Senin, 12 Oktober 2020

Lanjut Tuntut Cabut Omnibuslaw, Mahasiswa Lampung Bergerak akan Aksi Damai Esok Hari

 

Dokumentasi Natural.

Mahasiswa Lampung Bergerak akan mengadakan Aksi Damai Cabut Omnibuslaw. Rabu (14/10), di Tugu Adipura, Bandarlampung.


Berita ini dibenarkan dengan pamflet yang di unggah pada instagram BEM Unila. Pelaksanaannya pada tanggal 14 Oktober 2020, pukul 13.00-17.00 WIB. 

Aksi ini mewajibkan massa aksi memakai amamater. "Supaya kita tidak kecolongan lagi mana yang massa aksi yang terdaftar dan mana yang di luar," jelas Raka pada konsolidasi Aksi Damai, Senin (12/10).

"Dengan ini,  para ketua lembaga bisa dengan mudah memperhatikan mana masa aksi atau mana yang kelompok-kelompok yang hanya bertujuan membuat kericuhan, " tambah Menteri Pergerakan BEM U KBM Unila ini. 

Aksi damai ini terdiri dari, mimbar bebas,  teatrikal,  dan galang dana. Massa aksi damai juga ditekankan untuk menggunakan masker, membawa handsanitizer, dan menjaga jarak. 


Reporter : Bella, Dewa, Lisna

Ternyata Ini Alasan BEM Unila Keluar dari Aliansi Lampung Memanggil

Dokumentasi Natural. 

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Lampung (Unila) memutuskan keluar dari Aliansi Lampung Memanggil. Berita ini dibenarkan pada konsolidasi KBM Unila di room google meeting,  Senin (12/10).

Raka Orlanda, Menteri Pergerakan BEM Unila menjelasakan bahwa keputusan ini berdasarkan perintah Presiden mahasiswa (Presma) BEM Unila dengan alasan massa aksi Aliansi Lampung Memanggil tidak terkontrol. Hal ini menyebabkan kericuhan yang tidak terkendali. 

"Selama 4 tahun saya ikut aksi di Lampung, baru pertama kali kericuhan terjadi saat aksi, sampai aparat keamanan menembakan gas air mata," ungkap Raka, Mahasiswa FMIPA 2016.

"Saat konsolidasi pun mereka (Aliansi Lampung Memanggil) tidak sepakat dengan usulan untuk coolingdown dari gerakan-gerakan aksi massa padahal masih dalam tahap recovery korban massa aksi tanggal 7," tambahnya. 

Korban terluka salah satunya Maulana Ilham Fikri, Mahasiswa Fakultas Teknik. Pada pamflet donasi yang tersebar, Maulana harus menjalani Operasi Pembuluh Mata di Rumah Sakit Abdul Moloek.

Korban penangkapan dialami Gubernur dan Kepala Dinas Isu dan Pergerakan (Kadis Isper) BEM FMIPA Unila saat menggalang dana donasi. 


(Baca Kronologi Tertangkapnya Gubernur BEM FMIPA 2020)


Reporter : Bella,  Dewa, Lisna 

Kronologi "Chaos" Aksi Tolak Omnibuslaw

 

Dokumentasi Natural

Seruan Aksi Tolak Omnibuslaw berujung ricuh. Rabu (07/10), di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung.

Abdirrohman selaku Koordinator Lapangan (Koorlap) menerangkan adanya massa di luar aliansi yang gabung tanpa konfirmasi sebelumnya. Sehingga Jendral Lapangan, Irfan Fauzi Rahman,  mengadakan konsol dadakan ditengah aksi tersebut.

"Ini menyebabkan massa aksi sulit terkontrol. Bahkan tidak mengikuti arahan dari koorlap, " terangnya. 

Pada pantauan Reporter Natural, sekitar pukul 10.30 WIB sebagian massa yang diduga siswa STM dan non mahasiswa (tidak menggunakan almamater kampus) masuk lewat pintu yang berbeda dari yang ditentukan. Bahkan melewati pagar kawasan pemerintahan tersebut. 

Massa tidak terkendali, botol bekas hingga batu dilemparkan ke arah aparat keamanan dan kawasan pemerintah. Tidak ada korban jiwa namun beberapa aparat, wartawan, terkena lemparan bagian kaki. Akhirnya polisi menembakan water cannon ke arah massa aksi yang tidak mengikuti rombongan mobil aksi tersebut. 

Kondisi lain, Jendral Lapangan dan para Ketua Lembaga yang tergabung dalam massa aksi melakukan lobi untuk masuk ke depan Gedung DPRD, sebab massa aksi masih di luar gerbang tersebut. 

Setelah beberapa kali lobi dilakuakan,  massa aksi diperbolehkan masuk tepatnya di depan kantor DPRD. 

Aksi berlanjut, menuntut 85 anggota DPRD harus datang di depan massa aksi. Namun, setelah Para Ketua Lembaga diskusi di dalam gedung, Jendral Lapangan, Irfan Fauzi Rahman yang juga sebagai Presiden Mahasiswa BEM U KBM Unila mengatakan bahwa hanya ada beberapa anggota di dalam gedung.

Sekitar pukul 15.35 WIB, massa aksi (yang tidak terdaftar ataupun konfirmasi keikutsertaan aksi) membakar ban dan menyalakan petasan. Beberapa kali juga terjadi lempara botol bekas dan batu ke arah Gedung DPRD.

Sekretaris Komisi II DPRD datang menuju mobil aksi untuk menemui massa aksi. Namun,  mereka menolak sebab yang di harapkan adalah Ketua DPRD Provinsi Lampung.

Aksi lempar batu tetap dilakukan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, salah satu mahasiswa Unila terkena botol berisi pasir dan batu pada bagian perut. 

Puncak kericuhan Aksi Tolak Omnibuslaw ini terjadi sekitar pukul 16.20 WIB. Pada awalnya Ketua DPRD menjanjikan akan menemui demonstran setelah salat ashar, tetapi menunggu hingga 2x5 menit beliau tidak datang. Massa aksi menjadi tak terkendali dan melempar batu lebih dari sebelumnya. Sehingga polisi memutuskan menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi ini.


(Baca Massa di Luar Aliansi Tak Terkendali, Kericuhan Terjadi)


Reporter : Bella, Dewa, Lisna

Kronologi Tertangkapnya Gubernur BEM FMIPA 2020

 

Dok. BEM FMIPA Unila.

Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) tahun 2020 tertangkap aparat kepolisian saat sedang menggalang dana donasi. Kamis (08/10), di depan Gramedia  menuju Tugu Adipura Bandarlampung.

Gubernur BEM FMIPA, Ropiudin menjelaskan dirinya bersama Kepala Dinas Isu dan Pergerakan (Kadis Isper), Imam Adi Saputra (Iim) sedang melakukan galang dana di sekitar Gramedia menuju Tugu Adipura.

"Dana yang terkumpul ini untuk korban aksi kemarin (Rabu), karena ada rekan yang harus dioperasi dan membutuhkan dan yang tidak sedikit," jelas Ropiudin.

Iim juga menceritakan bahawa mereka berdua memang menggalang donasi untuk korban aksi. Namun,  karena mereka menggunakan baju hitam  aparat mengira mereka adalah anak SMA/SMK/STM yang berencana membuat keriuhan di Tugu Adipura yang akan berlangsungnya aksi damai oleh para buruh. 

"Kami datang itu sekitar pukul 08.00 WIB lebih gitu, karena kesiangan kami tidak datang bersama rombongan galang dana. Kebetulan baju yang kami pakai juga hitam aparat keamanan menangkap kami dengan indikasi membuat kericuhan," terang Iim. 

Kurang lebih 11 jam penahanan Gubernur dan Kadis Isper BEM FMIPA di Polresta Bandarlampung. Iim menerangkan bahwa mereka tidak di berikan makan dari awal penahanan. 

"Hanya ada air mineral dan roti. Roti pun gak sampai di barisan kami sudah habis," jelas Mahasiswa Jurusan Matematika ini. 

Terbukti tidak bersalah Ropiudin dan Iim bisa keluar dari polres sekitar Pukul 20.30 WIB di bantu Iqbal Ardiyansyah selaku Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan anggota KNPI lainnya serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung.

Pada penjelasan pihak kepolisian, mereka yang diamankan adalah indikasi membuat kericuhan  karena menggunakan baju hitam. Posisi mereka juga sekitar titik pusat aksi, yaitu Tugu Adipura. 

Pada wawancara Reporter Natural, beberapa wali mengatakan anaknya tidak mengikuti demonstrasi. "Anak saya itu saya suruh beli ke toko pak, itu baju yang di pake (pakai) baju rumahan dan dia aja belom mandi. Kayak gitu kok di tangkep, Pak," keluh salah satu Ibu kepada Polisi. 

Hasil yang didapat Reporter Natural di lokasi, tidak berarti penangkapan terjadi karena membuat kericuhan. Namun, antisipasi dari pihak kepolisian akan indikasi-indikasi kericuhan seperti aksi kemarin (Rabu).


(Baca Tuntut Cabut Omnibuslaw, Mahasiswa Lampung Bergerak akan Aksi Damai Esok Hari)


Reporter : Bella, Yoga

Beberapa Kampus yang Keluar dari Aliansi Lampung Memanggil

Dokumentasi Natural. 


Pasca Aksi Tolak Omnibuslaw, beberapa Ketua Lembaga memutuskan keluar dari Aliansi Lampung Memanggil. Keputusan ini di ambil saat konsolidasi bersama Aliansi Lampung Memanggil pada Kamis (08/10).

Menteri Pergerakan BEM U KBM Unila, Raka Orlanda, mengatakan  selama 4 tahun ikut aksi di Lampung baru kali ini ricuh.  "Baru pertama kali kericuhan terjadi saat aksi, sampai aparat keamanan menembakan gas air mata," ungkap Raka, mantan Gubernur BEM FMIPA Unila 2019.

"Saat konsolidasi pun mereka (Aliansi Lampung Memanggil) tidak sepakat dengan usulan untuk coolingdown dari gerakan-gerakan aksi massa padahal masih dalam tahapa recovery korban massa aksi tanggal 7," tambah mahasiswa Fisika 2016 ini. 

Berikut kampus yang memutuskan keluar dari Aliansi Lampung Memanggil, yaitu :

1. Universitas Lampung (Unila) 

2. Institut Teknologi Sumatera (Itera) 

3. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) 

4. Universitas Malahayati

5. IAIN Metro

6. Universitas Muhammadiyah (UM) Pringsewu

7. Universitas Bandar Lampung (UBL) 

8. STKIP Bandarlampung

9. Universitas Muhammadiyah (UM) Lampung

Kampus tersebut yang akan bergabung pada Aksi Kreatif Mahasiswa Lampung Bergerak pada Rabu (14/10) di tugu Adipura, Bandarlampung.


(Baca Tuntut Cabut Omnibuslaw, Mahasiswa Lampung Bergerak akan Aksi Damai Esok Hari)

Reporter : Bella, Dewa, Lisna

Inilah Koordinator Aksi Tolak Omnibuslaw dan Lembaga yang Masuk Aliansi

 

Dokumentasi Natural.

Aliansi Lampung Memanggil dalam seruan Aksi Tolak Omnibuslaw. Rabu (07/10), di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung.

Aliansi ini dipimpin oleh Jenderal Lapangan dari BEM U KBM Unila, Irfan Fauzi yang juga sebagai Presiden Mahasiswa Unila. Koordinator Lapangan dari KM ITERA yaitu Jefri dan DPM KBM Unila yaitu Abdirrohman. 

Tim media yaitu SMI (tya) dan media tiap lembaga. Tim Logistik yaitu koordinator lapangan. Tim Advokasi yaitu Para Ketua  lembaga. Tim Medis  yaitu BEM KM Poltekkes, Sapri Nofan Ali. Kronolog Rizky dari BEM FMIPA Unila.

Berikut koordinator kampus atau Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) pada Aliansi Lampung Memanggil berdasarkan data dari Koordinator lapangan,

1. Unila : Ghani FR (Wapresma) 

2. Itera : Andre (Sekjen)

3. Universitas Tulang Bawang : (Bidang Sospol) 

4. LMND-DN : Ihsan Teja

5. SMI  : OSKAR

6. Pemuda Berdikari : Adit

7. SPL : Angga musa

8. Poltekkes : Faizi

9. KAMMI : Dika PW KAMMI

10. STIT : julian

11. UML : Edo Novendra

12. Pemuda berdikari : -

13. Universitas Saburai : Fathir Al (gub FH saburai)

14. UIN RIL : Ahmad Suban Rio

15. Polinela : Yongki

16. Umitra: Andika

17. Universitas Malahayati : Agam

18. Universitas Muhammadiyah Metro : Tri Aji Romdhani

19.  Aliansi Darmakritika : refki ardiansyah 

20. UBL : Arya Anasta [Kastrat FH]


"Jadi,  selain dari itu adalah massa aksi di luar aliansi yang tidak terkontrol," ungkap Abdirrohman, Koorlap Aliansi. 

Estimasi Massa yang hadir saat Seruan Aksi Tolak Omnibuslaw, yaitu :

1. Unila : 461 Massa 

2. Itera : 268 MASSA

3. UTB : 125 Massa. 

4. UBL : 153 Massa.

5. LMND DN : 50 masaa

6. Polinela : 500 massa

7. SMI      : 50 massa

8. Poltekes : 250 massa

9. KAMMI : 50 massa

10. UML : 100 massa

11. Umitra : 50 massa

12. Pemuda Berdikari Natar : 20 massa

13. STIT Pringsewu :20 masa

14. Universitas Saburai : 35 massa

15. UIN RIL: 300 Massa

16. SPL : 300 Massa

17. Universitas Malahayati : 125 massa

18. Universitas Muhammadiyah Metro : 200 Massa

19. Aliansi Darmakritika : 80 massa

20. HIMALS : 30 org

21. Darmajaya : 50 massa

Total estimasi keseluruhan adalah  3.004 massa aksi (jumalah ini belum termasuk massa aksi yang tidak mengkonfirmasi kehadiran).


Reporter : Bella, Dewa, Lisna

Massa di Luar Aliansi Tak Terkendali, Kericuhan Terjadi

Dokumentasi Natural. 


Seruan Aksi Tolak Omnibuslaw berujung ricuh. Rabu (07/10), di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung .

Abdirrohman selaku Koordinator Lapangan (Koorlap) menerangkan adanya massa di luar aliansi yang gabung tanpa konfirmasi sebelumnya. Sehingga Jendral Lapangan, Irfan Fauzi,  mengadakan konsol dadakan ditengah aksi tersebut.

"Ini menyebabkan massa aksi sulit terkontrol. Bahkan tidak mengikuti arahan dari Koorlap, " terangnya.

Abdirrohman menerangkan bahwa konsolidasi sudah dilakukan sebelum aksi hari Rabu.

"Jadi kalo untuk konsol, kalo tidak salah sudah diadakan tiga kali yang terakhir itu terakhir 5 Oktober di Unila. Awal setting konsolidasi sebenernya mau tanggal 8 Oktober karna dikabarkan akan diketok palu tanggal 7 atau 8 tapi ternyata konsol belum selesai. Maghrib ada kabar bahwa UU (Cipta Kerja) sudah disahkan, jadi hasil konsol sebelum Kamis (08/10) yang sudah dirancang dirombak total dengan konsepan aksi hari Rabu (07/10)," jelasnya.

"Pada Selasa (06/10) diadakan aksi media  persiapan teknik lapangan. Rabu (07/10) kita langsung ke lokasi," tambah mahasiswa FEB Unila ini.

"Sebenarnya yang menjadi kunci permasalahannya itu ketika di lapangan, tiba-tiba masa membludak massa di luar aliansi yg bergabung pada hari H (hari pelaksanaan) termasuk siswa STM, OKP-OKP yang tidakk terdaftar tiba-tiba hadir, sehingga jendral aliansi mengadakan konsol dadakan di  perundakan tangga yg ke-2," terang Abdirrohman. 

"Nah, di sana sempet jadi deadlock. Karna ada beberapa pihak yang ingin menyampaikan tuntutannya sampai pendudukan DPR (menginap di DPR) tapi ada beberapa yang membantah dengan rasionalisasi massa dan lain-lain. Akhirnya, jalan tengahnya merubah tuntutan, kita akan menyampaikan tuntutan ketika 85 Anggota DPRD hadir pada hari itu untuk mendengarkan tuntutan kita seperti itu, " tambahnya. 

Aksi lempar batu tetap dilakukan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Salah satu mahasiswa Unila terkena botol berisi pasir dan batu pada bagian perut.

Puncak kericuhan Aksi Tolak Omnibuslaw ini terjadi sekitar pukul 16.20 WIB. Pada awalanya dijanjikan Ketua DPRD akan menemui demonstran setelah salat ashar, tetapi menunggu hingga 2x5 menit tidak datang. Massa aksi tak terkendali melempar batu lebih dari sebelumnya. Sehingga polisi memutuskan menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi ini.

Beberapa massa aksi dan aparat kepolisian mengalami luka-luka akibat kericuhan tersebut. 


(Baca Inilah Koordinator Aksi Tolak Omnibuslaw dan Lembaga yang Masuk Aliansi)


Reporter : Bella, Dewa, Lisna 

Pasca Kericuhan, BEM Unila Keluar dari Aliansi Lampung Memanggil

Dokumentasi Natural.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Lampung (Unila) memutuskan keluar dari Aliansi Lampung Memanggil. Berita ini dibenarkan pada konsolidasi KBM Unila di room google meeting,  Senin (12/10).

Raka selaku Menteri Pergerakan BEM Unila menjelasakan bahwa keputusan ini berdasarkan perintah Presiden mahasiswa (Presma) BEM Unila dengan alasan massa aksi Aliansi Lampung Memanggil tidak terkontrol. Hal ini menyebabkan kericuhan yang tidak terkendali. 

Bedasarkan pantauan Reporter Natural, Aksi Lampung Memanggil yang diadakan pada Jumat (09/10) di Underpass Unila, beberapa kampus tidak mengikuti aksi tersebut termasuk Unila. 

Beredar seruan KBM Unila tidak aksi pada grup whatsapp dan media sosial lainnya yang berbunyi :

Pesan melaui grup whatsapp.

Abdirrohman, Koordinator Lapangan Aksi sebelumnya (07/10) menjelaskan bahwa KBM Unila akan fokus terlebih dahulu pada advokasi mahasiswa yang menjadi korban tindakan represif aparat keamanan. 


(Baca Beberapa Kampus yang Keluar dari Aliansi Lampung Memanggil)


Reporter : Bella, Dewa, Lisna

Jumat, 09 Oktober 2020

Keren!! Mahasiswa Biologi FMIPA Menggagas Pembasmi Nyamuk Alami



Tiga Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) lolos seleksi Kemedikbud. Diantaranya Rizka Dwi Damayanti (Biologi 2018), Ahmad Ikhsanudin (Biologi 2016), dan Berliana Damayanti (Biologi 2017). Mereka menggagas ide mengenai  insektisida hayati pembasmi nyamuk Culex penyebab kaki gajah.

Nyamuk Culex dikenal luas sebagai vektor pembawa cacing Brugia malayi, Wuchereria brancofi dan Brugia timori penyebab demam kaki gajah. Data WHO 2018, menyatakan sebanyak 876 juta penduduk dunia berisiko terkena penyakit kaki gajah. Sebanyak 60% kasus penyakit kaki gajah terdapat di Asia Tenggara. Menurut data kementrian kesehatan RI tahun 2017, penyakit kaki gajah masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia karena hampir ditemukan di seluruh wilayah Indonesia termasuk provinsi Lampung. Terdapat lima provinsi di Indonesia yang memiliki kasus kronis, yaitu Papua, NTT, Papua Barat, Jawa Barat, Aceh. Penyakit ini menular dengan gigitan nyamuk Culex yang mengandung cacing filarial. Di dalam tubuh manusia cacing tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa dan menetap pada jaringan limfe, sehingga menyebabkan kelumpuhan, kerusakan sistem limfatik, kerusakan ginjal, pembengkakan dan penebalan jaringan kulit pada kaki, tungkai, payudara, lengan, dan organ genital, bahkan menyebabkan kematian.

“Karena maraknya penggunaan insektisida sintetik yang memiliki banyak kekurangan diantaranya, menimbulkan resistensi pada serangga, dapat membunuh serangga non target sehingga merusak ekosistem serta residunya dapat berbahaya bagi pernafasan, maka tim kami memutuskan untuk membasmi nyamuk menggunakan insektisida alami yang lebih ramah lingkungan, salah satunya menggunakan Cendawan Aspergillus,” jelas Rizka selaku ketua penelitian.

Ihsan, selaku anggota penelitian menjelaskan bahwa terdapat kandungan senyawa kitin, protein, dan lipid pada penyusun tubuh nyamuk Culex. Senyawa-senyawa tersebut dapat di degradasi oleh enzim kitinase, protease, dan lipase yang dihasilkan oleh Cendawan Aspergillus, sehingga eksoskeleton nyamuk dapat dirusak dengan menggunakan Cendawan Aspergillus yang disemprotkan sporanya ke tubuh nyamuk.

“Selain menghasilkan enzim-enzim pendegradasi eksoskeleton nyamuk,  Cendawan Aspergillus juga mampu menghasilkan toksin seperti Aflatoksin dan asam hexadenakoat yang dapat membunuh nyamuk dari dalam. Cara kerja dari bioinsektisida ini yaitu dengan menyemprotkan spora Cendawan Aspergillus dengan kerapatan 108 ke tubuh nyamuk, setelah beberapa hari nyamuk akan mati terinfeksi oleh jamur, tambah Berliana selaku anggota penelitian ini.

“Penggunaan insektisida berbahan dasar alami ini selain dapat mengurangi penggunaan bahan kimia di lingkungan, juga tidak berdampak buruk bagi organisme lainnya. Karena residu yang dihasilkan mudah terurai di alam dan kemungkinan resistensinya sangatlah kecil, sehingga ekosistem tetap terjaga. Penggunaan senyawa hayati juga tidak membahayakan kesehatan manusia karena hanya bersifat racun bagi organisme tertentu," jelas Ikhsan.

Gagasan dengan judul "Efektivitas Cendawan Entomopatogen Aspergillus sp. sebagai Bioinsektisida Nyamuk Culex" ini berhasil lolos seleksi pendanaan Kemendikbud 2019-2020 dan berhak menuju tahap berikutnya. Hasil gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat dalam membasmi nyamuk terutama nyamuk Culex penyebab kaki gajah tanpa harus menggunakan senyawa kimia yang berbahaya.(rilis)

Editor: Aniisah

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...