Keren!! Mahasiswa Biologi FMIPA Menggagas Pembasmi Nyamuk Alami

Tiga Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) lolos seleksi Kemedikbud. Diantaranya Rizka...



Tiga Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) lolos seleksi Kemedikbud. Diantaranya Rizka Dwi Damayanti (Biologi 2018), Ahmad Ikhsanudin (Biologi 2016), dan Berliana Damayanti (Biologi 2017). Mereka menggagas ide mengenai  insektisida hayati pembasmi nyamuk Culex penyebab kaki gajah.

Nyamuk Culex dikenal luas sebagai vektor pembawa cacing Brugia malayi, Wuchereria brancofi dan Brugia timori penyebab demam kaki gajah. Data WHO 2018, menyatakan sebanyak 876 juta penduduk dunia berisiko terkena penyakit kaki gajah. Sebanyak 60% kasus penyakit kaki gajah terdapat di Asia Tenggara. Menurut data kementrian kesehatan RI tahun 2017, penyakit kaki gajah masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia karena hampir ditemukan di seluruh wilayah Indonesia termasuk provinsi Lampung. Terdapat lima provinsi di Indonesia yang memiliki kasus kronis, yaitu Papua, NTT, Papua Barat, Jawa Barat, Aceh. Penyakit ini menular dengan gigitan nyamuk Culex yang mengandung cacing filarial. Di dalam tubuh manusia cacing tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi cacing dewasa dan menetap pada jaringan limfe, sehingga menyebabkan kelumpuhan, kerusakan sistem limfatik, kerusakan ginjal, pembengkakan dan penebalan jaringan kulit pada kaki, tungkai, payudara, lengan, dan organ genital, bahkan menyebabkan kematian.

“Karena maraknya penggunaan insektisida sintetik yang memiliki banyak kekurangan diantaranya, menimbulkan resistensi pada serangga, dapat membunuh serangga non target sehingga merusak ekosistem serta residunya dapat berbahaya bagi pernafasan, maka tim kami memutuskan untuk membasmi nyamuk menggunakan insektisida alami yang lebih ramah lingkungan, salah satunya menggunakan Cendawan Aspergillus,” jelas Rizka selaku ketua penelitian.

Ihsan, selaku anggota penelitian menjelaskan bahwa terdapat kandungan senyawa kitin, protein, dan lipid pada penyusun tubuh nyamuk Culex. Senyawa-senyawa tersebut dapat di degradasi oleh enzim kitinase, protease, dan lipase yang dihasilkan oleh Cendawan Aspergillus, sehingga eksoskeleton nyamuk dapat dirusak dengan menggunakan Cendawan Aspergillus yang disemprotkan sporanya ke tubuh nyamuk.

“Selain menghasilkan enzim-enzim pendegradasi eksoskeleton nyamuk,  Cendawan Aspergillus juga mampu menghasilkan toksin seperti Aflatoksin dan asam hexadenakoat yang dapat membunuh nyamuk dari dalam. Cara kerja dari bioinsektisida ini yaitu dengan menyemprotkan spora Cendawan Aspergillus dengan kerapatan 108 ke tubuh nyamuk, setelah beberapa hari nyamuk akan mati terinfeksi oleh jamur, tambah Berliana selaku anggota penelitian ini.

“Penggunaan insektisida berbahan dasar alami ini selain dapat mengurangi penggunaan bahan kimia di lingkungan, juga tidak berdampak buruk bagi organisme lainnya. Karena residu yang dihasilkan mudah terurai di alam dan kemungkinan resistensinya sangatlah kecil, sehingga ekosistem tetap terjaga. Penggunaan senyawa hayati juga tidak membahayakan kesehatan manusia karena hanya bersifat racun bagi organisme tertentu," jelas Ikhsan.

Gagasan dengan judul "Efektivitas Cendawan Entomopatogen Aspergillus sp. sebagai Bioinsektisida Nyamuk Culex" ini berhasil lolos seleksi pendanaan Kemendikbud 2019-2020 dan berhak menuju tahap berikutnya. Hasil gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat dalam membasmi nyamuk terutama nyamuk Culex penyebab kaki gajah tanpa harus menggunakan senyawa kimia yang berbahaya.(rilis)

Editor: Aniisah

Related

Sains 4746997578260355256

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item