Kronologi "Chaos" Aksi Tolak Omnibuslaw

  Dokumentasi Natural Seruan Aksi Tolak Omnibuslaw berujung ricuh. Rabu (07/10), di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung. Abdirrohman selaku K...

 

Dokumentasi Natural

Seruan Aksi Tolak Omnibuslaw berujung ricuh. Rabu (07/10), di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung.

Abdirrohman selaku Koordinator Lapangan (Koorlap) menerangkan adanya massa di luar aliansi yang gabung tanpa konfirmasi sebelumnya. Sehingga Jendral Lapangan, Irfan Fauzi Rahman,  mengadakan konsol dadakan ditengah aksi tersebut.

"Ini menyebabkan massa aksi sulit terkontrol. Bahkan tidak mengikuti arahan dari koorlap, " terangnya. 

Pada pantauan Reporter Natural, sekitar pukul 10.30 WIB sebagian massa yang diduga siswa STM dan non mahasiswa (tidak menggunakan almamater kampus) masuk lewat pintu yang berbeda dari yang ditentukan. Bahkan melewati pagar kawasan pemerintahan tersebut. 

Massa tidak terkendali, botol bekas hingga batu dilemparkan ke arah aparat keamanan dan kawasan pemerintah. Tidak ada korban jiwa namun beberapa aparat, wartawan, terkena lemparan bagian kaki. Akhirnya polisi menembakan water cannon ke arah massa aksi yang tidak mengikuti rombongan mobil aksi tersebut. 

Kondisi lain, Jendral Lapangan dan para Ketua Lembaga yang tergabung dalam massa aksi melakukan lobi untuk masuk ke depan Gedung DPRD, sebab massa aksi masih di luar gerbang tersebut. 

Setelah beberapa kali lobi dilakuakan,  massa aksi diperbolehkan masuk tepatnya di depan kantor DPRD. 

Aksi berlanjut, menuntut 85 anggota DPRD harus datang di depan massa aksi. Namun, setelah Para Ketua Lembaga diskusi di dalam gedung, Jendral Lapangan, Irfan Fauzi Rahman yang juga sebagai Presiden Mahasiswa BEM U KBM Unila mengatakan bahwa hanya ada beberapa anggota di dalam gedung.

Sekitar pukul 15.35 WIB, massa aksi (yang tidak terdaftar ataupun konfirmasi keikutsertaan aksi) membakar ban dan menyalakan petasan. Beberapa kali juga terjadi lempara botol bekas dan batu ke arah Gedung DPRD.

Sekretaris Komisi II DPRD datang menuju mobil aksi untuk menemui massa aksi. Namun,  mereka menolak sebab yang di harapkan adalah Ketua DPRD Provinsi Lampung.

Aksi lempar batu tetap dilakukan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, salah satu mahasiswa Unila terkena botol berisi pasir dan batu pada bagian perut. 

Puncak kericuhan Aksi Tolak Omnibuslaw ini terjadi sekitar pukul 16.20 WIB. Pada awalnya Ketua DPRD menjanjikan akan menemui demonstran setelah salat ashar, tetapi menunggu hingga 2x5 menit beliau tidak datang. Massa aksi menjadi tak terkendali dan melempar batu lebih dari sebelumnya. Sehingga polisi memutuskan menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi ini.


(Baca Massa di Luar Aliansi Tak Terkendali, Kericuhan Terjadi)


Reporter : Bella, Dewa, Lisna

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item