Jumat, 30 Juli 2021

Peduli terhadap Pendidikan Indonesia, DINAMIKA XXII Gelar Berbagai Lomba

Pembukaan Dies Natalis DINAMIKA XXII

Pembukaan Dies Natalis Jurusan Matematika ke-22 (DINAMIKA XXII) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) periode 2021. Sabtu (31/7), melalui Zoom Meeting.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Dekan FMIPA Unila, Suripto Dwi Yuwono. Pembukaan yang mengangkat tema “Ciptakan Matematikawan Cerdas dengan Karakter Berkualitas untuk Potensi Tanpa Batas” ini, dihadiri oleh Dekan, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Ketua IKAMATIKA, Ketua Jurusan (Kajur) Matematika, Ketua Umum (Ketum) HIMATIKA, dan perwakilan Lembaga Kemahasiswaan FMIPA Unila.

DINAMIKA XXII adalah Dies Natalis jurusan matematika yang dilakukan secara kontinu setiap tahunnya. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan DINAMIKA tahun ini dilaksanakan secara daring. Dalam sambutannya, Muhammad Ikhsan selaku Ketum HIMATIKA menyampaikan walaupun dalam pandemi Covid-19 ini HIMATIKA tetap berkomitmen dan tetap berusaha mewujudkan pendidikan di Indonesia terutama bidang matematika dengan lomba-lomba pada serangkaian kegiatan. 

Doc. Natural

“Dikuatkan dengan adanya lomba-lomba yang ada, seperti Essai, Poster, Olimpiade Matematika, dan Mathematica English Club. Dikala pandemi ini, jangan sampai menghilangkan esensi dari Dies Natalis tersebut. Esensi peduli HIMATIKA dan Jurusan Matematika terhadap pendidikan di Indonesia terutama di bidang Matematika. Jadi, teman-teman semua ikuti kegiatan ini semaksimal mungkin, keluarkan kemampuan kalian semaksimal mungkin dan tunjukan bahwa kalian bisa mewujudkan prestasi di bidang matematika ini,” jelasnya.

DINAMIKA ini diikuti oleh 308 peserta yang terdiri dari siswa Sekolah Dasar, Menengah Pertama, dan Menengah Atas untuk semua cabang lomba yang dilakukan. 

“Diharapkan semakin bertambahnya usia jurusan matematika ini, perkembangan bisa lebih baik lagi ke depannya. Lulusan-lulusan yang diturunkan jurusan matematika mudah-mudahan bisa memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat, baik di pemerintahan, industri, atau di lembaga-lembaga lainnya, dan juga di masyarakat lingkungan. Diharapkan pula, peserta bisa menjadi matematikawan yang cerdas, berhasil, dan dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Aang Nuryaman selaku Kajur Matematika. 

“Dalam kondisi seperti ini, yang dilakukan semua terbatas bukan berarti menyerah dengan keadaan. Kita sudah berupaya melakukan yang terbaik. Namun, tentunya sebagai manusia kekurangan itu hal yang biasa untuk tetap melakukan berbagai kegiatan. Kami mohon kepada peserta bahwa kejujuran adalah hal yang mutlak dan harus dijunjung tinggi,” tutup Suripto Dwi Yuwono. (Aniisah, Sofa)


Kamis, 22 Juli 2021

FMIPA Unila Adakan FMIPA Berqurban

Suasana kegiatan FMIPA Berqurban

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) adakan kegiatan FMIPA Berqurban. Kamis (22/11), di lahan sebelah Gedung Pascasarjana FMIPA Unila 

Kegiatan FMIPA berqurban ini bertujuan untuk menghidupkan amalan utama di hari raya dan untuk mengkoordinir bagi yang ingin berqurban agar lebih mudah. Di sisi lain kegiatan ini juga sebagai sarana belajar bagi mahasiswa yang ingin belajar bagaimana menyembelih hewan qurban, mengolahnya, dan mendistribusikannya. 

Kegiatan ini membuka donasi yang telah digalangkan oleh warga FMIPA Unila. Donasi yang diberikan dapat berupa uang tunai senilai Rp 3.500.000,- yang dipergunakan untuk sapi maupun sedekah qurban seiklasnya. Kegiatan tahunan FMIPA Unila ini mendapatkan 2 ekor sapi yang akan diqurbankan. 

Doc. Natural

Proses pemotongan dilakukan oleh 47 panitia yang merupakan gabungan antara 8 orang mahasiswa dan 39 lainnya merupakan staff Dekanat FMIPA Unila.

Daging Qurban ini akan didistribusikan kepada 4 golongan yaitu Mahasiswa, Sivitas Akedemika FMIPA Unila, Panti Asuhan, dan Masyarakat sekitar. Berat kantung qurban yang didistribusikan terbagi menjadi 3 bagian, kantung dengan berat 1,5 kg , lalu yg kedua kantung seberat 0.8 kg, dan kantung seberat 2 kg diperuntukan bagi yang berqurban.

Muhammad Ridwan selaku salah satu panitia dari FMIPA berqurban berharap acara ini dapat diteruskan kedepannya dan dapat menjangkau khalayak yang lebih luas lagi. (Amanda)

Aku Berada di Dalam Kandang Lalat


Aku berada di dalam kandang lalat. Kandang yang lembap, pengaptanpa lubang ventilasi yang penuh dengan makanan dan buah busuk. Belatung-belatung merambat di lantai keramik, di gorden jendela, di kakiku, berkerumun mengelilingi tumpukan pisang yang membusuk di atas meja. Lalat-lalat hijau bertelur di kulit mayat yang terduduk di kaki-kaki ranjang. Dan lalat rumah kehitaman menjilati keringatku yang sudah beberapa hari belum mandi.


Entah bagaimana caranya lalat-lalat itu masuk, tapi aku yakin mereka tidak akan bisa kembali keluar. 


Aku menggeliat, mencoba mengusir lalat-lalat hitam yang mulai mencoba memasuki hidungku. Namun, tubuhku sudah terlalu lemas untuk bergerak. Tali yang mengikatku terlalu kencang. Lenganku kebas. Kakiku mati rasa. Celanaku basah—pesing karena hajat kecil yang gagal kutahan.


Aroma busuk bangkai manusia menggelitik hidungku. Kepalaku pusing, perutku mual, tapi yang bisa aku muntahkan hanya cairan asam.Aku telan kembali cairan yang mulai mengumpul di pangkal kerongkongan.

 

***

Gundukan bernoda danur di atas ranjang itu, siapa namanya? Gadis itu.

 

Dia sudah mati kan?


Ya. Gadis itu sudah mati. Tubuh rampingnya kini mulai membengkak, terurai, lalat-lalat hijau bertelur di atas selimutnya. Namun, kenapa laki-laki bodoh itu menyuapinya? Kenapa laki-laki bodoh itu memberinya minum? Kenapa ia mengikatku di kandang ini untuk menemaninya? Untuk apa aku di sini? Apa gundukan berselimut di kaki-kaki ranjang itu belum cukup?


Bodoh.


Benar-benar bodoh, laki-laki itu.


Dan gundukan-gundukan lain di kaki-kaki ranjang, tubuh milik siapa? Si pengantar surat? Kawan sekelas? Kawanku? Kawan siapa? Kulit-kulit yang menempel kehilangan bentuk, melebur menjadi satu.


Belatung besar berdenyut, membuat kesan seolah gundukan-gundukan itu hidup. Saling tumpang tindih, berbagi tudung selimut.


Mereka sudah mati, kan?


Ya. Mereka sudah mati. Sudah lama gundukan-gundukan itu tidak bergerak. Yang bernapas, berpikir, dan masih mencoba bertahan hidup hanya aku serta lalat-lalat itu. Laki-laki bodoh itu sudah mati akal.


Ironis. Kandang yang penuh kehidupan, tapi orang-orang mati di dalamnya. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk membusuk dalam kandang ini.

 

***

Laki-laki itu mencium kening gadis yang tertidur di ranjang. Cairan kental berbau aneh merembes keluar saat ia mengelus wajah gadis itu. Tidak ada balasan, tentu saja. Gadis itu mati. Nasi yang disendokkan paksa ke mulut gadis itu mulai membusuk berbalut jamur. Pisang-pisang di meja berubah menjadi lendir asam. Air yang jarang diganti mulai berjentik nyamuk.

Bicara dengan diri sendiri, eh? Mencoba meyakinkan diri sendiri?


Menyedihkan.


Aku tertawa getir, walau suaraku tak mau keluar. Napasku yang tinggal satu-satu sesak terisi uap mayat. Tidak pernah terbayang sedikitpun dibenakku semua ini bisa terjadi. Laki-laki itu. Tidak pernah terbayang olehku kebodohannya setragis  ini.


Ia bahkan tidak berbicara kepadaku. Aku yang hidup ini. Aku yang masih sedikit bersuara. Aku yang belum mati. Apa dia akan membiarkanku mati tanpa pesan terakhir?


Padahal masih ingin meninggalkan kesan, aku yang sepi ini.


Hidungku gatal, lupa caranya membau dan mulai mati rasa.


Benar-benar tidak tertolong.

 

***

Wajah terakhir yang kuingat mulai buram, menyisakan kepingan-kepingan acak ingatan yang tidak berarti. Kacamata di atas meja. Tiga wadah bekal kosong. Kerumunan lalat. Kadang aku masih bisa mendengar suara-suaranya, suara dunia luar. Bel listrik yang berdering di akhir jam makan siang.


Kadang aku teringat langkah pertamaku memasuki rumah ini. Aroma busuk yang kini familiar. Pohon murbei di halaman depan. Entah apa tujuan kedatanganku, aku tidak ingat lagi.


Aku mengenal laki-laki bodoh itu. Pipa logam yang bergesekan dengan lantai keramik. Canggungnya, tawa lirihnya saat aku mencoba membuat lelucon bodoh dari kebodohannya. Wajah kosongnya saat kehilangan adik kecilnya. Tubuh busuk gadis mati yang terduduk di atas ranjang saat aku datang. Pipa besi memukul belakang kepala.


Dan gadis itu.Senyumnya yang ramah. Siapa namanya? Aku tak lagi ingat.


Aku tak lagi ingat namaku.


Aku tak lagi ingat namanya, laki-laki bodoh itu.

 

***

Sinar matahari menembus lapis plastik bening penutup ventilasi menerpa wajahku, sudut datang yang mulai tumpul membuatku sulit untuk menghalaunya. Udara di sekelilingku terasa jenuh, berbau menyengat khas angin Neraka. Uap dari mayat-mayat mengambang, mewarnai kandang ini dengan semu kecoklatan.


Tubuhku lelah. Sudah selama apa aku di sini?


Entahlah. Aku sendiri lupa kapan aku datang. Yang pasti lebih lama dari kemarin. Padahal hari kemarin rasanya sudah lama sekali. Mungkin hari kemarin dari kemarin, atau kemarin dari kemarinnya lagi. Aku tidak tahu.


Kandang lembab ini mulai runtuh, tembok-tembok dan gorden putih di jendela telah berganti warna. Cairan keruh menggenangi lantai. Bercampur belatung hanyut, air seni, dan nasi-nasi basi yang berjatuhan dari piring.


Lalat-lalat berhenti mendenggung, melipat sayapnya di mangkuk buah, kulit basah, dan selimut mayat-mayat. Setiap senti kulitku mati rasa. Dingin. Kaki-kaki lalat yang menggaruki wajahku tak lagi terasa.


Hening.


Lambaian pohon murbei, kicauan burung gereja. Hembusan angin sore dan matahari temaram. Sekolah kecil di bawah kaki bukit, sungai deras dengan bendungan kecilnya, bayang-bayang tambang batu di belakang sekolah. Indah sekali.


Meskipun tertutup plastik dan hembusan anginnya tak sampai, pemandangan yang kulihat dari ventilasi menjaga harapanku. Ah, ya. Angin. Aroma udara segar. Nostalgia rasa lama. Napas siapa yang meniupnya?

 

Ketukan pintu. Gerendel kunci. Ponsel mati yang kuharap kembali berbunyi. Teriakan kawan sebangku. Dengung pengeras suara. Gelombang panjang rambut si ketua kelas. Gadis-gadis histeris. Langkah-langkah panjang.


Dan bunyi tapak kaki siapapun itu.


Aku mohon.


Tolong aku.



Oleh: Salsabilla Awaliyah Ramdhana



Kamis, 15 Juli 2021

Dies Natalis LPM Warta Jitu : Aktif, Kontributif, dan Kritis

Dies Natalis LPM Warta Jitu 2021

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta Jitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan pembukaan acara Dies Natalis ke-6 LPM Warta Jitu. Jumat (16/07), via Zoom Meeting.

Pembukaan Dies Natalis LPM Warta Jitu yang mengusung tema "Together To Be AKTRIS; Aktif, Kontributif, dan Kritis" dihadiri oleh Wakil Dekan 3 FKIP ULM, pembina LPM Warta Jitu, perwakilan UKM FKIP ULM, serta perwakilan dari LPM lainnya. 

Acara diawali dengan mendengarkan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dwi Atmono selaku Wakil Dekan 3 FKIP ULM dan pemotongan tumpeng oleh Muhammad Khairul Rizal selaku Pimpinan Umum LPM Warta Jitu.

Doc. Natural

"LPM Warta Jitu mengangkat tema "Together To Be AKTRIS" karena memiliki arti seluruh anggota harus kompak untuk membangun pers yang aktif dengan selalu berpikir kritis dalam situasi apapun dan selalu berkontribusi untuk mencapai tujuan yang sama," ungkap Muhammad Rifani, Ketua Pelaksana Dies Natalis LPM Warta Jitu ULM.

"Harapannya, para hadirin kedepannya dapat memperjuangkan kredibilitas organisasi dan meningkatkan kualitas persaudaraan dengan saling menjaga," lanjut Rifani.

Selain itu, Dwi Atmono mengapresiasi sikap LPM Warta Jitu yang dapat memandang pandemi dari sisi positif, yaitu sebagai tantangan. Ia pun berharap, setelah lulus nantinya alumni LPM Warta Jitu bisa menjadi tenaga pendidik yang mengajarkan pers di sekolah-sekolah. 

Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai pembukaan Dies Natalis secara simbolis dan diakhiri dengan doa dan penutup. (Sugar)


Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...