Selasa, 02 Agustus 2022

Kenali dan Hindari Penyakit Menular, Cacar Monyet

Dok. Jurnalsutra

Saat ini tahukah Soral, kalau kita sedang menghadapi darurat kesehatan global. Hal ini menyusul belasan ribu kasus cacar monyet yang ditemukan di lebih dari 70 negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan kasus ini sebagai darurat kesehatan global. Lalu, tahukah soral apa itu penyakit cacar monyet?

Mengenal Penyakit Cacar Monyet

Cacar monyet atau Monkeypox adalah salah satu jenis penyakit langka yang disebabkan oleh virus dari genus orthopoxvirus yang merupakan penyebab cacar. Penyakit ini bisa menular dari hewan yang terinfeksi ke manusia karena adanya kontak langsung. Sementara itu, penularan antar manusia bisa terjadi karena adanya kontak jarak dekat dengan sekresi pernapasan atau luka terbuka dari orang yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi.

Penularan dari Hewan ke Manusia

Penularan infeksi pada manusia diakibatkan oleh kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau luka luar dari hewan yang terinfeksi. Infeksi virus juga bisa menular jika mengonsumsi daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak dengan benar. Beberapa hewan pembawa virus ini diantaranya, tikus berkantung raksasa gambian, dormouse hutan, tupai matahari, tupai tali, tikus bergaris, dan landak ekor-sikat.

Penularan dari Manusia ke Manusia

Penularan dari manusia-ke-manusia jarang terjadi, tetapi bisa saja terjadi melalui kontak dekat dengan cairan dari saluran pernapasan (air hidung, sputum atau dahak, dsb), luka kulit, atau benda yang baru saja terkena cairan atau luka dari pasien penderita Monkeypox. Namun, menurut 

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) kemungkinan penularan antar manusia sangat kecil. CDC menambahkan kemungkinan akan semakin besar apabila terjadi kontak tatap muka dalam radius enam kaki dan berlangsung minimal tiga jam dengan orang yang terinfeksi.

Lalu, Bagaimana gejalanya?

Gejala penyakit ini akan terlihat beberapa hari setelah terinfeksi, biasanya 6-16 hari, tapi terkadang 5-21 hari. Masa infeksi bisa dibagi menjadi dua, yaitu masa invasi dan masa erupsi kulit. Untuk masa invasi gejala diantaranya, demam, sakit kepala hebat, sakit punggung, nyeri otot, lemas, dan pembekakan kelenjar getah bening. Sedangkan, untuk masa erupsi kulit memiliki gejala diantaranya, muncul bintik-bintik merah (ruam) dimulai dari wajah lalu ke bagian tubuh lain, ruam berkembang dari bintik merah menjadi lepuh kecil berisi cairan, lalu lepuh menjadi nanah, terakhir lepuh mengeras menjadi kerak. Perkembangan ruam ini kira-kira berlangsung selama 10 hari.

Bagaimana cara mencegah penyakit ini?

Pencegahan bisa dilakukan dengan pemberian vaksin cacar (Jynneos) yang sudah diakui oleh FDA. Kemudian, beberapa hal lain yang bisa dilakukan, diantaranya:

1. Menghindari kontak langsung dengan tikus, primata, atau hewan liar lainnya yang mungkin terpapar virus (termasuk kontak dengan hewan yang mati di daerah terinfeksi).

2. Menghindari kontak dengan benda apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah disinggahi oleh hewan yang sakit.

3. Tidak makan daging hewan liar yang tidak dimasak dengan baik.

4. Menjauhkan diri sebisa mungkin dari pasien yang terinfeksi.

5. Bagi petugas medis, gunakanlah masker dan sarung tangan saat menangani orang yang sakit.

Demikian ulasan mengenai penyakit cacar monyet, tetap jaga kesehatan ya soral. Seperti kata Virgil, kekayaan terbesar adalah kesehatan.

(Sandi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menuju Kancah Internasional, FMIPA Unila Torehkan Prestasi di Berbagai Bidang

  Dok. Natural Rapat Luar Biasa Senat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) dalam rangka Dies Na...