Minggu, 20 Maret 2022

T.E.M.A.N

Doc. Faizialiphotography

    Pernahkah kalian melihat hal-hal yang tidak terduga sebelumnya?

 

    Pernahkah kalian mendengar sesuatu menyeramkan yang terus merundungmu setiap detik? 

 

    Jika iya, maka kalian pasti sudah tidak terkejut lagi dengan hal-hal berbau mistis yang masih abu-abu di dunia ini. Persepsi masyarakat yang pro-kontra tentang dunia ghaib antara percaya dan tidak percaya. Antara ada dan tiada. Semuanya belum ada kejelasan.

 

    Namaku Larasati Ditya Ningrum. Umurku genap 16 tahun. Aku adalah anak tunggal dari keluarga sederhana yang akan pindah rumah ke salah satu perumahan di daerah Jakarta Utara.  

 

    “Kapan sampainya, Pa? Udah mau jam dua malam lho ini,” tanya Mama khawatir.

 

    “Bentar lagi, Ma.” Papa menjawab pelan.

 

    Aku menghela napas pelan. Bosan hanya duduk sembari melihat lalu-lalang kendaraan.

 

    Hampir sepuluh jam lamanya kami mengendarai mobil dari Lampung menuju Jakarta. Perjalanan yang sangat melelahkan, bokong terasa panas karena duduk terus-menerus.

 

    Perlahan mataku mulai merasakan kantuk yang tak tertahankan. Baru saja memejamkan mata, bulu kudukku merinding seketika. Sontak saja aku terbangun.

 

    Aura jembatan lurus ini terasa berbeda. Tepat di kanan kirinya terdapat air danau Sunter. Pos polisi yang baru saja kami lewati pun terasa menyeramkan.

 

    Orang tuaku tidak percaya dengan hal-hal mistis. Dulu, seringkali aku memberitahu sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh Papa dan Mama, tetapi mereka hanya menganggap angin lalu saja. Maka dari itu, aku hanya diam saat melihat sesuatu yang dianggap abu-abu oleh manusia lainnya. 

 

    Kali ini berbeda. Firasatku tidak enak.  

 

    Saat mobil kami melintasi jembatan itu, tiba-tiba lampu sorot mobil agak meredup. Aku merasa jembatan seperti bergoyang, padahal jembatan beton ini terlihat kokoh. Apakah ada gempa? 

 

    Suasana bertambah mencekam. Aku mengatur napas sembari meremas tangan.

 

    Dari kejauhan kumelihat sosok perempuan dengan kebaya hitam yang sedang berdiri di samping sisi kanan jembatan dengan menunduk. Aku teringat sesuatu. Perempuan berkebaya hitam. Jembatan. Kantor polisi kosong. Dan hari ini tepat Jumat kliwon. Ah ….

 

    "Pa, ini Jembatan Ancol, ya?” tanyaku sedikit meninggikan suara.

 

    "Iya, Ras. Kenapa memangnya?"

 

    Aku meremas tangan. “Pa, bunyikan klakson tiga kali kalau lewat sini. Buruan, Pa!”

 

    "Lho? Mau ngapain bunyikan klakson, tidak ada kendaraan di depan mobil Papa, kok.”

 

    "Pa … bunyikan saja, tolong,” tuturku dengan wajah panik.

 

    Mama menoleh ke arahku. “Kamu mending tidur, Ras. Kamu kelelahan sepertinya, Nak.

 

    Aku menggeleng keras. Ini tidak baik, perempuan berkebaya hitam itu menatap ke arah mobil kami. Keringat berlomba mengucur di dahiku.

 

    "Di sana ada si Manis Pa, Ma! Kalau mau selamat tolong bunyikan klaksonnya tiga kali,” pekikku dengan suara bergetar.

 

    Papa gelagapan karena mendengar pekikanku. Beliau tidak sengaja menginjak pedal gas sehingga mobil melaju cepat dan tidak terkendali. 

 

    "Papa!” Mama menepuk bahu Papa. 

 

    "Bunyikan klaksonnya, Pa!” jeritku.

 

    Posisi kami semakin dekat dengan sosok perempuan itu. Kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Tiba-tiba dia menolehkan kepalanya ke arahku. Wajah pucat itu … tersenyum. Seperti tersihir, aku menatapnya intens. 

 

    Aku tidak tahu apa yang terjadi. Seluruh atensiku hanya tertuju kepada perempuan itu. Peluh sudah membanjiri tubuhku. Bahkan kaki dan tanganku pun gemetar. Papa … Mama ….

 

    Brak!

 

    Aku memejamkan mata saat benturan keras mengenai kepala. Samar-samar aku mendengar teriakan Mama dan rintihan Papa. Semuanya pun gelap. 

 

                                                                                    -o-o-

 

    Bangunlah, Larasati ….

 

    Sayup-sayup kudengar suara lembut mendayu. Aku meringis merasakan pening yang teramat sakit dan perlahan membuka mata. 

 

    "Aku di mana?” tanyaku pelan sambil duduk

 

    Dahiku mengerut melihat sekelilingku hanya ada kegelapan, tetapi ada cahaya remang tepat menyorotku. Betapa terkejutnya saat menyadari di sampingku kini ada seorang perempuan berkebaya hitam berbintik biru sedang memandangku datar. Rambut panjangnya tergerai agak kusut. Kulitnya sawo matang dan wajahnya tampak begitu pucat. Aku melirik sekujur tubuhnya ada darah yang membanjiri perut dan kakinya.

 

        Dia si Manis.

 

    Aku menutup mulut—menahan rasa mual. Kuingin menjerit, tetapi suaraku tidak kunjung keluar. Aku takut. 

 

    Perempuan itu berjalan pelan melewatiku. Aku hanya mengerutkan dahi. Dia mau ke mana?

 

    Ikutlah ….

 

    Suara lembut itu lagi. 

 

   Perempuan itu menganggukkan kepala, menyuruhku untuk mengikutinya. Aku ragu. Dia akan membawaku ke mana?

 

    Kanan kiri kami hanya ada kegelapan, tetapi anehnya aku dapat melihat sosok itu. Jarak kami hanya sekitar tiga langkah. Dari kejauhan aku dapat melihat ada sebuah lubang yang bercahaya. 

 

    Sesampainya kami di ambang lubang, perempuan itu membalikkan badan. 

 

    "Aaaaa!”

 

    Wajah perempuan itu berubah menyeramkan. Kedua bola matanya hilang, cairan hitam yang mengalir dari lubang mata dan mulutnya yang menganga.

 

    Refleks aku berlari dan memasuki lubang bercahaya itu. Mataku terbuka, betapa terkejutnya aku saat melihat sebuah rumah megah dengan papan alamat bertuliskan Batavia. Di sana terdapat dua orang berbeda jenis sedang berseteru hebat.

 

    "Aye enggak mau jadi selir, Tuan. Mpok aye aje belum menikah!”

 

    "Tapi, Abang cinte lu, Ariah.”

 

    "Aye tetep enggak mau, Bang!”

 

    Perempuan berambut panjang itu berlari keluar rumah bersimbah air mata. Dia berlari dengan sekuat tenaga agar sang Tuan Rumah tidak mengejarnya.  

 

    Aku termangu adegan itu. Apakah perempuan itu si Manis?

 

    Perempuan itu memakai kebaya hita berbintik biru persis si Manis dengan rambut disanggul. Tidak salah lagi, itu benar dia.

 

    Aku pun mengikuti perempuan itu hingga persimpangan jalan. Di sana Ariah bertemu seorang pria bertubuh tambun dengan dua kacungnya. Pria itu tampak terpesona dengan kecantikkan yang terpancar olehnya.

 

    "Pi’un, Surya! Tangkap perempuan itu!”

 

    "Baik, Juragan Oey!”

 

    Kami pun sampai di tempat Bendungan Dempet dekat danau Sunter. Anehnya setelah berlari mengikuti Ariah, aku tidak merasa kelelahan. Aku terbelalak saat melihat kedua kacung itu berhasil menangkap Ariah. Namun, perempuan itu mencoba memberi perlawanan.

 

    "Ikut abang aje, Neng. Ayo!”

 

    "Lepasin aye!”

 

    "Nurut aja kenape sih, Neng? Dijamin hidup lu bakal enak nanti.”

 

    "Lepasin aye! Aye enggak mau!”

 

    Rambut Ariah ditarik dan pipinya dipukul keras hingga mengeluarkan darah. 

 

    Refleks, aku mencoba menolong tetapi tidak ada yang bisa kugapai. Aku selayaknya hal yang tidak terlihat di sini. Air mata yang kutahan luruh sudah. Bagaimana bisa kedua laki-laki itu sangat kasar kepada seorang perempuan lemah?

 

    Ariah tidak berhenti meronta, membuat salah satu kacung kewalahan dan dengan cepat mengeluarkan pisau dari sakunya lalu menusuk perut Ariah. Darah mengalir deras membasahi kebayanya. 

 

    Keduanya merasa panik dan melepas tubuh Ariah yang tampak mulai melemas. Mereka kabur meninggalkan jasad perempuan tidak bersalah yang mati mengenaskan itu.

 

    Aku menutup mulut. Tubuhku merosot dengan air mata mengalir. Setelah melihat semua adegan itu, sekelilingku berganti cahaya putih terang. 

 

    Aku menengadahkan kepala saat melihat kaki pucat yang berdiri di depanku. Ariah, si Manis yang malang. Dia tersenyum dengan air mata darah yang mengalir di pipi.

 

    "Kenapa kamu ingin menunjukkanku hal ini?” tanyaku sembari menangis.

 

    Dia tidak menjawab.

 

    "Kenapa kamu menghantui banyak orang? Bukankah dimensi kehidupan kita berbeda?”

 

    Dia tidak menjawab.

 

    "Kenapa kamu merenggut banyak nyawa? Apakah kamu kesepian?”

 

    Dia mengangguk.

 

    Ternyata, dirinya belum dapat melupakan kejadian keji itu. Aku paham apa yang dirasakannya. Sebuah denotasi di dalam dunia abu-abu ini yang menjadi alasan mengapa ia masih bergentayangan.

 

    "Apakah kamu ingin aku menemanimu?”

 

    Tiba-tiba tangannya mencekikku. Napasku sesak. Cekikannya bertambah erat. Aku semakin lemah hingga tanganku lunglai di samping badan tanpa dapat mencegahnya.

 

    Apakah aku akan mati?

 

    Tidak berapa lama kemudian, kegelapan pun menghampiriku.

 

                                                                           -0-0-

 

    "Uhuk, uhuk!” Aku terbatuk.

 

    Telingaku berdengung dan tubuhku dingin menggigil. Kelopak mataku terasa berat. samar-samar kumelihat banyak orang yang mengerubungiku. Bukankah aku seharusnya sudah mati?

 

    "Neng! Alhamdulillah,” ucap syukur seorang wanita paruh baya. Aku tidak dapat melihatnya jelas, tetapi tangan beliau mengusap kepalaku pelan. Aku meringis saat merasakan sakit di sekujur tubuhku. 

 

    "Papa … Mama?"

 

    Dua kata yang terlintas dalam benakku. Di mana mereka?

 

    Aku duduk dibantu oleh wanita paruh baya itu. Namun, saat aku menoleh ke samping kanan, ada dua tubuh yang tampak pucat dan kaku. 

 

    Aku terbelalak. “PAPA! MAMA!”

 

    Ternyata, teman yang diinginkan si Manis adalah kedua orang tuaku.

 

 

Tamat.

 

 

 

Karya: Siti Nurjanah (Sitichoi_)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buletin Info Natural Edisi 99

Ilustrasi Sampul Buletin Info Natural Edisi 99 Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Natural Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam...