Massa di Luar Aliansi Tak Terkendali, Kericuhan Terjadi

Dokumentasi Natural.  Seruan Aksi Tolak Omnibuslaw berujung ricuh. Rabu (07/10), di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung . Abdirrohman selaku ...

Dokumentasi Natural. 


Seruan Aksi Tolak Omnibuslaw berujung ricuh. Rabu (07/10), di depan Gedung DPRD Provinsi Lampung .

Abdirrohman selaku Koordinator Lapangan (Koorlap) menerangkan adanya massa di luar aliansi yang gabung tanpa konfirmasi sebelumnya. Sehingga Jendral Lapangan, Irfan Fauzi,  mengadakan konsol dadakan ditengah aksi tersebut.

"Ini menyebabkan massa aksi sulit terkontrol. Bahkan tidak mengikuti arahan dari Koorlap, " terangnya.

Abdirrohman menerangkan bahwa konsolidasi sudah dilakukan sebelum aksi hari Rabu.

"Jadi kalo untuk konsol, kalo tidak salah sudah diadakan tiga kali yang terakhir itu terakhir 5 Oktober di Unila. Awal setting konsolidasi sebenernya mau tanggal 8 Oktober karna dikabarkan akan diketok palu tanggal 7 atau 8 tapi ternyata konsol belum selesai. Maghrib ada kabar bahwa UU (Cipta Kerja) sudah disahkan, jadi hasil konsol sebelum Kamis (08/10) yang sudah dirancang dirombak total dengan konsepan aksi hari Rabu (07/10)," jelasnya.

"Pada Selasa (06/10) diadakan aksi media  persiapan teknik lapangan. Rabu (07/10) kita langsung ke lokasi," tambah mahasiswa FEB Unila ini.

"Sebenarnya yang menjadi kunci permasalahannya itu ketika di lapangan, tiba-tiba masa membludak massa di luar aliansi yg bergabung pada hari H (hari pelaksanaan) termasuk siswa STM, OKP-OKP yang tidakk terdaftar tiba-tiba hadir, sehingga jendral aliansi mengadakan konsol dadakan di  perundakan tangga yg ke-2," terang Abdirrohman. 

"Nah, di sana sempet jadi deadlock. Karna ada beberapa pihak yang ingin menyampaikan tuntutannya sampai pendudukan DPR (menginap di DPR) tapi ada beberapa yang membantah dengan rasionalisasi massa dan lain-lain. Akhirnya, jalan tengahnya merubah tuntutan, kita akan menyampaikan tuntutan ketika 85 Anggota DPRD hadir pada hari itu untuk mendengarkan tuntutan kita seperti itu, " tambahnya. 

Aksi lempar batu tetap dilakukan kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. Salah satu mahasiswa Unila terkena botol berisi pasir dan batu pada bagian perut.

Puncak kericuhan Aksi Tolak Omnibuslaw ini terjadi sekitar pukul 16.20 WIB. Pada awalanya dijanjikan Ketua DPRD akan menemui demonstran setelah salat ashar, tetapi menunggu hingga 2x5 menit tidak datang. Massa aksi tak terkendali melempar batu lebih dari sebelumnya. Sehingga polisi memutuskan menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi ini.

Beberapa massa aksi dan aparat kepolisian mengalami luka-luka akibat kericuhan tersebut. 


(Baca Inilah Koordinator Aksi Tolak Omnibuslaw dan Lembaga yang Masuk Aliansi)


Reporter : Bella, Dewa, Lisna 

Posting Komentar

emo-but-icon

Ikuti Kami

Berita Hangat

item