pati yang tinggi yaitu sebesar 80,1%, untuk mengubah pati menjadi pati resisten perlu dilakukan fermentasi pada pati dengan bantuan bakteri penghasil amilase untuk mempercepat reaksinya dan kami memilih penggunaan bakteri Actinomycetes dikarenakan bakteri ini mudah didapatkan sehingga dapat dikulturkan dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang singkat, dalam teknik fermentasi ini akan dihasilkan polisakarida rantai pendek yang mampu meningkatkan produksi pati resisten," jelas Siti Inah.

"Setelah melakukan fermentasi kami melakukan pemanasan bertekanan pendinginan pada pati yang telah difermentasi hal ini bertujuan untuk menghasilkan pati resisten dengan jumlah yang banyak dalam waktu yang singkat,” tutupnya selaku ketua penelitian ini.

Rachmat menambahkan penjelasan bahwa semakin tinggi daya cerna pati menujukkan semakin tinggi pati untuk diubah menjadi glukosa sehingga semakin tinggi pula kemampuan pati untuk menaikkan glukosa darah, hal inilah yang menjadi penyebab penyakit diabetes melitus.

“Pati resisten memiliki efek sebagai prebiotik karena memiliki kemampuan yang tidak dapat dicerna oleh usus halus manusia akan tetapi dapat dicerna oleh bakteri probotik (bakteri sehat) dalam usus besar. Oleh karena itu, keberadaan pati resisten dalam usus halus mampu mengurangi kerja pankreas dalam membantu mencerna kelebihan glukosa dalam darah sehingga penyakit diabetes bisa ditekan,” tambah Indah selaku anggota penelitian.


Hasil penelitian ini menjadi gagasan yang disusun dan dituangkan dalam Proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) yang berjudul "Produksi Pati Resisten dari Biji Alpukat oleh Bakteri Actinomycetes sebagai Kandidat Prebiotik untuk Pasien Diabetes Melitus" yang berhasil lolos seleksi pendanaan Kemendikbud periode 2019-2020 dan berhak maju ke tahap selanjutnya.


Mereka berharap hail penelitian ini dapat dipatenkan dan menjadi acuan penelitian selanjutnya agar biji alpukat yang dikenal sebagai limbah dimasyarakat justru mampu menjadi obat bagi salah satu penyakit mematikan di dunia. (Rilis)


Editor : Bella

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item